
“Black Imoogi style, first move ...”
Sosok Arthur langsung melesat dengan kecepatan luar biasa. Dia kemudian membanting pedangnya secara vertikal.
“The Snake’s Collision!”
Ular hitam yang terbuat dari hitam langsung melesat ke arah Daiki dengan kecepatan dan momentum luar biasa. Melihat itu, Daiki tertawa terbahak-bahak. Dia kemudian memegang erat kapak dengan tangan kanannya. Energi emas tipe bumi berkobar di kapaknya.
Pada saat ular hitam semakin dekat, barulah Daiki membanting kapaknya dengan kekuatan luar biasa.
“Golden Lion’s Claws!”
Cahaya emas membentuk empat garis energi seperti cakaran singa sepanjang tiga sampai empat meter muncul, lalu melesat ke arah ular hitam dan menabraknya dengan keras.
BLARRR!!!
Ledakan keras tercipta dan asap tebal mengepul. Setelah asap reda dan dua orang terlihat utuh sambil saling memandang, para penonton langsung bersorak. Mereka tidak menyangka kalau akan melihat pertarungan mendebarkan dan imbang. Setidaknya begitulah yang mereka pikirkan.
‘Orang itu ...’
Mata Arthur menyempit. Meski tampaknya kedua serangan imbang, tetapi dia masih melihat kalau serangan Daiki sedikit lebih baik daripada miliknya. Padahal, apinya sendiri sudah diperkuat setelah memurnikan banyak roh jahat. Jika tidak, Arthur yakin kalau dirinya tidak akan bisa bersaing dengan orang itu.
‘Hanya menerima para jenius dan monster, kah?’
Mengingat bagaimana Arima mencubit tekniknya dengan santai, lalu melihat ketua Divisi 9 yang sudah sulit dihadapi, pemuda itu tanpa sadar menyeringai.
Kobaran api pada bilah pedang Arthur menjadi lebih dahsyat, pemuda itu kemudian bergegas menuju ke arah Daiki. Meski belum mengerti sepenuhnya bagaimana pola serangan pria tersebut, Arthur menyadari sesuatu yang mungkin berhasil.
Swoosh! Klang! Klang! Klang!
Arthur langsung membuat tebasan cepat dan ganas. Namun, alih-alih merasa puas, Daiki malah tampak kecewa.
BANG!
Sosok Arthur langsung terhempas mundur. Bukannya mengatur kembali rencana, pemuda itu malah terus maju dan menyerang Daiki. Pria tersebut mengerutkan kening. Setelah pukulan demi pukulan, senyum di wajah pria itu langsung memudar. Dia menatap ke arah Arthur dengan ekspresi cemberut.
“Potensimu memang sangat baik. Namun, caramu yang begitu terburu-buru karena rencana kacau terlalu tidak stabil dan kekanak-kanakan, Arthur!”
__ADS_1
BANG!
Sosok Arthur kembali dihempaskan belasan meter. Merasa tidak lagi sabar, Daiki langsung berlari menuju ke arah pemuda itu. Dia melompat, memutar tubuhnya di udara satu kali lalu membanting kapak yang diselimuti oleh kobaran api dengan tambahan momentum setelah putaran. Tampak seperti seekor singa besar yang melompat ke arah mangsanya.
BLARRR!!
Sosok Arthur menghindar, tetapi semua orang langsung menghidup napas dingin ketika melihat lantai yang dipenuhi dengan retakan. Meski bagian dinding di sekitar dilindungi oleh penghalang seperti kubah, tetapi bagian bawah sama sekali tidak terlindungi.
Jadi, setiap serangan Daiki masih bisa mempengaruhi arena.
Klang! Klang! Klang!
Arthur kembali menyerang dengan kecepatan tinggi, tetapi sekali lagi serangannya ditangkis dengan mudah. Semua orang yang awalnya cukup bersemangat langsung merasa agak kecewa. Meski kekuatan Arthur memang sangat baik, Daiki masih terlalu mendominasi, membuat mereka merasa sudah melihat akhir yang jelas. Namun, ada salah satu penonton yang tiba-tiba berkata.
“Asap hitam macam apa itu? Dari sini ... terlihat seperti tanaman rambat?”
Mendengar itu, semua orang melihat asap hitam yang agak transparan dan bisa diabaikan jika tidak diperhatikan baik-baik. Namun, jika diperhatikan baik-baik, asap itu membentuk seperti tanaman rambat yang muncul di seluruh arena. Setelah itu, semua orang memperhatikan baik-baik pertarungan.
Ketika Arthur menyerang dengan kecepatan luar biasa, asap yang muncul di udara bertambah. Meski tidak banyak, tetapi terus bertambah perlahan tapi pasti. Entah kenapa, karena serangan itu seperti ejekan, Daiki tidak memperhatikannya dan malah fokus mengejarnya.
BLARR!!
