Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Undangan Mengejutkan


__ADS_3

Keesokan paginya.


Lily yang baru saja bangun tidur berjalan menuju ke kamar mandi di belakang. Pada saat melewati dapur, dia melihat sosok Arthur yang sedang sibuk menyiapkan bahan. Sambil menggosok matanya, gadis kecil itu bertanya.


“Arthur, kamu sedang apa?”


“Oh? Selamat pagi, Lily. Aku ingin membuat sesuatu dari labu kuning pemberian orang kemarin. Kamu tahu? Meski santai, terkadang aku merasa bosan dan ingin melakukan sesuatu.”


“Arthur, mau buat apa?” tanya Lily dengan mata berbinar.


“Kue lumpur.”


“Eh?”


Mendengar ucapan Arthur, Lisa merasa bingung.


“Kue lumpur adalah kue tradisional dari suatu negara, jenis kue basah. Sebenarnya, kue itu dikenalkan oleh penjajah. Kue itu terinspirasi dari pasteis de nata, jenis kue yang terbuat dari custard, yang merupakan campuran susu dan kuning telut.


Hanya saja, resep adonannya disesuaikan dengan bahan yang ada dan sering ditemui di tempat. Seiring perkembangan waktu, bahannya diubah dari kentang menjadi beberapa bahan lain. Misalnya yang ingin aku buat, aku ganti menjadi labu kuning.


Ah? Apakah itu membingungkan? Pergi ke kamar mandi, jangan lupa cuci muka dan menggosok gigi. Tunggu saja, nanti kamu bisa melihat dan merasakannya sendiri.”


“Ya.”


Lily yang awalnya tampak linglung mengangguk patuh. Dia kemudian segera pergi menuju ke kamar mandi. Lagipula, gadis itu sendiri tidak tahu apa yang terjadi di kerajaannya, jadi membahas sejarah di berbagai negara di dunia lain jelas membuatnya semakin kebingungan.


Bahan yang dibutuhkan adalah labu kuning kukus, telur ayam, tepung terigu, gula pasir, margarin yang dicairkan, santan kelapa, dan beberapa kismis untuk hiasan di atasnya.


Cara membuatnya, pertama kocok telur dengan gula sampai larut dengan whisk. Setelah itu masukkan labu kuning dan santan, lalu aduk rata. Tambahkan terigu, aduk perlahan. Masukkan margarin cair, aduk ratas.


Panaskan cetakan kuae, olesi dengan sedikit margarin. Tuang adonan hingga ¾ bagian cetakan. Saat sudah setengah matang, beri kismis di atasnya. Tutup cetakan dan panggang kue lumpur hingga matang.


Setelah matang, tinggal angkat dan sajikan.


Ketika kue lumpur matang, entah sejak kapan, Lily telah duduk di kursi dengan dua kaki kecil yang terus berayun. Gadis kecil itu melihat ke arah Arthur dengan ekspresi penuh semangat.

__ADS_1


“Tunggu sebentar, masih panas. Makan ketika hangat, ok?”


“Ya.” Lily mengangguk patuh. Dia kemudian memiringkan kepalanya. “Arthur, bagaimana dengan Joi?”


“Oh, Joe tidak akan kembali sampai minggu depan. Tampaknya ingin berlarih di hutan, atau setidaknya seperti itu? Aku benar-benar tidak tahu jalan pikirannya.”


Arthur mengangkat bahu. Mendengar ucapan pemuda itu, Lily juga mengangguk ringan. Keduanya pun makan bersama kemudian. Benar-benar tidak begitu memikirkan Jotaro karena mereka yakin kalau pria itu pasti akan baik-baik saja.


***


Sore harinya.


“Arthur, Arthur ... aku bosan.”


Duduk santai di teras belakang rumah, Lily menatap Arthur. Mereka benar-benar hanya bersantai, makan, dan minum sesuatu seharian. Sebagai ‘anak kecil’, gadis itu tentu saja merasa tidak nyaman.


“Lalu, apa yang ingin kamu mainkan, Lily?”


“Memancing?” Lily memiringkan kepalanya.


Arthur tertegun. Mengingat pengalaman gelap dengan ember kosong, pemuda itu merasa enggan memancing. Kalau dipikir-pikir, dia biasanya kurang beruntung ketika memancing. Seperti ketika di sungai, dia hampir tidak beruntung. Ketika di danau, ikan yang dia tangkap benar-benar digigit separuhnya oleh hantu air.


Arthur merasa, lebih baik berjemur santai bolak-balik seperti ikan asin daripada harus memancing dan merasa tertekan ketika pulang.


