Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Perubahan Tempramen


__ADS_3

“Apa yang kalian lakukan di sini?”


Melihat kedatangan Kiba, Tarou, dan Arthur, tampak sosok pria peruh baya yang memiliki wajah seperti Kiba tetapi lebih tua dan lebih berwibawa. Pria itu memiliki ekspresi tegas di wajahnya. Ditambah armor perang dan pedang yang dibawa, dia jelas tampak lebih mendominasi.


“Kiba bertemu dengan Ayahanda!” ucap Kiba sambil memberi salam sopan.


“Tarou bertemu dengan Tuan Besar!” ucap Tarou dengan ekspresi hormat.


“Apa yang kalian lakukan di sini. Belum lagi, Tarou, bukankah kamu berjanji untuk melindungi Kiba? Kenapa kamu malah membawanya ke sini?”


“Lapor, Tuan Besar. Nyonya telah siuman dan sekarang dalam proses pemulihan. Racun dan kutukan dalam tubuhnya telah dihilangkan. Setelah beristirahat dalam waktu tertentu, Nyonya akan sembuh total.”


Mendengar ucapan Tarou, suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Ayah Kiba menatap mereka dengan ekspresi terkejut. Tubuhnya gemetar saat membuka mulut dan bertanya.


“Apakah itu benar?”


“Itu memang benar, Ayahanda. Putra ini kebetulan bertemu dengan Tuan Arthur. Dia adalah orang yang telah menyembuhkan Ibunda!” ucap Kiba dengan ekspresi senang. Dia jelas tidak lupa untuk memuji Arthur.


Sementara itu, Arthur sendiri hanya berdiri di tempat dengan ekspresi mengantuk. Tampaknya perjalanan panjang yang membosankan benar-benar membuatnya hampir ketiduran. Bahkan ketika menemui tuan kota, dia masih mengantuk dan tampak tidak peduli.


Tuan kota menatap ke arah Arthur yang berdiri dengan mata setengah terpejam. Pada awalnya, dia berpikir kalau pemuda itu adalah teman putranya yang tidak sopan. Namun saat mengukur pemuda tersebut, dia terkejut karena tidak bisa melihat tingkat kultivasinya.


“Tuan Besar, Tuan Arthur ini adalah mantan murid dari Sekte Pilar Surgawi. Tampaknya dia agak mengantuk setelah perjalanan panjang. Jadi mohon dimaklumi.”


Mendengar penjelasan Tarou, tuan kota terkejut. Dia kemudian menatap ke arah Arthur dengan ekspresi serius. Tidak lupa, pria itu sesekali melirik ke arah Tarou. Setelah melihat Tarou menggelengkan kepalanya, yang berarti pria ini bukanlah buronan atau sosok bermasalah, dia akhirnya lega.


Saat itu, mata Arthur tiba-tiba terbuka lebar. Hal tersebut jelas mengagetkan orang-orang. Pemuda itu kemudian melihat ke arah tuan kota dengan ekspresi terkejut sambil bertanya.


“Kiba?”


Mendengar itu, tuan kota menjawab dengan sopan.


“Perkenalkan, saya adalah ayah Kiba, Shinozaki. Anda bisa memanggil saya Tuan Kota, atau saya lebih suka jika anda memanggil saya dengan sebutan Paman Shino.”


“Oh~ Ternyata ayah Kiba.” Arthur menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi ceroboh. “Aku pikir sedang tertidur selama beberapa tahun seperti dalam dongeng-dongen itu. Ya … itu bukan masalah. Senang bertemu denganmu, Paman Shinozaki.”


“Terima kasih karena telah menyelamatkan istri saya, Tuan Arthur.”

__ADS_1


“…”


Mendengar ucapan terima kasih yang begitu tiba-tiba, Arthur yang masih linglung bingung harus menjawab bagaimana. Pada akhirnya, dia mengangguk sambil berkata dengan nada santai.


“Pertemuan semacam ini adalah takdir, jadi kamu tidak perlu begitu sopan.”


Meski kata-katanya agak keren karena menirukan Pak Shigekuni ketika berinteraksi dengan beberapa orang penting, tetapi hasilnya malah menjadi agak aneh karena nada bicara Arthur yang agak sembrono benar-benar tidak cocok dengan kalimat sopan semacam itu.


“Bagaimana kalau kita duduk dan beristirahat terlebih dahulu? Kalian datang untuk memberi kabar ini agar kami bisa segera kembali, kan?”


“Sebenarnya itu kurang tepat. Ya … selain untuk menyampaikan kabar, aku datang ke sini untuk berburu Cockatrice.”


Mendengar itu, semua orang langsung terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Arthur datang dengan tujuan semacam itu.


Setelah beberapa saat kejutan, Shinozaki menatap ke arah Arthur dengan tegas.


