Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Tiba Di Sarang


__ADS_3

Waktu kembali berlalu, mentari pagi sekali lagi menampakkan wajahnya.


Saat itu juga, semua orang telah bersiap. Lima puluh lima mengikat tali ke pinggang mereka dengan ekspresi gugup di wajah mereka. Meski begitu, orang-orang itu juga merasa penuh harap. Banyak orang menatap ke arah Arthur. Meski gugup, mereka percaya kalau orang itu pasti bisa menuntun mereka.


Setelah itu, mereka pun berangkat.


Ketika berjalan melewati kabut tebal, mata Arthur langsung berubah menjadi emas. Dia langsung bisa melihat dengan jelas. Sambil menggendong Lily, pemuda itu berjalan perlahan tapi pasti. Orang-orang di belakangnya merasa gugup. Cara berjalan Arthur cukup cepat, hal tersebut membuat jantung mereka berpacu.


Merasa kalau sedikit meleset saja, mereka akan jatuh menjadi daging tumbuk.


Sambil takut, ingin menangis, berharap semua akan baik-baik saja. Mereka terus melangkah tanpa berhenti sebentar saja. Meski jaraknya tidak begitu jauh, orang-orang sudah berkeringat deras. Merasa kalau pemimpin mereka begitu sembrono. Menggertakkan gigi, mereka hanya bisa terus berjalan tanpa lagi peduli apakah akan tetap hidup atau mati.


Setengah jam kemudian, mereka semua akhirnya keluar dari kabut.


Pergi ke tempat cukup datar, mereka langsung memutus tali lalu berbaring di sana dengan wajah pucat. Tampaknya pengalaman setengah jam melewati kabut tanpa tahu arah benar-benar membuat mereka ketakutan. Bahkan Daiki sendiri juga agak pucat.


Awalnya, Daiki ingin terbang untuk menghindari kecelakaan. Namun karena takut kehilangan pamor sebagai pemimpin, dia pun akhirnya juga setuju mengikuti apa yang Arthur rencanakan.


“Arthur, Arthur ... Apakah kita sudah sampai?”


Lily menggosok matanya. Gadis itu memeriksa sekitar dengan ekspresi bingung. Apa yang sekarang bisa dia lihat adalah puncak gunung yang cukup jauh serta lautan awan kelabu yang sebelumnya mereka lewati.


Melihat Lily yang tidak peduli hidup dan mati, semua orang tersenyum pahit. Entah gadis itu tidak peduli hidup-matinya atau terlalu mempercayai Arthur, dia benar-benar bisa tidur ketika digendong. Padahal, semua anggota lain merasa kalau setengah jam begitu lama. Mereka mengalami senam jantung karena keputusan yang dibuat oleh Arthur.


“Astaga. Ini benar-benar berlebihan.”


Daiki berkata dengan ekspresi masam di wajahnya. Namun, ucapan aneh Arthur benar-benar membuat mereka terpana.


“Seharusnya kalian bersemangat. Lagipula, kalian bisa menangkap menangkap sesuatu yang sangat lezat.”


Mendengar itu, semua orang melihat ke arah Arthur. Setelah itu, mengalihkan pandangan ke arah pemuda itu menunjuk.

__ADS_1


Di kejauhan, tampak banyak domba gunung dengan tubuh besar, kekar, dan bulu tebal. Mereka memakan rerumputan yang anehnya bisa tumbuh cukup subur di ketinggian ini. Melihat makhluk-makhluk itu, mereka semua tertegun.


Berbeda dengan orang-orang itu, Arthur masih tampak biasa. Tentu saja, dia sendiri cukup bersemangat karena jenis domba gunung ini juga sangat langka. Meski tidak selangka Treant atau Cockatrice, tetapi masih dianggap kualitas baik. Dagingnya enak, bulu bisa dimanfaatkan, dan juga menghasilkan susu dalam jumlah cukup banyak.


Artinya, makhluk itu menguntungkan jika dipelihara!


Tentu saja, tidak semua orang bisa memeliharanya. Untuk mendapatkannya saja sudah sangat susah. Bukan hanya harus mendaki sampai tempat ini, tetapi makhluk tersebut juga lincah dan sulit ditangkap. Setelah ditangkap, membawanya turun juga merepotkan. Bahkan jika berhasil dibawa turun, cara membesarkan mereka tidak mudah.


Bisa dibilang, manusia biasa tidak akan bisa memelihara makhluk itu. Sedangkan kultivator kuat tidak akan repot-repot untuk memelihara makhluk semacam itu. Jika ingin makan, datang, bunuh, lalu masak. Mereka tidak perlu repot-repot membawanya turun apalagi membesarnya karena dianggap buang-buang waktu.


“Jika mendapatkan sepuluh, kita seharusnya bisa makan domba guling sepuasnya.”


Mendengar itu, semua orang tanpa sadar menelan ludah. Orang-orang yang awalnya tampak sekarat benar-benar bangkit. Mereka langsung menghunus pedang. Bergegas ke arah para domba dengan penuh semangat. Di mata mereka, para domba itu adalah daging panggang keemasan yang dilapisi madu. Benar-benar membuat mereka merasa tidak tertahankan!