“Bukankah memancing juga membosankan? Apakah ada hal lain yang kamu inginkan?”


“Lalu, apa yang akan kita lakukan, Arthur?”


“Bagaimana kalau bermain sambil belajar mengontrol kekuatanmu?”


“Mengontrol kekuatan?” Lily tampak bingung.


Melihat Lily yang kebingungan, pemuda itu bangkit. Dia kemudian berjalan menuju ke halaman. Pemuda itu kemudian menggunakan trik bola api sederhana. Setelah itu, barulah dia berkata.


“Cara ini sebenarnya sederhana. Hanya saja, apa yang aku inginkan adalah cara kamu mengontrol api ini. Contohnya seperti ini.”

__ADS_1


Bola api seukuran bola volly yang mengambang di atas jari telunjuk Arthur tiba-tiba menjadi lebih kecil. Setelah itu, berubah dengan cara sebaliknya, menjadi lebih besar. Pemuda itu kemudian menjentikkan jari, satu bola api besar langsung berubah menjadi empat bola api berukuran kecil. Sekali lagi menjentikkan jari, bola api langsung menghilang.


“Seperti yang kamu tahu. Ini adalah latihan kontrol energi qi dengan trik sederhana. Kamu memiliki energi qi tipe api yang sangat kuat dan kapasitasnya banyak. Namun kamu sama sekali tidak bisa mengendalikannya.


Kamu biasanya menggunakan payung, lalu langsung mengayunkan ke musuh, membakar musuh dengan cara acak. Hal semacam itu biasanya kurang efektif untuk bertarung melawan musuh dengan kekuatan setara. Jadi kamu harus mempelajarinya, ok?”


“Ya.”


Mendengar penjelasan Arthur, Lily mengangguk dengan ekspresi serius. Alih-alih tampak tegas, dia malah tampak begitu imut. Tampaknya cukup tertarik bermain-main dengan hal semacam itu.


Setelah bimbingan sederhana dan singgat, Arthur membiarkan Lily mulai berlatih. Dia sendiri duduk di teras sambil menikmati waktu santai. Benar-benar hidup dengan nyaman. Tidak memikirkan apa yang perlu dilakukan, tidak kekurangan uang, dan hidup benar-benar nyaman.


Perlahan tapi pasti, waktu berlalu.


Malam harinya, Arthur dan Lily makan malam bersama. Usai makan malam, mereka duduk sebentar.


Arthur memangku gadis itu sambil mengelus kepalanya. Dia menceritakan beberapa dongeng kepadanya. Bisa dibilang, menceritakan dongeng sebelum tidur seperti apa yang orang tua biasanya lakukan.


Usai Lily tertidur, Arthur membawanya ke kamar. Menutupinya dengan selimut, lalu pergi menuju ke kamarnya sendiri. Baru saja ingin berbaring, pemuda itu terkejut ketika mendapatkan pesan dari lencana miliknya.


‘Tidak bisakah mereka melihat waktu? Jika tidak melakukannya tadi sore, seharusnya mereka menghubungiku besok!’


Meski mengeluh dalam hati, Arthur masih menerima besan dari atasan. Ketika membaca informasi yang diberikan, mata pemuda itu berkedip.


“Hah?! Divisi 9? Aku sama sekali tidak mengenal mereka, kan? Kenapa mereka menghubungiku? Meminta bantuan?”


Setelah membaca informasi dengan cermat, Arthur akhirnya mengerti. Sebenarnya, Divisi 9 meminta Arthur untuk membantu mereka dalam melakukan sebuah misi. Orang itu menghubunginya karena beberapa alasan. Alasan utamanya adalah lokasi mereka yang tidak terlalu jauh, dan musuh yang akan dihadapi adalah jenis monster, yang merupakan target Arthur.


Meski awalnya sedikit bingung, pemuda itu akhirnya memilih untuk pergi setelah memikirkannya baik-baik. Alasannya sebenarnya cukup sederhana. Dia merasa agak bosan, jadi memburu beberapa monster untuk dimasukkan ke dalam ‘kulkas’ bukanlah suatu pilihan buruk. Selain itu, dia juga merasa cukup penasaran dengan divisi lainnya.


Menurut informasi, kasus dimana sebuah divisi hanya terdiri beberapa orang seperti Divisi 6 yang dipimpin oleh Arima itu jarang. Biasanya, jumlah anggota divisi lain cukup banyak dan memiliki keunikan tersendiri. Oleh karena itu ...


Arthur berencana untuk pergi melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2