Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
192


__ADS_3

“Anu ... bisakah kamu melepaskan tanganku?”


Baru saja beberapa meter berjalan, suara Satoru terdengar.


Saat itu, Natsumi yang tanpa sadar menarik tangan pemuda itu langsung melepaskannya. Dia menoleh ke arah Satoru, hendak memarahinya. Namun melihat pemuda yang sedikit malu itu, wajahnya juga ikut merah.


“Aku tidak sengaja! Berhenti malu-malu karena itu terlihat menjijikkan!”


“Aku tidak malu!” balas Satoru dingin dan tegas.


“Wajahmu merah!”


“Lihat wajahmu sendiri!”


“...”


Kedua remaja itu kemudian berjalan menuju kandang kuda tanpa mengucapkan sepatah kata.


Sesampainya di sana, Satoru langsung memandang ke arah Natsumi dengan ekspresi penuh keraguan. Bertanya-tanya dalam hatinya apakah gadis itu marah dan ingin membalas dendam sehingga sekarang membawanya ke depan kuda hitam yang baru kemarin menjatuhkannya.


“Ini ...” ucap Satoru dengan nada ragu.


“Jangan salah sangka. Aku membawamu kemari bukan untuk membuat masalah untukmu. Sebaliknya, aku ingin membuatmu berbaikan dengannya.


Meski terdengar bodoh, tetapi aku merasa kalau kalian berdua akan cocok.”


“Siapa yang akan cocok dengannya!” seru Satoru.


Kuda hitam juga menatap ke arah Natsumi. Meski tidak begitu cerdas, dia masih memandang gadis itu dengan jijik. Tampaknya tidak setuju dengan ucapannya.


‘Apakah kuda memang sepintar itu?’


Melihat bagaimana kuda hitam itu berekspresi, Satoru mulai meragukan pengetahuannya.


“Kouhai-kun. Karena kamu yang membuat masalah pertama kali, maka kamu harus minta maaf.”


“Minta maaf? Pada kuda ini?” tanya Satoru ragu.


“Tentu saja! Kamu bisa memberinya ini sebagai permintaan maaf!” ucap Natsumi sambil memberi Satoru seember wortel.


“Kapan kamu membawanya?” Satoru benar-benar tercengan.


“Tidak perlu memikirkan hal kurang penting itu. Apa yang sekarang kamu harus lakukan hanya minta maaf.”


“...”

__ADS_1


Satoru menerima seember wortel dengan ekspresi penuh keraguan. Melihat mulut kuda itu, pemuda tersebut semakin ragu.


“Jika digigit, bukankah jariku akan putus? Paling tidak akan patah kan?”


“Kamu terlalu banyak berpikir!” ucap Natsumi tidak puas.


“Kita harus memikirkan semua resiko dan-“


“Jika terlalu banyak berpikir, kamu tidak akan membuat pergerakan. Berjalanlah pelan-pelan sambil memikirkannya, jangan hanya diam.”


Mendengar ucapan Natsumi, Satoru merasa tertampar. Pemuda itu kemudian menatap kuda hitam di depannya.


Saat itu, dua pasang mata saling memandang dalam diam.


Ketika menatap kuda itu, Satoru tiba-tiba teringat banyak orang dewasa yang memandangnya sebagai ‘alat’. Berpikir untuk menggunakannya agar bisa mendekati kakeknya dan mendapatkan keuntung. Tersenyum ramah, padahal hanya kemunafikan dimana mereka sebenarnya memiliki alasan tidak murni.


Memikirkan masa kanak-kanak seperti itu, Satoru menghela napas panjang. Dia sedikit membungkuk lalu berkata dengan ekspresi lebih lembut.


“Maafkan aku karena hanya menganggapmu sebagai alat, tunggangan keren, atau barang mati. Kamu memiliki kehidupan. Bahkan jika kamu binatang, kamu juga memiliki perasaan. Tidak sepantasnya aku memperlakukanmu dengan cara seperti itu.”


Mengambil wortel besar lalu memberikannya kepada kuda di depannya, sekali lagi pemuda itu berkata dengan lembut.


“Maukah kamu memaafkanku?”


Meski tidak tahu omong kosong yang pemuda itu katakan, kuda hitam tersebut bisa merasakan permintaan maaf dan ketulusan dari sorot mata pemuda itu. Jadi sikapnya juga melembut.


“Pfft!”


Saat Satoru merasa bahagia, suara Natsumi yang menahan tawa terdengar di telinganya. Saat menoleh, dia melihat gadis itu menahan tawa sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Apa yang lucu?”


