
Sekitar satu jam sebelumnya.
Melihat ekspresi wajah penuh penyesalan kepala desa, lalu ke arah Aoi yang tampak polos membuat Arthur menggelengkan kepalanya. Dia kemudian berbalik untuk melihat sosok yang baru saja muncul.
Tinggi lebih dari tiga meter, tubuh dipenuhi otot dan bulu berantakan berwarna hijau seperti lumut. Dia memiliki penampilan humanoid, badan dan tangan seperti manusia tetapi ditutupi bulu. Sedangkan kaki dan kepala makhluk itu adalah kerbau. Dia juga memiliki ekor yang cukup panjang.
Mirip dengan Minotaur, tetapi bukan Minotaur.
Melihat penampilan makhluk yang tampak garang, kepala desa dan Aoi langsung ketakutan. Sebaliknya, Arthur malah mendekat dengan ekspresi tertarik.
“Menarik ...” gumam pemuda itu sambil mengelus dagu.
‘Siluman kerbau? Atau iblis kerbau?’
Sementara iblis kerbau menatap ke arah Arthur dengan garang, pemuda itu malah memiringkan kepalanya. Pada saat itu, Arthur memiliki pemikiran aneh dalam kepalanya.
‘Apakah ini masih bisa dimakan? Di satu sisi, kerbau jelas bisa dimakan. Di sisi lain, bentuknya mirip manusia, jadi akan terasa aneh ketika memakannya.’
Tanpa sepengetahuan iblis kerbau, pemuda di depannya telah berpikir apakah dirinya akan diletakkan di atas piring atau tidak.
“Apa yang sedang kamu lakukan, Manusia?” tanya Iblis Kerbau dengan ekspresi garang di wajahnya.
“Oh? Bisa bicara? Ya ... kalau begitu lupakan saja.”
“Apa maksud-“
Swoosh!
Sosok Iblis Kerbau langsung melompat mundur. Dia kemudian melirik ke arah lengan kanannya yang berdarah dengan ekspresi tidak percaya. Pada saat itu, suara tak acuh Arthur kembali terdengar.
“Kenapa kamu memilih menghindar? Padahal aku ingin mengirimmu pergi tanpa rasa sakit.”
Iblis Kerbau melihat Arthur. Pemuda itu membawa pedang yang masih diselimuti darah. Ekspresinya tampak lebih berat dibandingkan sebelumnya. Menggertakkan gigi, makhluk itu kemudian membuat raungan marah. Dia langsung berlari ke arah Arthur dengan segenap tenaga.
Tekanan puncak level silver muncul dari tubuh Iblis Kerbau. Saat dia bergegas maju, ekspresi di wajahnya langsung berubah.
Memegang pedang di tangannya, tekanan tingkat gold bintang 1 langsung muncul dari tubuh Arthur. Pada saat itu juga, kobaran api muncul pada bilah pedangnya. Dia melihat ke arah makhluk yang bergegas ke arahnya dengan tenang.
__ADS_1
“Tunggu!”
Mendengar itu, Arthur dan Iblis Kerbau yang hendak saling menyerang langsung menghentikan tindakan mereka. Iblis Kerbau menatap pedang yang penuh kobaran api yang berada beberapa centimeter di depan wajahnya. Merasakan panas dari kobaran api yang menerpa wajahnya, makhluk itu berkeringat dingin.
Saat itu, Aoi kecil melepaskan diri dari kepala desa yang mencegahnya maju. Dia berjalan ke arah Arthur lalu berkata dengan ekspresi serius.
“Kak Arthur, manusia sapi ini tidak jahat!”
“Manusia sapi?” gumam Arthur dengan sudut bibir berkedut.
Pemuda itu kemudian melihat ke arah Iblis Kerbau yang tampak ganas. Setelah memperhatikannya baik-baik, senyum muncul di wajahnya. Kobaran api di pedangnya padam. Dia kemudian bertanya.
“Kenapa kamu tahu kalau ‘manusia sapi’ ini tidak jahat, Aoi?”
“Mata manusia sapi itu tidak seperti mata penjahat, Kak Arthur!”
“Tolong, bisakah kalian memanggilku Iblis Kerbau dan memberi sedikit wajah? Maksudku, nama manusia sapi itu- aduh!”
Iblis Kerbau tercengang ketika melihat Arthur menendangnya dengan keras. Melihat ekspresi dingin pemuda itu, dia akhirnya memilih untuk diam. Siapa tahu, pemuda yang tampak berbahaya itu tiba-tiba menebasnya jika dia salah bicara.
