Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
185


__ADS_3

“TIDAK BOLEH!”


Pada saat Natsumi selesai berbicara, suara Pak Sengoku terdengar. Pria paruh baya itu tiba-tiba muncul entah dari mana lalu menatap Satoru dan Ono dengan ekspresi garang.


“Cih!”


Sadar kalau rencananya diketahui oleh Pak Sengoku, Natsumi berdecak tak puas. Tampaknya tidak begitu peduli dengan kemarahan orang itu.


“Natsumi,” panggil Pak Sengoku dengan ekspresi muram.


“Diamlah Paman! Jika kamu tidak mempromosikannya dan membiarkan para pemula mencoba, bagaimana bisa adik-adik kelas tertarik? Jika seperti ini, klub berkuda akan jatuh cepat atau lambat!” balas Natsumi dengan ekspresi tegas.


“Kuda itu adalah makhluk spesial, rekan para pejuang yang bergegas ke medan perang. Mereka adalah rekan baik manusia yang saling menolong sejak waktu yang sangat lama! Bagaimana aku bisa membiarkan seorang bocah menaikinya tanpa tahu seberapa penting dan terhormatnya para kuda tersebut!”


Melihat ekspresi fanatik di wajah Pak Sengoku, Satoru langsung tercengang. Petunjuk baru ini membuatnya semakin yakin kalau guru-guru di sekolah ini sama sekali tidak normal!


“Diamlah Paman bodoh pecinta kuda dan perang! Ini adalah era modern, berkuda adalah olahraga! Jangan lihat mereka sebagai tunggangan perang!”


“Panggil aku Sengoku-sensei! Selain itu, menaiki kuda dan berperang adalah romansa seorang pria! Apa yang salah dengan itu?!” teriak Pak Sengoku.


“Itulah kenapa nenek selalu mengkhawatirkanmu! Otakmu hanya dipenuhi dengan hal-hal semacam itu, jadi sampai sekarang kamu belum memiliki istri dan anak meski berusia tiga puluhan!”


“Gadis kecil sepertimu tahu kentut! Apa yang kamu ketahui tentang cinta? Selain itu, alasan kenapa aku belum menikah karena belum ada wanita yang pantas untuk jenderal ini!”


Melihat ekspresi Pak Sengoku yang begitu bangga, sudut bibir Natsumi berkedut keras.


Sementara itu, dua penonton lain, Satoru dan Ono saling memandang dengan senyum masam di wajah mereka. Keduanya sama sekali tidak tahu kenapa mereka yang ingin melihat klub malah terlibat pertengkaran paman dan keponakannya.


“Uhuk! Uhuk!”


Satoru pura-pura batuk. Pemuda itu mengangkat tangan kanannya lalu berkata, “Karena kalian sepertinya sibuk, maka saya akan datang lain kali. Kalau begitu, permisi.”


Setelah mengatakan itu, Satoru langsung berbalik dan berjalan pergi dengan cepat. Langsung menghilang dari hadapan orang-orang.


Ono yang melihat Satoru pergi secepat embusan angin langsung membungkuk pada Pak Sengoku dan Natsumi lalu menyusul pemuda itu sambil berteriak.


“Tunggu aku Satoru-san!”


Melihat keduanya pergi, Natsumi langsung berkata, “Ini salahmu Paman!”


“Ngaca, Gadis Bau!” teriak Pak Sengoku.


Dengan begitu perdebatan antara paman dan keponakannya pun kembali berlanjut.

__ADS_1


***


Sore hari setelah pelajaran berakhir.


Berbaring di ranjang sambil menatap ke langit-langit dengan ekspresi kosong, Satoru menghela napas panjang.


“Ini benar-benar tidak berguna.”


Melihat wajah Satoru, Takeo akhirnya tidak bisa menahan diri untuk berkata, “Bagaimana kalau ikut ekskul olahraga? Baseball atau sepak bola?”


“Aku tidak tertarik dengan hal semacam itu.”


“Bagaimana kalau ikut ekskul penelitian pangan sepertiku?” tanya Manabu.


“Penelitian pangan?”


“Singkatnya, itu adalah klub untuk meneliti berbagai hasil olahan yang bisa dibuat dari hasil pertanian dan peternakan. Ya, khususnya peternakan dan susu sapi yang paling banyak diproduksi di wilayah ini.”


“Itu agak menarik,” gumam Satoru.


“Apakah kamu benar-benar menolak undangan Natsumi-senpai, Satoru-san?”


Mendengar pertanyaan itu, semua orang langsung menoleh ke arah Ono. Beberapa saat kemudian, Takeo dan Manabu menatap ke arah Satoru dengan ekspresi curiga.