“Hahaha! Itu benar-benar lucu, Kouhai-kun? Memangnya kamu pikir kuda itu bisa mengerti ucapan manusia? Meski paham, itu hanya sedikit. Ucapan panjang lebar itu sia-sia.


Kamu benar-benar terlihat lucu. Padahal kamu hanya perlu menunjukkan sedikit ketulusan dan mereka akan mengerti. Apakah kamu bahkan tahu itu?”


Sudut bibir Satoru berkedut. Dia ingin marah, tetapi akhirnya hanya menghela napas panjang. Walau menyebalkan, pemuda itu mengakui kalau sekarang dirinya merasa lebih baik berkat Natsumi.


“Kamu tidak marah?” Natsumi memiringkan kepala, menatap Satoru dengan heran.


“Aku sudah dewasa. Tidak perlu marah-marah tidak jelas seperti seseorang yang tiba-tiba marah tanpa alasan.”


“Hmph!”


Mendengar sindiran Satoru, Natsumi langsung mendengus dingin. Sesaat kemudian, dia tiba-tiba menyeringai.

__ADS_1


“Karena kalian sudah berbaikan, bagaimana kalau mencoba mengendarainya?”


“Hah?!”


Mendengar ucapan sembrono Natsumi, Satoru benar-benar tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu akan memberi saran seperti itu. Lagipula, berkuda tanpa izin guru pembimbing dan tanpa pengawasan itu dilarang.


Satoru hendak menolak. Namun ketika melihat senyum di wajah Natsumi lalu ke arah kuda hitam yang makan wortel, pemuda itu menjadi ragu.


“Kemarin kamu belum mencobanya dengan benar. Tidak masalah menggantinya dengan hari ini kan?”


“Bisikan setan,” gumam Satoru sambil mengerutkan kening.


Memikirkan bagaimana rasanya menunggang kuda dengan normal, Satoru menjadi semakin ragu. Dia berpikir apakah itu akan nyaman. Pemuda itu mempertanyakan bagaimana guncangannya, apakah masih membuat kedua sisi paha sakit, dan berbagai pertanyaan lainnya.


“Aku ...” Satoru menggertakkan gigi. “Baiklah.”


Natsumi langsung tersenyum manis ketika mendengarkan jawaban Satoru. Gadis itu kemudian membimbing juniornya untuk memakaikan peralatan pada kuda.


Awalnya Satoru merasa ragu apakah akan ditendang kuda atau tidak. Namun melihat si kuda hitam dan kuda coklat yang menurut, pemuda itu menjadi cukup puas.


Tanpa sepengetahuan rekan-rekan dari klub berkuda, Natsumi dan Satoru mengeluarkan kuda dari kandang, membawanya ke lapangan berkuda.


Sampai di sana, Satoru melihat Natsumi langsung menaiki kuda. Merasakan keraguan, pemuda itu menatap si kuda hitam. Mengelus kepala kuda itu dengan lembut, dia akhirnya memberanikan diri untuk naik. Tidak terlalu cepat atau lambat, tidak keras atau lembut.


Pada saat naik ke punggung kuda, Satoru sedikit menunduk dan mencengkeram erat tali kekang tanpa menariknya. Bohong jika dia berkata kalau dirinya tidak gugup. Memikirkan kalau dirinya mungkin saja akan jatuh lebih keras, diinjak dan mematahkan beberapa tulang tentu membuatnya agak takut.


Saat itu, suara Natsumi terdengar.


“Angkat kepalamu tinggi-tinggi, Satoru-kun!”


Mendengar itu, Satoru tanpa sadar mengangkat kepalanya. Saat itu, pemuda tersebut melihat mentari pagi yang begitu indah, mewarnai langit dan dunia dengan warna kemerahan.


Merasakan embusan angin pagi menerpa wajahnya, perasaan gugup Satoru tiba-tiba menghilang begitu saja.


Satoru tidak menginjak tanah, tetapi dia merasa kalau dirinya terhubung ke tanah lewat kuda hitam di bawahnya. Dia juga bisa melihat pemandangan dari tempat lebih tinggi, merasakan luas dan indahnya dunia.


Pemuda itu merasa aneh. Meski sering berada di gedung tinggi, tetapi dia merasakan perasaan berbeda dengan apa yang dirasakan hari ini.


Satoru melihat kuda hitam yang menatapnya dengan tenang. Rasanya seperti bertanya apakah mereka akan berjalan. Benar-benar berbeda dari perasaan marah yang kemarin dia rasakan.


Pemuda itu mengelus lembut leher kuda hitam. Setelah itu, dia kembali duduk tegak lalu menoleh ke arah Natsumi. Memiliki senyum lembut di wajahnya, pemuda itu membuka mulutnya.


“Terima kasih, Natsumi.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2