
Sama seperti sebelumnya, Satoru segera mendekati kuda hitam. Namun, tidak seperti sebelumnya dimana dia langsung naik tanpa sopan santun, pemuda itu mendekati lalu menyapa kuda itu dengan lembut.
Satoru mengelus leher kuda hitam tersebut, membuatnya membuat suara senang. Tampaknya cukup puas dengan perlakuan pemuda di depannya.
Menatap tepat ke mata kuda itu, Satoru berkata, “Kalau begitu mohon bantuannya juga untuk hari ini, Kawan.”
Orang-orang di klub berkuda tampak terkejut ketika melihat betapa dekatnya Satoru dengan kuda hitam yang terkenal galak dan ganas itu. Pemandangan pemuda tampan yang menggoda kuda yang tampak luar biasa mata para siswi itu berbinar. Sementara itu, juga membuat para siswa tampak iri.
Siapa laki-laki yang tidak ingin terlihat tampan dan keren? Pasti tidak ada kecuali memiliki sedikit kelainan dalam otaknya.
Setelah naik ke atas punggung kuda, Satoru bertanya dengan ekspresi penasaran di wajahnya.
“Omong-omong, bukankah kuda ini memiliki nama?”
Melihat Satoru yang tampaknya langsung terbiasa, sudut bibir Pak Sengoku berkedut. Dia jelas telah merawat kuda hitam itu beberapa tahun ketika kepala sekolah tidak mengurusnya. Namun kuda itu sama sekali tidak memberinya wajah. Makhluk itu selalu saja berperilaku sombong dan selalu menolaknya.
Sedangkan sekarang, tampaknya kuda hitam itu benar-benar mengenali Satoru. Bahkan membiarkan pemuda itu menaiki punggungnya tanpa membuat masalah. Pemandangan itu membuat mata Pak Sengoku agak merah.
‘Kuda busuk tidak tahu terima kasih ini ...’
Merasakan tatapan Pak Sengoku, kuda hitam itu menoleh ke arah lain. Dia mendengus dengan ekspresi jijik, tampaknya menganggap pria paruh baya itu tidak layak.
Pemandangan itu membuat Satoru tercengang. Dia segera menepuk kuda itu sambil memarahi.
“Bukankah kamu tidak boleh berperilaku seperti itu? Tidak peduli seberapa pelitnya Pak Sengoku, beliau telah merawatmu beberapa tahun.”
Ekspresi Pak Sengoku menjadi semakin gelap, mendengar ucapan Satoru, dia sadar kalau keponakannya yang nakal telah menyebarkan gosip buruk tentang dirinya. Hal tersebut membuat pria paruh baya itu langsung mencari di sekitar.
Melihat kalau Natsumi telah menyelinap pergi dengan kudanya, Pak Sengoku hanya bisa mendegus dengan ekspresi marah di wajahnya.
“Kuda itu tidak memiliki nama. Karena dia suka membuat masalah, aku dan kepala sekolah biasa memanggilnya Silly Black.”
“Hitam konyol?” ucap Satoru dengan ekspresi terkejut.
Mendengar perkenalan Pak Sengoku, kuda hitam itu langsung membuat suara tidak puas. Meski tidak begitu mengerti ucapan manusia, tampaknya dia masih mengetahui kalau itu lebih mirip ejekan daripada nama. Tentu saja, itu membuatnya tidak puas.
“Bagaimana kalau memberinya nama?” tanya Satoru dengan ekspresi gugup.
__ADS_1
Dari dulu, Satoru suka memberi nama hewan peliharaan temannya. Dia sendiri tidak pernah memelihara hewan peliharaan. Lagipula, mengingat bagaimana sedihnya ketika kehilangan anjing hitam besar kakeknya membuatnya merasa agak takut.
Satoru kecil takut hewan peliharaannya mati. Itu membuatnya sedih dan tidak bisa makan atau tidur dengan baik.
“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan.”
Setelah mengatakan itu, Pak Sengoku melihat para siswa-siswi kelas 1 lalu melanjutkan.
“Aku ada kepentingan. Jadi jika memiliki masalah, kalian bisa bertanya pada senior kelas 3. Mereka pasti bisa membimbing kalian dengan baik.”
Setelah mengatakan itu, Pak Sengoku segera pergi. Tampaknya ingin mencoba mencari dan mengejar Natsumi yang melarikan diri.
Mengingat gadis cantik tetapi agak kekanak-kanakan itu membuat Satoru menghela napas sambil menggelengkan kepala. Pemuda itu kemudian mulai menarik tali kekang perlahan, menyuruh kuda hitam berjalan perlahan.
