Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
165


__ADS_3

“Maafkan aku Arthur.”


Mendengar Lily yang tiba-tiba minta maaf, Arthur tampak bingung.


“Kenapa kamu minta maaf Lily?” tanya pemuda itu.


“Aku sudah membuatmu kerepotan.”


Melihat Lily yang merasa bersalah, ekspresi Arthur menjadi lebih lembut. Memasang senyum di wajahnya, pemuda itu membalas dengan nada santai.


“Tenang saja, Lily tidak membuatku kerepotan.”


“Sungguh?” tanya Lily sambil menatap Arthur tepat ke matanya.


“Ya.”


Jawaban Arthur membuatnya merasa senang. Gadis kecil itu langsung melompat dalam pelukan pemuda tersebut sambil berkata, “Kamu yang terbaik, Arthur.”


Menggedong tubuh mungil Lily dengan tangan kiri dan mencolek hidung kecil gadis itu dengan jari telunjuknya, pemuda tersebut tersenyum ramah. Lily langsung menggosok hidungnya, tampak tidak puas. Setelah turun, dia pun mengikuti Arthur.


Pergi membeli hewan peliharaan yang cocok untuk gadis kecil itu.


Setelah beberapa waktu, mereka akhirnya sampai di toko hewan peliharaan terbaik di kota itu.


Sesampainya di sana, Arthur dan Lily langsung disambut dengan baik. Lagipula, berbeda di dunia sebelumnya dimana hewan peliharaan itu populer. Di dunia dimana mencari makan saja cukup sulit ini hewan peliharaan biasa tanpa kegunaan tertentu tidaklah populer.


Kecuali binatang seperti anjing yang digunakan untuk menjaga atau berburu, binatang peliharaan lain kurang diminati karena membuang-buang makanan. Jadi hanya beberapa bangsawan, atau minimal pedagang kaya yang mau membelinya.


Berbeda dengan pet shop di dunia sebelumnya yang dipajang per kandang di tempat mencolok dan rapi, di sini semuanya diletakkan dalam kandang besi agar tidak melarikan diri. Tampaknya diperlakukan seperti binatang buas.


“Jenis peliharaan macam apa yang kalian cari, Tuan dan Nona muda?”


Melihat penjual yang begitu antusias, Arthur menatap ke arah Lily. Lagipula, dia tidak memiliki minat untuk memelihara hewan peliharaan.


Jika memikirkannya lagi, Arthur masih mau memelihara hewan peliharaan seperti milik Arima. Penampilan luarnya memang anjing lucu dan tampak bodoh, tetapi bisa merubah wujudnya. Bahkan bisa memukuli kultivator semacam Joe sampai hitam dan biru.


‘Seandainya saja binatang semacam itu bisa ditemukan dan dikendalikan.’


Memikirkan itu saja, Arthur menggelengkan kepalanya. Pemuda itu masih menunggu Lily berbicara. Namun gadis kecil itu mencubit dagu, tampaknya berpikir sangat serius.


“Aku ... ingin binatang peliharaan yang lucu!”


Mendengar itu, Arthur dan pemilik toko tampak lega. Mereka menghela napas panjang, merasa beruntung karena permintaan Lily tidak aneh-aneh.

__ADS_1


“Bagaimana dengan kucing ini Nona? Terlihat lucu dan bulunya lembut.”


“Tidak!”


“Bagaimana dengan anjing ini Nona? Terlihat lucu, lincah, dan suka bermain?”


“Tidak! Terlalu kecil!”


“Bagaimana dengan anjing satu ini? Lebih besar dan tampak kuat. Bukan hanya terlihat elegan, tetapi bisa dilatih menjadi anjing penjaga.”


“Tidak! Lily ingin sesuatu yang lucu!”


“...”


Melihat gadis yang tampaknya sangat pilih-pilih, pemilik toko menatap Arthur. Tampaknya mulai ragu apakah mereka datang untuk membuat masalah atau tidak.


Sebagai tanggapan, Arthur hanya mengangkat bahu dengan ekspresi datar di wajahnya.


“OOOH! Arthur, Arthur ... lihat itu! Bukankah itu imut?”


Lily berjalan ke sudut. Selain toko hewan peliharaan, tempat ini juga menjual hewan yang bisa dikonsumsi. Datang ke tempat binatang konsumsi, gadis kecil itu mendekati kandang kelinci.


Di dalamnya tampak belasan kelinci kecil yang biasanya dibeli untuk dijadikan bibit. Di antara sekian banyak kelinci, tampak satu kelinci yang mencolok.