“Hm ... Setelah diperhatikan baik-baik, tampaknya manusia sapi ini memang tidak seburuk itu.” Arthur mengelus dagu. “Kerja bagus, Aoi.”
‘Benar-benar pemikiran terdistorsi yang mengerikan!’
Jika Arthur tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Iblis Kerbau, dia pasti segera menikam lalu menjadikan sapi itu menjadi steak lalu membagikannya ke seluruh warga desa.
Merasakan tatapan curiga Iblis Kerbau, Arthur langsung mengangkat alisnya. Pemuda itu langsung menendang kaki makhluk itu sambil mengeluh.
“Apa yang kamu tunggu?”
“Maaf?” Iblis Kerbau itu tampak linglung.
“Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Aoi berkata kamu bukan makhluk jahat, kan? Jelaskan semuanya dan biarkan aku menilai apakah kamu bersalah atau tidak.”
Mendengar ucapan Arthur, Iblis Kerbau akhirnya mengerti apa yang terjadi. Menarik napas dalam-dalam, dia mengingat berbagai kenangan lalu bercerita.
“Ah! Kalau begitu, biarkan aku menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Sebenarnya, apa yang orang-orang sebut sebagai penjaga hutan atau semacamnya bukanlah makhluk itu. Dahulu, itu adalah gelar yang aku miliki.
Awalnya, aku pernah dibesarkan oleh seorang petani biasa. Oleh karena itu, aku sendiri tidak memiliki niat untuk memakan manusia atau semacamnya. Aku lebih suka makan sayur dan buah-buahan. Mungkin itu yang membuatku lemah padahal sudah tua. Seperti yang kalian ketahui, semakin tua iblis, semakin kuat mereka.
Berbeda denganku. Tinggal di tempat dengan energi kurang, tidak memakan ramuan berharga, tidak makan manusia ... itulah kenapa aku begitu lemah.
Dahulu, aku tinggal di hutan dekat desa. Menjaga orang-orang desa dari serangan binatang buas atau hal-hal berbahaya lain. Tentu saja, meski disebut penjaga hutan, penjaga gunung, atau semacamnya ... aku sendiri tidak bisa membuat tanah subur.
Aku melindungi orang-orang, dan mereka memberiku buah-buahan dan sayur setiap panen. Entah disebut sebagai sesembahan atau bukan, aku rasa itu sama sekali tidak buru. Kehidupanku berjalan terus seperti itu.
Sampai suatu hari, makhluk itu datang ke tempat ini dari jauh. Dia kuat, sangat kuat dan lebih berbahaya dibandingkan aku yang dulu. Dia membuatku terluka parah dan mengusirku. Karena ketakutan, aku akhirnya memilih pergi. Akhirnya hidup di hutan lebih dalam dan terus menghindarinya selama bertahun-tahun lamanya.
Jadi ... aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada desa.”
Iblis Kerbau berkata dengan nada menyesal. Dia mengangkat tangan, sama sekali tidak berniat untuk melawan.
Saat itu, wajah kepala desa langsung menjadi pucat. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ada hal semacam itu menimpa desanya.
“Menarik. Itu berarti, penjaga hutan dan rawa yang sekarang adalah iblis pendatang?”
“Ya.” Iblis Kerbau mengangguk berat.
“Jadi kamu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Setiap tahun, makhluk itu meminta tumbal. Tampaknya dia menggunakan metode kutukan atau jenis racun untuk menakuti warga desa. Dia membuat tanah di sekitar desa menjadi tidak subur jika mereka tidak memberi tumbal. Selain itu, makhluk tersebut juga akan membuat berbagai kekacauan setelahnya.
Meski menyedihkan karena banyak gadis ditumbalkan, tetapi semua itu tetap harus direlakan. Lagipula, hidup terus berjalan. Selain itu ...”
Arthur menatap ke arah iblis kerbau lalu tersenyum.
“Apakah kamu ingin menjadi penjaga hutan lagi? Sama seperti sebelumnya?”
Mendengar itu, semua orang diam. Tanpa menunggu Iblis Kerbau menjawab, Arthur langsung menggandeng tangan Aoi.
“Aku akan mengantar kalian berdua kembali ke desa. Lagipula ...”
Mata pemuda itu berkilat dingin.
“Ada hal penting yang harus segera aku selesaikan.”
__ADS_1
>> Bersambung.