Sembari menikmati angin sore, pemuda itu berkata, “Aku ingin memberimu nama, tetapi bingung nama apa yang cocok untukmu.”
Mendengar kuda hitam mendengus dengan curiga, Satoru memasang senyum masam. Dia mengangkat bahu sambil menjelaskan.
“Tentu saja aku tidak akan memanggilmu dengan Silly Black atau nama acak seperti itu. Akan lebih keren jika kamu memiliki panggilan yang berkualitas. Bagaimana dengan Ebony Shadow? Black Marsh? Black Mist? Kurogiri? Errr ... itu kurang cocok.”
Satoru sudah merasakan betapa cepat dan ganasnya kuda hitam, jadi dia memikirkan nama lain yang cocok. Setelah beberapa saat, pemuda itu terus bergumam.
Setelah memikirkan sejenak, mata satoru akhirnya berbinar.
“Mulai sekarang, aku akan memanggilmu Dark Ray (sinar gelap)!”
***
Keesokan paginya.
Berjalan menuju ke kandang kuda, Ono menatap ke arah Satoru dengan ekspresi penasaran di wajahnya.
“Tampaknya kamu benar-benar bersemangat, Satoru-san?”
“Ya. Aku sedikit senang karena bisa bertemu dengan Dark Ray. Lagipula, aku baru saja berhubungan dengan kegiatan berkuda ketika ada di sini. Rasanya, itu memang menarik dan cukup menyenangkan.” Satoru bersenandung.
“Dark Ray?”
__ADS_1
“Itu nama yang aku berikan pada kuda hitam itu. Maksudku, dia benar-benar cepat dan menjatuhkanku dengan keras. Dia tampak cepat dan kuat seperti sinar gelap, jadi aku merasa kalau nama itu cocok untuknya.”
“...”
Melihat Satoru yang tampaknya senang, Ono hanya bisa mengangkat bahunya. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi takut merusak fantasi pemuda itu.
Misalnya, nama yang diberikan Satoru bukanlah nama resmi, jadi tidak perlu peduli bagaimana kuda hitam itu dipanggil. Selain itu, mereka adalah siswa, bukan pemilik kuda asli. Tanpa menunggu lulus, mereka masih harus berpisah dengan para kuda itu di kelas 3. Jadi, menurut Ono ...
Lebih baik tidak membuat hubungan terlalu dekat karena semakin dekat, semakin sulit pula untuk berpisah.
Ono cukup yakin kalau Satoru mengerti hal semacam itu. Hanya saja, pengalaman pertama, keseruan, dan kebahagiaan membuat fantasinya melebisi rasionalitasnya. Meski tidak berdampak terlalu buruk, tetapi dia hanya bisa berharap kalau temannya segera sadar.
“Selain itu, aku juga harus menamai beberapa anak babi kecil itu. Menurut pak guru, ada empat induk, jadi ada empat bayi kecil yang kekurangan nutrisi dan perlu dirawat mulai hari ini.
Apakah kamu punya ide, Ono? Tidak mungkin aku memanggil mereka semua Hachi kan?”
“Tidak boleh!” ucap Ono tegas.
Mendengar ekspresi serius Ono, Satoru merasa bingung. Pemuda itu memiringkan kepalanya.
“Apa maksudmu?”
“Kamu tidak boleh menamai anak-anak babi itu, Satoru-san!”
“Kenapa?”
“Aku mungkin belum pernah beternak babi, ayam, sapi, atau hewan konsumsi lain. Namun, dari apa yang aku dengar dan cari tahu, kita tidak bisa memberi nama para hewan itu.
Bukan karena membawa sial atau semacamnya. Hanya saja, jika kamu memberi mereka nama, itu akan membuatmu semakin dekat dengan mereka. Dengan begitu, saat memasuki masa panen dan siap potong, apakah kamu mampu membiarkan mereka dipotong begitu saja?”
Mendengar ucapan Ono, Satoru merasa kepalanya disiram dengan air dingin. Pemuda itu tidak bisa tidak menghela napas panjang. Jika benar-benar melakukannya, dia yakin sakitnya kurang-lebih sama dengan apa yang dialaminya ketika anjing kakeknya mati.
“Terima kasih Ono. Jika kamu tidak membicarakannya sekarang, mungkin akan terlambat.”
Satoru sama sekali tidak bodoh, jadi dia langsung berterima kasih. Dia sangat tahu seberapa pentingnya menahan diri. Lagipula, jika tidak bisa mengontrol apa yang kita lakukan ...
Biasanya semua akan berakhir dengan kekacauan.
__ADS_1
>> Bersambung.