Sosok Arthur terhempas dan menabrak dinding sangat keras. Pemuda itu memuntahkan beberapa suap darah. Setelah bangkit, dia tiba-tiba menyarungkan pedangnya dan memasang posisi kuda-kuda iaijutsu, sebuah teknik pedang yang mengandalkan kecepatan tebasan dan serangan mendadak.
“Mengubah gaya bertarung ketika terdesak? Bukankah itu terlambat, Arthur?”
Mengabaikan ucapan Daiki, Arthur menunduk sambil mencengkeram erat gagang pedang dan sarung pedangnya dengan posisi siap menebas.
“Black Imoogi style, 12th move ...”
Mendengar itu, Daiki tiba-tiba merinding. Sejauh yang dia ketahui, hanya ada 10 gerakan inti dari Black Imoogi Style. Pada saat kebingungan, dia tiba-tiba melihat tanaman rambat berduri yang terbuat dari api hitam menutupi hampir seluruh arena.
Merasakan firasat buruk, Daiki mencoba mencari celah untuk menerobos. Sayangnya, dia benar-benar terjebak. Sebelum membuat keputusan untuk menerobos lewat mana, suara dingin Arthur kembali terdengar.
“Snakes In Thorny Black Vines!”
Bersama dengan tebasan cepat yang sederhana dan tegas, pola gerakan tanaman rambar penuh duri berubah. Seperti pemicu, reaksi berantai terjadi. Tanaman rambat tak terhitung jumlahnya melesar ke arah Daiki, saling melilit, lalu membentuk 12 ekor ular besar yang membuka mulutnya. Langsung menyerang pria itu dari segala arah!
__ADS_1
BLARRR!!!
Arena langsung berguncang hebat. Melihat ledakan keras dimana 12 ular hitam menabrak ke tempat yang sama lalu menjadi tornado api hitam, semua orang menghirup udara dingin. Jika mereka berada di posisi Daiki, orang-orang itu yakin kalau mereka telah menjadi abu yang tidak bisa lagi dikenali!
Sosok Arthur langsung bergegas maju. Tubuhnya diselubungi oleh api hitam, melompat tinggi. Dia langsung menambahkan serangan lain ke arah tornado hitam.
“Black Imoogi Style, 10th move ... Snake Bite The Moon!”
Bersamaan dengan tebasan Arthur, tebasan yang mirip tornado api kecil dari pedangnya berubah menjadi ular raksasa lalu menabrak tornado api besar yang mengelilingi Daiki.
BLARRR!!!
Ketika arena berguncang lebih hebat, semua penonton langsung berkeringat dingin. Padahal, suhu api dan udara yang menerpa wajah mereka sangat panas. Mereka berpikir kalau Arthur sama sekali tidak berniat melakukan pertandingan persahabatan, tetapi datang untuk membunuh orang!
Arthur mendarat. Tubuhnya langsung dipenuhi keringat. Serangan itu bukanlah sesuatu yang bisa dia ulangi terus-menerus, tetapi memerlukan kesempatan khusus untuk dilancarkan. Meski tidak sekuat teknik pamungkas yang dia simpan untuk situasi terpojok, serangannya memang sudah lebih baik daripada teknik pedang Black Imoogi yang biasa.
Pemuda itu kemudian menunggu api reda. Meski ingin mematikannya, tetapi dia sama sekali tidak merasakan napas Daiki semakin lemah. Sebaliknya, tampaknya masih cukup stabil. Hal tersebut membuatnya bertanya-tanya apakah dirinya memang sedang melawan manusia.
Api akhirnya padam. Saat itu, mata semua orang terbelalak ketika melihat sosok Daiki yang masih berdiri tegap. Meski armor emas rusak parah dan tubuhnya penuh dengan luka bakar, dia masih berdiri seperti gunung yang tidak bisa diruntuhkan. Meski semua orang tahu kalau pria itu terkenal atas daya tahannya, mereka semua tidak menyangka kalau ketahanannya begitu mengerikan.
“Cukup!” ucap Daiki dengan nada tegas.
“Kita tidak di sini untuk saling membunuh. Sebagai ketua Divisi 9, Aku, Daiki mengakuimu, Arthur! Kamu benar-benar layak menyandang nama ketua Divisi 10.
Bukan hanya menunjukkannya kepadaku, tetapi juga pada dunia. Kalau begitu, pertandingan ini selesai. Aku mengaku kalah karena ini tidak pantas dilanjutkan.
Ini kemenanganmu.”
Mengatakan itu, Daiki berbalik lalu berjalan dengan langkah tegap seperti biasa. Sama sekali tidak tampak lemas atau merasa kesakitan. Ketika orang itu menghilang, Arthur menyeringai sambil mengepalkan tangannya dengan ekspresi tidak percaya.
“OOOHHH!!!”
Di bawah sorakan para penonton, pemuda itu sama sekali tidak merasa senang. Sebaliknya, dia merasa kalau keterampilannya pun masih belum sempurna dan perlu diasah.
Arthur merasa kalau dirinya perlu kembali mempertajam dan memperdalam pemahamannya tentang berbagai keterampilannya sendiri!
>> Bersambung.
__ADS_1