
Selesai mendengarkan pidato di pagi hari, murid-murid pergi ke kelas mereka.
“Apakah ada yang salah?”
Satoru melirik ke arah Ono yang berjalan di sampingnya. Berbeda dengannya yang tenang, pemda itu tampaknya sangat cemas. Bahkan ucapannya membuat Ono tampak terkejut.
Memiliki ekspresi penuh dengan keraguan, Ono bertanya dengan suara rendah.
“Jika boleh tahu, apa alasan kamu datang ke tempat ini, Satoru-san?”
Satoru tidak langsung menjawab. Melihat kulit Ono yang agak pucat, dia akhirnya berkata, “Ujian.”
“Ujian?” gumam Ono dengan ekspresi linglung.
Satoru sama sekali tidak menjelaskan secara lebih. Apa yang pemuda itu katakan adalah kebenaran. Alasan kenapa dia adalah ujian yang diberikan kakeknya kepadanya. Pemuda itu menerima ujian itu karena tidak memiliki cara lain.
Selain itu, Satoru juga ingin membuktikan diri dan membuat mata kakeknya terbuka.
Ono melihat ke arah Satoru yang memasang ekspresi serius lalu menghela napas panjang. Dia kemudian berpikir sambil menggeleng ringan.
‘Sepertinya kita memang jauh berbeda.’
Masuk ke dalam kelas, keduanya pergi ke tempat duduk yang telah diatur. Beberapa saat kemudian, sosok pria paruh baya yang memakai seragam guru masuk ke dalam kelas.
“Perkenalkan, namaku Aikawa. Kalian bisa memanggilku Aikawa-sensei, wali kelas kalian selama tiga tahun ke depan.”
Setelah mengatakan itu, Pak Aikawa melihat seluruh kelas sebentar sebelum melanjutkan.
“Meski kalian mungkin mengenal beberapa rekan satu kelas karena bertemu di asrama, untuk lebih baiknya, aku ingin kalian memperkenalkan diri.”
Dengan begitu, Pak Aikawa mulai melakukan absensi, memanggil satu per satu murid untuk memperkenalkan diri.
Setelah beberapa saat, nama Ono pun disebutkan. Melalui perkenalannya, orang-orang tampak terkejut karena tidak menyangka ada orang yang jauh-jauh dari SMP unggulan di Sapporo pergi ke pedesaan seperti ini.
Menunggu tidak terlalu lama, nama Satoru pun dipanggil. Dia berdiri lalu memperkenalkan diri dengan tenang.
“Perkenalkan, namaku Satoru dari SMP 1 Tokyo. Untuk hobi, mungkin membaca untuk menambah sedikit pengetahuan.”
Satoru membungkuk sedikit lalu kembali ke tempat duduknya.
Saat itu, murid-murid di kelas tampak terkejut. Banyak orang yang merasa penasaran dan mulai melemparkan berbagai pertanyaan. Namun, saat itu wali kelas tiba-tiba batuk.
“Uhuk! Uhuk! Nak Satoru datang karena ada kecelakaan di rumahnya, jadi akhirnya datang untuk menemui kerabat jauhnya dan bersekolah di Akademi Greenfield ini.”
__ADS_1
Mendengar itu, semua orang langsung menatap ke arah Satoru dengan ekspresi kasihan. Sementara itu, sudut bibir pemuda tersebut berkedut hebat. Meski alasan Pak Aikawa menyelamatkannya dari banyak masalah, dia masih merasa tidak nyaman ketika ditatap dengan cara seperti itu.
Setelah suasana agak mereda, Pak Aikawa kembali menjelaskan.
“Seperti yang kalian ketahui, karena banyaknya lahan untuk ditanami dan banyaknya hewan ternak, tidak ada hari libur.
Selain itu, kalian juga akan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menyelesaikan tugas harian dan praktik langsung. Piket di pagi dan pelajaran praktik di sore hari. Karena ini baru hari pertama, maka jadwal piket kalian baru dimulai besok.
Ada 40 di kelas dan akan dibagi menjadi delapan kelompok dengan anggota masing-masing 5 orang. Untuk siswi ada 8 orang, jadi hanya satu di setiap kelompok. Jadi siapa yang ingin mengundi duluan?”
Setelah para siswa-siswi mengambil kertas masing-masing, kelompok mereka pun akhirnya dibentuk.
Entah beruntung atau tidak, kebetulan Satoru berada di kelompok A dengan Ono dan tiga orang lain. Mereka bertiga memiliki penampilan cukup mencolok.
Pertama ada Daiki, pemuda tegap yang tinggi dengan wajah tegas. Dia lebih tinggi dari Satoru dan memiliki ekspresi serius di wajahnya. Tampaknya jenis orang yang tidak suka main-main.
Kedua ada Jiro, pemuda kurus dan pendek dengan rambut mohawk yang diwarnai kuning. Kebalikan dari Daiki, dia adalah sosok ceria yang suka mengoceh dan main-main.