“Makhluk itu sangat berbahaya dan ada beberapa korban dari pasukan penjaga yang tewas karenanya. Meski saya menghormati keinginan anda dalam membantu, sebagai tuan kota sekaligus suami dari wanita yang telah anda selamatkan … izinkan saya menolak kebaikan anda!”


Ucapan Shinozaki langsung membuat Arthur sadar. Pikirannya langsung menjadi jernih. Alih-alih senang karena tidak dibiarkan membantu seperti sebelumnya, dia malah langsung menunjuk ke wajah Shinozaki dengan ekspresi kesal.


“Aku datang ke sini untuk meminta informasi tentang keberadaan makhluk itu, Paman! Aku tidak akan pergi sebelum menangkap ayam itu! Aku ingin makan ayam dan tidak ada yang bisa menghentikanku untuk melakukannya! Jadi jangan coba-coba untuk memaksaku!”


Ayam? Apakah makhluk yang membunuh seluruh orang di desa bisa dianggap sebagai ayam? Belum lagi, apakah makhluk semacam itu bisa dimakan?


Memikirkan banyak pertanyaan, para penjaga, bahkan ayah dan anak itu merasa kalau Arthur belum sepenuhnya sadar. Tampaknya memimpikan jamuan besar atau semacamnya.


“Bahkan jika itu saya, menghadapi Cockatrice jelas sesuatu yang mudah. Racun makhluk itu bisa membunuh orang dengan mudah.”


“Tapi kamu memiliki kepercayaan diri untuk melawan makhluk itu, Paman?” Arthur memiringkan kepalanya.


“Kemungkinan mengalahkannya lebih dari 60% jika saya berhati-hati. Hanya saja, saya tidak menghitung jika tuan dari makhluk itu muncul.”


“Kalau begitu mari akhiri pembicaraan sia-sia ini lalu bertaruh.”


“Bertaruh?” Shinozaki sedikit terkejut.


“Ya.” Arthur tersenyum santai.

__ADS_1


“Apa yang anda ingin pertaruhkan?” tanya Shinozaki.


“Mari bertarung! Jika aku kalah, aku akan berpura-pura tidak pernah mendengar informasi tentang Cockatrice. Namun jika aku menang, kamu harus memberitahuku tentang semua informasi tentang Cockatrice yang kamu ketahui.”


Mendengar itu, Shinozaki tampak terkejut. Dia kemudian yakin kalau Arthur jelas kuat dan percaya diri atas kekuatannya. Sebenarnya pria itu bisa saja langsung memberikan informasi kepada dermawan yang menyelamatkan istrinya. Hanya saja, dia tiba-tiba tertarik dengan kekuatan pemuda itu.


Ingin tahu seberapa kuat pemuda itu dibandingkan dengan dirinya!


“Baik!” ucap Shinozaki dengan ekspresi serius di wajahnya.


Ekspresi terkejut jelas tampak di wajah semua orang. Benar-benar tidak menyangka kalau pria itu akan meladeni pemuda sembrono seperti Arthur.


***


Setengah jam kemudian, pada sebuah lapangan luas di pinggir desa.


Shinozaki memegang erat gagang pedang di sisi kiri pinggangnya sambil posisi siap bertarung. Sementara itu, di sisi lain, Arthur tampaknya sedang melakukan pemanasan. Melakukan peregangan tubuh untuk melemaskan otot-ototnya.


Saat itu juga, semua orang merasakan energi dari tubuh Arthur. Pada awalnya, tingkat bronze bintang satu. Namun terus naik dengan kecepatan luar biasa. Mulai melambat setelah menembus tingkat silver, dan akhirnya berhenti di tingkat silver bintang 8 … sama dengan level Shinozaki.


“Karena kita berada di tingkat yang sama, jangan bilang kalau aku curang, Paman.”


Arthur berkata dengan ekspresi santai di wajahnya. Pemuda itu melompat-lompat di tempat, tampaknya begitu santai dan tidak terlihat ingin seperti ingin bertarung melawan musuh.


“Tentu saja aku tidak akan mengatakan apa-apa karena hanya ada kemenangan dan kekalahan dalam pertarungan.”


“Ya … kalau begitu … mari kita mulai.”


Setelah mengatakan itu, sosok Arthur langsung berubah menjadi bayangan hitam. Melesat ke arah Shinozaki dengan gerakan zig-zag tetapi sangat cepat.


Melihat sosok Arthur yang tiba-tiba muncul di depannya, Shinozaki langsung menarik pedangnya dengan ekspresi terkejut.


BANG!


Sosok Shinozaki langsung terpental lebih dari lima meter, tetapi masih berdiri dalam posisi bertahan. Hanya saja, ekspresinya berubah ketika merasakan kedua tangannya yang sedikit mati rasa. Dia kemudian menatap ke arah Arthur dengan mata menyipit karena …


Rasanya pemuda langsung menjadi orang yang berbeda!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2