Impian mudah dibuat, tetapi sulit diwujudkan. Itulah yang terjadi sekarang.


Orang-orang mengerjar domba gunung dengan sekuat tenaga. Namun makhluk-makhluk itu sangat lincah sampai-sampai bisa meninggalkan orang-orang yang mengejar mereka untuk makan debu mereka.


Setelah berpikir baik-baik, Arthur akhirnya bergerak sendiri. Dia berniat menangkap tiga pasang domba yang cukup muda. Bukan untuk memakannya karena daging mereka masih empuk. Pemuda itu ingin melemparkannya ke demiplane. Biarkan hidup di sana dan dirawat oleh para Treant.


Pada akhirnya, sekelompok orang berhasil menangkap tujuh domba dewasa. Jotaro dan Daiki masing-masing menangkap satu domba. Jadi, totalnya adalah sembilan domba.


Melihat Arthur kembali dengan tangan kosong karena tiga pasang domba muda telah dikirim ke demiplane, semua orang tampak bangga. Tampaknya mereka cukup puas karena telah mendapatkan bahan, sehingga Arthur bisa memasak untuk mereka.


“Kerja bagus, Teman-teman.”


Setelah mengatakan itu, Arthur menghampiri tumpukan domba yang telah dieksekusi. Pemuda itu kemudian memasukkannya ke dalam ruang kosong milik Koi Hitam. Saat itu juga, semua orang langsung menjadi bingung.


“Anu ... apa maksud dari semua ini, Arthur?” tanya Daiki.


“Tentu saja menyimpannya untuk dimasak setelah kita kembali.”

__ADS_1


“Eh?” Semua orang berseru serempak.


“Bukankah kalian seharunya tahu? Jika kita membuat domba guling sekarang, aroma harum itu akan menyebar ke mana-mana. Hal tersebut bisa membuat Frost Wyvern curiga, bahkan keluar untuk mencari sumber aroma. Meski aroma darah domba juga cukup kuat, ini masih bisa ditoleransi.


Aku akan bertanya. Kalian semua tidak lupa alasan kenapa kita datang ke tempat ini, kan?”


Mendengar itu, semua orang langsung menunduk sambil mencoba menyembunyikan rasa malu mereka. Lagipula, karena selalu berdekatan dengan hidup dan mati, mereka hampir lupa tujuan. Selain itu, pikiran mereka langsung berubah fokus ketika memikirkan makanan enak. Benar-benar lupa kalau datang jauh-jauh ke tempat ini untuk berburu seekor Frost Wyvern.


“Arthur, Arthur ... apakah mereka sudah tua? Kenapa meraka mudah lupa?”


Pertanyaan itu membuat orang-orang merasa sedang ditikam hatinya. Jika bukan karena penampilan polos dan penuh rasa ingin tahu itu, orang-orang pasti menganggap kalau gadis kecil itu sengaja. Bahkan Arthur sendiri juga tertegun. Bibirnya berkedut, tidak menyangka kalau pertanyaan itu terlontar dari mulut kecil Lily.


“Mereka belum tua, Lily. Kakak-kakak ini agak lupa karena mereka lelah dan salah fokus. Jadi, lain kali kamu harus menjaga tubuhmu dengan baik agar tidak mudah lelah. Selain itu, kamu juga harus lebih banyak makan sayur dan buah. Menambahkan meditasi agar kamu tenang dan tidak mudah lupa.”


“Ya.”


Lily mengangguk patuh. Meski tidak tahu apakah yang dikatakan Arthur benar atau salah, dia selalu memilih untuk mempercayai pemuda yang selalu mengurusnya itu.


“Kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan.”


“Ya!” jawab mereka serempak.


Mereka pun melanjutkan pendakian. Setelah melewati awan, perjalanan mereka lebih mudah. Medannya tidak lagi menjadi masalah, tetapi ada sedikit masalah lain, yaitu suhu di area puncak Frostpeak Mountain yang begitu dingin.


Setelah melakukan perjalanan cukup lama, mereka akhirnya tiba di area yang tertutup salju. Dengan begitu, mereka percaya diri kalau tujuan mereka sudah dekat. Hanya saja, ada sedikit masalah.


Pada saat sampai di area bersalju, mereka benar-benar kesulitan menemukan sarang Frost Wyvern!


Mengikuti beberapa petunjuk yang diingat Arthur dari buku, mereka akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Berjalan bolak-balik cukup lama di tempat yang begitu dingin, mereka merasa kalau informasi mungkin salah. Namun, saat itu Arthur tidak menyerah, jadi mereka memutuskan untuk tetap ikut mencari.


Sekitar satu jam kemudian, mereka akhirnya tiba di sebuah cekungan yang cukup tersembunyi. Ketika mereka turun, orang-orang itu melihat gua besar dan gelap.

__ADS_1


Akhirnya, mereka pun tiba di sarang Frost Wyvern!


>> Bersambung.


__ADS_2