Terakhir ada Chiaki, gadis mungil dan manis. Memiliki rambut panjang yang dikepang. Bukan hanya penampilannya yang menarik, dia juga ramah dan memiliki latar belakang baik. Setidaknya, selain Satoru, lebih baik dibandingkan rekan sekelas lainnya.
Melihat rekan satu kelompoknya, Satoru diam-diam mengeluh dalam hati karena tidak menyangka mendapatkan tim yang begitu unik. Tampaknya tidak terlalu normal!
Setelah berbicara bimbingan wali kelas selesai, mereka pun mulai pelajaran pertama hari ini yaitu olahraga.
“Genji-sensei?” gumam pemuda itu.
Merasakan tatapan Satoru, Pak Genjirou menoleh dengan seringai khasnya. Pria itu tertawa dengan ramah sambil menjelaskan.
“Guru olahraga kalian sedang ada kepentingan, jadi aku akan menggantikannya sementara waktu. Tenang saja, meski kalian ragu, aku juga memiliki sertifikat sebagai guru olahraga.”
Mendengar itu, Satoru terkejut. Dia tidak menyangka kalau Pak Genjirou yang tampak alakadarnya ternyata adalah sarjana dengan gelar ganda. Saat itu, dia merasa pandangan dunia langsung disegarkan.
Merasa telah melihat angsa bertelur emas, gajah melompat, bahkan seekor babi bisa terbang!
(Merasa sangat terkejut dan tidak masuk akal.)
“Dibalik tubuh yang sehat, ada jiwa yang kuat! Untuk memastikan kalian memiliki fisik yang baik, maka kalian harus berolahraga dengan serius.
Setelah pemanasan untuk melenturkan otot, semua orang akan berlari mengelilingi sekolah satu kali!
Ah! Tentu saja, bukan hanya di sekitar bangunan utama, tetapi seluruh sekolah termasuk sawah, perkebunan, dan hutan. Kurang lebih ... sekitar 20 kilometer!”
Mendengar itu, sudut bibir orang-orang berkedut. Mereka jelas tidak menyangka pelajaran olahraga yang biasanya santai benar-benar langsung berubah menjadi latihan fisik semacam itu.
__ADS_1
Mengikuti instruksi dari Pak Genjirou, mereka pun akhirnya mulai berlari.
Setelah berlari mengelilingi sekolah dan kembali ke lapangan, Satoru tampak terkejut.
Selain Ono yang memiliki fisik sangat buruk sehingga bisa pingsan kapan saja, hampir semuanya tampak kelelahan kecuali satu orang dan pemuda itu adalah Daiki.
Hal tersebut jelas membuat Satoru yang biasanya unggul merasa terkejut. Lagipula, dia tidak percaya kalau ada teman sekelasnya yang dilatih sejak kecil dengan gila seperti dirinya.
Merasakan tatapan Satoru, Daiki menoleh. Dia menyeka keringat dengan handuk tanpa mengatakan apa-apa.
Mengepalkan tangannya, Satoru sedikit mengangkat sudut bibirnya.
‘Menarik! Aku tidak menyangka selain kebanyakan orang yang cukup bugar, ada orang seperti itu di tempat terpencil semacam ini!’
Ketika jam olahraga selesai, mereka semua berganti pakaian lalu melanjutkan pelajaran berikutnya. Hanya saja, mata pelajaran itu membuat Satoru merasa skeptis.
Mata pelajaran biasa jelas lebih mudah daripada yang dia pelajari ketika di SMP. Selain itu, bukunya juga jauh lebih tipis.
Mungkin yang membuatnya sedikit kesulitan adalah mata pelajaran jurusan. Namun, pemuda itu masih diam dan memperhatikan dengan baik. Meski tidak menguasai dengan sempurna, setidaknya terlalu parah.
Pada saat jam makan siang, semua orang pergi ke kantin untuk makan. Karena pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, Satoru sedikit terlambat.
Di lorong, dia bertemu dengan gadis yang ada di kelompok sama dengannya.
“Itu semua bohong kan?”
Mendengar itu, Satoru menoleh. Gadis itu, Chiaki menatapnya dengan senyum lalu berkata.
“Seharusnya ada alasan lain kenapa kamu datang dari Tokyo. Selain itu, tampaknya para guru sangat mengenalmu dan memperlakukanmu dengan baik. Namun itu sama sekali tidak masalah.”
Chiaki berjalan di sisi Satoru, gadis itu bicara dengan suara yang hanya bisa mereka dengar. Menepuk pundaknya, Chiaki berjalan menjauh dengan senyum ramah di wajahnya.
“Tidak peduli apa yang kamu sembunyikan. Bahkan jika kamu tidak bicara ...”
“Cepat atau lambat aku akan mengungkap kebenarnya.”
Mendengar itu, mata Satoru menyepit. Sudut bibirnya sedikit naik.
Daiki yang memiliki fisik luar biasa, Chiaki yang cerdas dan tidak bisa diremehkan, Ono yang menyembunyikan sesuatu ...
Satoru tidak menyangka kalau akan bertemu dengan orang-orang menarik semacam itu.
>> Bersambung.
__ADS_1