
Sementara itu, di ruang istirahat.
Daiki yang baru saja tiba langsung duduk di kursi. Dia mengambil handuk lalu menyeka keringat dingin di dahinya. Memiliki senyum pahit di wajahnya, pria itu bergumam.
“Astaga, bocah itu pasti ingin membunuh orang. Delapan cincin pertahanan, dua anting, dan sebuah kalung untuk menahan serangan kritis tingkat gold benar-benar rusak. Untung saja aku masih bisa menyelamatkan wajah.
Hey, apakah anak-anak sekarang begitu mengerikan? Aku rasa kakiku menjadi begitu lemah. Berpura-pura keren dan kuat hampir membuatku menjadi ayam panggang. Bah! Aku rasa setidaknya serangan terkahir itu bisa bersaing dengan bangsawan sombong dan pencuri nakal itu, kan?”
Daiki bergumam pelan. Meski tampak kuat di luar, pria itu sebenarnya cukup pengecut. Dia terkenal atas keberanian dan kekuatan pertahanannya. Meski kekuatannya sendiri memang tidak buruk, tetapi dibandingkan dengan dua orang yang bergabung sedikit lebih awal dibandingkan dirinya, Daiki merasa bakatnya terlalu buruk. Oleh karena itu, tidak hanya fokus berkultivasi, pria itu menebus sisanya dengan berbisnis.
Selama memiliki uang, setidaknya dia bisa membuat armor, jimat pelindung, dan berbagai hal lain yang bisa membantunya. Meski tidak murni kekuatannya, setidaknya dia sama sekali tidak tampil memalukan. Daiki pikir dirinya bisa menekan pendatang baru, setidaknya tidak menjadi ketua divisi paling lemah.
Siapa sangka, ternyata junior yang baru bergabung itu lebih sesat dibandingkan Ketua Divisi 7 dan Divisi 8. Penampilannya saja yang muda dan levelnya saja yang berada di tingkat gold bintang 2. Namun keterampilannya benar-benar berada di level lain.
Menurut Daiki sendiri, seharusnya Arthur bisa mengungguli Ketua Divisi 7 dan Divisi 8 dalam beberapa tahun. Saat itu, dia akhirnya membuat keputusan penting.
Memperlakukan Arthur dengan baik dan memiliki hubungan kerjasama yang baik!
Dengan begitu, Daiki yakin kalau masa depannya stabil. Orang ingin membuat masalah dengannya? Bilang saja ‘kamu yakin ingin membuat marah saudaraku’, dan itu pasti berakhir dengan cara baik. Lagipula, dibandingkan ketua divisi lain yang dingin, egois, dan memiliki pemikiran aneh ...
Arthur lebih normal. Ya, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Daiki.
‘Yah! Dengan ini, meski masih menjadi yang paling lemah, setidaknya aku menambah teman yang bisa diandalkan, bukan?’
Memikirkan itu, Daiki mengangguk dengan ekspresi serius di wajahnya. Entah kenapa, dia merasa cukup puas dengan pilihannya.
***
Malam harinya.
Sementara orang lain sibuk membahas Daiki dan Arthur setelah pertarungan mengesankan di siang hari, keduanya berkumpul di markas cabang Divisi 9. Anggota dari Divisi 9 menganggap Daiki lebih kuat dan hebat dibandingkan apa yang mereka ingat, tetapi mereka juga sangat yakin dengan kemampuan tempur Arthur.
“Aku sudah memutuskan!”
__ADS_1
Setelah makan malam bersama, Daiki yang menyesap anggur langsung berteriak keras. Tindakannya langsung menarik perhatian banyak orang termasuk Arthur dan rekan-rekannya. Pria itu kemudian melanjutkan.
“Aku mengakui kekuatanmu, Arthur. Aku juga menyetujui permintaanmu. Kekuatan seranganmu memang sangat berguna di garis depan. Separuh material Frost Wyvern dan 40% hasil dari jarahan akan diberikan kepada Divisi 10.”
Mendengar itu, semua orang terkejut. Jotaro dan Lily tampak senang, tetapi Arthur langsung menyatukan tangannya sambil berkata.
“Ini kurang pantas, Senior Daiki. Dalam pertarungan tadi, kamu membuatku belajar. Aku memang menguasai gerakan dari seni bela diri Black Imoogi dengan baik. Masalahnya, tidak semua gerakan itu cocok dengan tubuhku. Tinggi, kepadatan tubuh, kelincahan, kekuatan tebasan, dan banyak hal juga mempengaruhi.
Pertarungan itu membuatku merasa tercerahkan. Aku akan mengubah Black Imoogi Style sesuai dengan diriku sendiri, memodifikasinya sehingga bisa sangat cocok denganku. Bukan hanya meniru.
Terima kasih atas pencerahannya.