“Anda benar-benar memiliki penglihatan bagus Nona! Kelinci ini adalah kelinci aneh yang-“


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, penjual itu terdiam karena merasakan tatapan Arthur. Dia buru-buru batuk lalu menjelaskan.


“Sebenarnya kelinci ini lahir tanpa disengaja. Berbeda dengan saudara-saudarinya, kelinci ini mengalami mutasi. Saya tidak tahu apakah ini akan menjadi monster atau tidak.


Alasan kenapa saya membawanya kemari karena mungkin ada orang yang ingin mencoba mengembangkannya. Membuat ras kelinci baru yang mungkin lebih unggul.


Saya juga ragu apakah ada yang berani memeliharanya atau tidak. Jadi saya ingin mengambil resiko. Tidak menjualnya dan menjadikannya sebagai pajangan, menyembelihnya jika mulai menunjukkan pertanda aneh.”


“Sepuluh kali harga kelinci dewasa.” Arthur berkata datar.


“TERJUAL!” ucap pria itu dengan senyum mekar di wajahnya.


Mendengar itu, Arthur sama sekali tidak peduli. Bahkan baginya, harga itu masih terlalu murah. Namun dia juga mengerti. Bagi orang normal seperti mereka, monster baik atau jahat dianggap sebagai petaka. Sama sekali tidak ada bedanya.


“Apakah kamu memiliki makhluk aneh lainnya? Jika punya, aku bisa membelinya dengan harga tinggi.”


Pemiliki toko tersenyum masam ketika mendengarkan ucapan Arthur. Menghela napas panjang, dia berkata, “Jika bukan karena kelinci itu masih bayi dan tidak tampak berbahaya, saya tidak akan berani menjualnya Tuan. Apalagi makhluk lain yang tampak lebih berbahaya.”

__ADS_1


“Itu agak disesalkan.”


Arthur mengangguk ringan. Bertemu dengan kelinci itu saja sudah dianggap beruntung. Jadi dia tidak lagi tamak.


Sementara Arthur membayar, Lily yang membawa anak kelinci kecil itu terus terkikik.


Keluar dari toko, Arthur akhirnya bertanya, “Apakah ada yang lucu Lily?”


“Kelinci ini mirip denganmu Arthur.”


“En? Mirip denganku?”


“Mata agak mengantuk, ekspresi tak acuh tapi agak sombong, malah tapi percaya diri ... benar-benar mirip denganmu.”


“...”


Melihat kelinci kecil seperti yang dijelaskan Lily, Arthur kehilangan kata-kata. Dia ingin protes, tetapi tidak lagi mengambil hati. Biarkan gadis itu bersenang-senang.


“Karena dia memiliki tanduk kecil seperti mahkota, bagaimana kalau kita memanggilanya Ou-sama, Arthur?” tanya Lily dengan mata berbinar.


Arthur melihat kelinci di pelukan Lily. Makhluk itu sama sekali tidak meronta, dia saja di sana dengan ekspresi malas sekaligus sombong. Tampak seperti raja kecil yang konyol.


“Kalau begitu kita akan memanggilnya KING.”


“KING?”


“Ya. Itu artinya raja.”


Mendengar itu, Lily kembali terkikik. Tampaknya benar-benar puas dengan nama yang diberikan oleh Arthur.


Gadis itu mengangkat kelinci kecil lalu berkata, “Kalau begitu mulai sekarang namamu adalah KING.”


Arthur tersenyum ketika melihat Lily yang bahagia. Dia kemudian mengikuti gadis kecil tersebut ke pasar untuk membeli berbagai sayur dan buah. Tentu saja, selain untuk makanan KING, itu akan mereka makan atau jual.


Setelah selesai berbelanja, mereka berjalan pulang. Namun saat itu Lily memeluk kelinci putih itu dengan ekspresi serius.


“Apakah ada masalah?” tanya Arthur.


“Apakah KING adalah jantan, Arthur? Jika itu betina, apakah kita akan tetap memangggilnya KING?”


Pertanyaan Lily membuat Arthur juga tertegun. Dia kemudian mengambil kelinci kecil dari Lily lalu memeriksanya. Menyadari kalau KING benar-benar pejantan, Arthur menghela napas lega.


“Tenang saja Lily, KING memang pejantan asli. Sama sekali tidak ada drama betina pura-pura menjadi laki-laki agar bisa menjadi RAJA.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2