“Aku hampir menduganya, tetapi tidak menyangka kalau akan secepat ini,” gumam Manabu dengan wajah tertekan.


“Apa yang kalian bicarakan? Aku dan Natsumi-senpai? Kami bahkan baru bertemu dua kali. Apa yang kalian harapkan dari itu?”


Setelah mengatakan itu, Satoru melirik ke arah Ono. Merasakan tatapannya, pemuda itu langsung menjadi gugup. Melihat respon itu, dia tidak bisa tidak mengangkat alisnya.


“Cara bertanyamu ditambah ekspresi lega ketika aku berkata kalau kami berdua tidak memiliki hubungan membuatku curiga. Katakan padaku Ono, apakah kamu menyukai Natsumi-senpai?”


“S-Suka? Aku bahkan tidak mengenalnya!” sangkal Ono dengan sedikit rona di wajahnya.


“...”


Melihat respon Ono, Satoru dan dua rekan lainnya saling memandang. Saat itu mereka tahu, tampaknya teman satu kamar mereka telah jatuh cinta pada senior bahkan sebelum minggu pertama sekolah berakhir.


“B-Bukannya aku menyukai Natsumi-senpai. Hanya saja, dia cantik, lincah, ramah, dan baik. Itu membuat kita merasa nyaman ketika berada di sekitarnya. Hanya itu!”


“Ya, ya, ya. Hanya itu,” balas Satoru dengan nada datar.


Berbeda dengan Satoru yang tampak datar dan kurang mempedulikan hal semacam itu, Takeo langsung menghampiri Ono lalu merangkul dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


“Jangan mencoba menyembunyikannya dari kami, Sobat. Apakah itu cinta pada pandangan pertama? Atau apa?”


“A-Aku hanya sedikit berterima kasih padanya. Pada saat pertama kali datang dan agak bingung, dialah yang membantuku. Jadi ketika bertemu dengannya lagi di klub berkuda ...”


“Rasanya seperti takdir?” tanya Takeo dan Manabu bersamaan.


“...”


Ono tidak mengatakan apa-apa, tetapi pipi agak merah sudah menjadi jawabannya.


“Kalau begitu setidaknya sapa dia ketika bertemu.”


Saat itu, suara Satoru yang datar dan tanpa perasaan terdengar. Ucapan pemuda itu jelas langsung membuat Ono tertegun, bahkan Takeo dan Manabu merubah ekspresinya.


“Berbicara dengan gadis yang kamu kagumi tidak semudah itu, Sobat!” ucap Takeo dengan agak emosional.


“Kali aku juga setuju dengan Takeo, Satoru-san.”


Mendengar itu, Satoru duduk di atas ranjang. Pemuda itu kemudian menopang dagu. Memiliki ekspresi malas di wajahnya, ucapan dingin keluar dari mulutnya.


“Oh? Kalau begitu apa yang ingin kalian lakukan? Diam saja sampai melihatnya pergi dengan orang lain?”


“Apakah kamu pikir gadis itu adalah manusia super? Tahu apa yang kamu inginkan jika tidak mengatakan apa-apa? Jangankan para perempuan yang rumit, aku saja tidak akan tahu apa yang kamu butuhkan jika kamu tidak berbicara.”


“Jika tidak memiliki keberanian untuk mengejar, maka buang perasaan itu agar tidak menyakitimu. Aku tidak ingin melihat temanku menenggelamkan diri ke laut karena merasa ditolak padahal tidak melakukan apa-apa.”


Mendengar ucapan setajam pedang yang dilemparkan oleh pemuda tampan yang tampak seperti ksatria itu membuat Ono, Takeo, dan Manabu merasa kesakitan.


Rasanya seperti ditikam senjata tajam berulang kali! Benar-benar tidak tertahankan!


Meski begitu, ketiga orang itu juga menatap ke arah Satoru dengan ekspresi kagum. Seolah mengingat sesuatu, Takeo bertanya dengan ekspresi bersemangat di wajahnya.


“Kamu dari Tokyo kan, Sobat? Kamu pasti memiliki banyak pengalaman dalam cinta! Lagipula, kamu dari Tokyo!”


Mendengar itu, Satoru tercengang. Belum lagi ketika dia melihat tatapan penuh harap dari Ono dan Manabu. Pemuda itu benar-benar kehilangan kata-kata.


‘Apa kalian pikir tinggal di Tokyo berarti bermain cinta monyet semacam itu? Terlebih lagi, bukankah itu SMP? Cinta apa? Belajar saja yang rajin!’


Satoru mengeluh dalam hatinya. Merasakan tatapan penasaran dari ketiga temannya, pemuda itu merasa sedikit menyesal karena telah memberi mereka saran.


Lagipula, cara otak orang-orang itu bekerja tampaknya tidak sama dengannya!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2