Oleh karena itu, aku tidak akan menerima pembagian dengan cara seperti itu. Bahan Frost Wyvern tetap dibagi separuh, tetapi sisa jarahan ... kami hanya perlu 25%. Itu sudah cukup karena ilmu ini bisa membuatku lebih terampil dan memperlancar perjalanku di masa mendatang. Aku rasa itu sepadan dengan harganya.”
“...”
Daiki tertegun di tempatnya. Dia menatap ke arah Arthur dengan ekspresi tidak percaya.
Jika kamu juga naik level, siapa yang akan mampu menghadapimu, Nak? Kamu terlalu berlebihan!’
Daiki tidak bisa tidak mengeluh dalam hati. Dia sama sekali tidak menyangka pertandingan ‘sederhana’ seperti itu membuat si jenius semakin bangkit. Melihat bagaimana pemuda itu bisa dengan mudah berkembang, menyesuaikan diri, dan menyerap segala pengalaman membuatnya merasa agak takut.
‘Apakah bocah ini benar-benar masih manusia?’
Daiki kemudian tertawa terbahak-bahak. Dengan seringai di wajahnya, pria itu kemudian berkata.
“Kalau begitu harus 30%, tidak boleh kurang! Kamu bisa berkembang karena dirimu sendiri, Arthur. Sama sekali tidak ada hubungannya denganku.”
“Kamu terlalu rendah hati, Senior Daiki. Kalau begitu aku berterima kasih atas keramahanmu.”
“Hahaha!”
Daiki merasa punggungnya menjadi dingin. Dia jelas berkata jujur kalau perkembangan Arthur sama sekali tidak ada hubungannya dengannya. Namun benar-benar dianggap rendah hati. Pria itu bingung apakah harus menangis atau tertawa.
__ADS_1
“Lain kali, ketika semua skill telah aku cocokkan dan kembangkan ... aku tidak akan kalah lagi, Senior Daiki. Setidaknya, aku pasti bisa memberimu luka serius.”
“Uhuk! Uhuk! Kamu benar-benar sangat antusias, Arthur. Namun kita adalah rekan, tidak perlu bertarung. Selama mengerti kekuatan rekan dan bisa bekerjasama dengan baik, itu sudah cukup.”
Daiki langsung tersedak. Dia kemudian berkata pada Arthur dengan ekspresi serius dan tulus. Namun, pria itu sudah mengeluh dalam hatinya.
‘Lebih serius dan lebih ganas? Apakah kamu memiliki dendam sehingga ingin membakarku dan membuangku ke ketiadaan, Nak? Itu berlebihan!’
Setelah menstabilkan diri, Daiki akhirnya mengalihkan topik pembicaraan.
“Kita sudah mengenal satu sama lain dalam pertempuran. Aku sudah menganggapmu sebagai setengah saudara. Omong-omong, karena sudah mengetahui kekuatan satu sama lain, bukankah kita membuat rencana pertempuran? Lagipula, semakin cepat kita memburu Frost Wyvern, semuanya akan menjadi lebih baik.
Jika terlalu lama, bisa saja makhluk itu naik level atau mempelajari keterampilan lain. Hal tersebut mempertinggi resiko. Jadi sebaiknya kita semua segera membereskannya untuk selamanya.”
“Aku setuju.”
Arthur mengangguk ringan. Lagipula, jika sampai naik setengah langkah saja, itu akan menjadi sangat merepotkan. Musuh mereka tidak hanya kuat, cepat, dan memiliki beberapa keterampilan khusus, tetapi juga bisa terbang dan merepotkan ketika bertarung di udara.
“Apakah kamu memiliki rencana, Arthur?”
“Menurutku, daripada mencegatnya ketika keluar, lebih baik menyerang langsung di sarangnya. Selain itu, jika bisa, jangan biarkan makhluk itu keluar dari sarang karena dia menjadi merepotkan jika berada di langit luas.
Dengan kemampuanmu, kamu pasti bisa menahan Frost Wyvern agar tidak keluar dari sarang, Senior Daiki. Dengan begitu, kita bisa bertarung di dalam sarang dimana gerakan makhluk akan menjadi lebih terbatas. Dia juga pasti akan berhati-hati ketika di sarang karena tidak akan dengan mudah membuat gerakan yang bisa merusak rumahnya sendiri.
Bagaimana menurut kalian?”
“Itu sangat bagus.” Kepala cabang berkata dengan ekspresi takjub. “Dengan pertahanan Ketua dan serangan anda, kita pasti bisa segera mengalahkan Frost Wyvern. Lagipula, makhluk itu pasti tidak bisa bertarung dalam kondisi terbaiknya.”
Mendengar itu, Daiki mengangguk dengan seringai puas di wajahnya. Meski begitu, dia benar-benar merasa masam dalam hatinya. Pria itu bahkan juga mengeluh.
‘Hey! Apakah kalian begitu optimis tentangku? Aku sendiri bahkan tidak optimis, Bung!’
>> Bersambung.
__ADS_1