Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
158


__ADS_3

Setelah bertemu dengan pria paruh baya tersebut, Arthur dan kedua rekannya benar-benar terkejut. Mereka memiliki pemahaman baru tentang kelompok yang memaksa Arthur bergabung ke dalamnya.


Arthur tidak mengambil semuanya, hanya beberapa bahan yang dibutuhkan untuk memasak lalu berterima kasih kepada pria paruh baya itu.


Setelah orang itu pergi, Arthur menguji bahan-bahan sebelum memasak. Berbeda dengan dugaan dimana mereka coba diracuni, ternyata bahan-bahan itu asli dan dalam kondisi segar.


Hal tersebut membuat pemuda itu merasa cukup puas dengan apa yang dilakukan organisasi tempat dia dipaksa bekerja.


Arthur kemudian menyiapkan semua bahan lalu memasaknya di sore hari. Baru pada saat petang masakan terselesaikan.


Setelah makan malam, mereka tidur bergantian lalu berangkat pada pagi harinya. Barulah beberapa hari kemudian mereka hampir sampai di tempatnya.


“Sungguh ... siapa yang punya ide untuk membangun markas di tempat semacam ini dan membuat penghalang raksasa sehingga tidak bisa terbang?”


Menghabiskan liburan musim dingin dengan bermalas-malasan, Arthur yang sangat jarang bergerak merasa kelelahan.


Jika orang lain melihatnya, mereka pasti langsung meragukan apakah pemuda itu memang kultivator tingkat Gold atau tidak. Lagipula, tidak mungkin bagi kultivator tingkat tinggi merasa kelelahan karena hal sepele semacam itu.


“Arthur, Arthur ... kamu berkeringat deras.”


Lily menatap ke arah Arthur dengan sepasang mata besar, tampak imut ketika penasaran.


“Bersabarlah Bos. Seharusnya hanya satu tanjakan lagi.”


Joe menghibur Arthur. Namun dia merasa penasaran dalam hatinya. Lagipula, dirinya yang masih berada di tingkat silver tidak begitu kelelahan. Jadi melihat Arthur yang berbakat bisa tampak seperti ikan keluar dari air, pria itu mulai meragukan kehidupan.


‘Apakah ini konsekuensi kesombongan? Karena terlalu malas dan banyak minum anggur, tubuhnya dilubangi (rusak)? Tidak bisa mendaki gunung seperti ini?’


Sementara Joe merasa ragu, Arthur menatap ke arah anak tangga yang begitu panjang menuju ke atas gunung. Memang benar, itu tanjakan terakhir. Namun anak tangga kali ini benar-benar terlalu tinggi.


Menyeka keringat yang mengalir sampai ke dagunya, Arthur berkata dengan nada kesal.


“Tempat terkutuk ini! Jauh dari kota, dikelilingi pegunungan dengan tebing curam, dan sangat-sangat sulit diakses. Siapapun yang mendesain markas ini pasti sakit jiwa!”


Mendengar keluhan Arthur, mata Joe berkedip.


‘Bukankah itu berarti tempat ini bebas gangguan dan sulit diserang musuh? Hanya perasaanku, atau memang cara berpikir kita terlalu berbeda Bos?’


Lily masih tampak polos. Dia berdiri di depan Arthur dengan dua tangan terkepal. Gadis kecil itu menggerakkan tangannya dengan penuh semangat.

__ADS_1


“Ayo Arthur, semangat. Kamu pasti bisa. Hanya satu tanjakan lagi, lebih baik daripada turun ke bawah.”


“...”


Melihat Lily yang bersorak untuknya membuat Arthur merasa rumit. Di satu sisi, dia merasa senang karena gadis itu mau menghiburnya. Di sisi lain, pemuda itu merasa agak sakit hati dan tidak berdaya karena merasa dikalahkan habis-habisan oleh gadis kecil.


“Siapa bilang aku kelelahan? Tanjakan semacam ini sama sekali tidak akan menghentikanku!”


Mendengarkan ucapan Arthur, Joe ingin meludah dan mengutuk. Namun dia masih bisa menahan diri dan hanya mengeluh dalam hati.


‘Siapa yang coba kamu bohongi Bos? Kamu berkeringat deras, bahkan tampak bisa roboh kapan saja? Apanya yang tidak ada apa-apanya?’


Melihat Arthur berjalan dengan tongkat dan mulai kembali mendaki, Joe hanya bisa menghela napas panjang dengan ekspresi rumit. Dia bersumpah dalam hatinya untuk tidak bermalas-malasan atau minum anggur terlalu banyak.


Joe sama sekali tidak ingin berakhir dengan cara menyedihkan seperti Bosnya!


Sekitar satu setengah jam kemudian, Arthur, Joe, dan Lily akhirnya sampai di atas gunung tempat beberapa bangunan indah dan megah berada.


Baru saja sampai di medan datar, jalan depan bangunan, Arthur langsung berbaring terlentang di atas ubin dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Entah kenapa, pemuda itu merasa tubuhnya sangat lelah.


Dibandingkan tubuh pemuda, Arthur merasa tubuhnya mirip dengan tubuh lelaki tua. Benar-benar sangat rentan!


Pada saat itu, suara lelaki tua yang sembrono terdengar di telinga Ark.


“Kamu benar-benar tampak seperti ayam lemah, Nak.”


Mendengar itu, Arthur langsung duduk lalu menoleh ke sumber suara. Di sana, tampak sosok lelaki tua yang duduk di bawah pohon plum dengan bunga-bunga bermekaran sambil membawa botol labu.


Dari kejauhan, aroma harum sudah tercium. Jelas, apa yang dibawa oleh lelaki tua itu adalah anggur.


“Anda-“


“Daripada fokus pada rasa lelahmu. Bagaimana kalau melihat ke arah sekitar? Mungkin pemandangan bisa mengurangi rasa lelahmu?”


Mendengar itu, Arthur berdiri lalu melihat ke sekitar. Bangunan kuno yang megah dan indah memang luar biasa, tetapi dia hanya melihat sekilas sebelum mengalihkan pandangannya.


Saat itu, Arthur tiba-tiba terpana.


Sejauh mata memandang, dia melihat banyak gunung-gunung yang menembus awan. Namun bukan pemandangan itu yang membuatnya terkejut.

__ADS_1


Di setiap gunung, entah itu di pinggir jalan atau tebing terjal, tampak banyak sekali pohon plum dengan bunga-bunga bermekaran. Menghasilkan pemandangan yang begitu luar biasa.


Saat itu juga, angin kencang berhembus, menerbangkan kelopak bunga tak terhitung jumlahnya. Benar-benar pemandangan yang menghibur mata dan menyejukkan hati.


“Ya ... aku senang kamu juga menyukainya.”


Mendengar ucapan lelaki tua tersebut, Arthur menoleh dengan ekspresi penasaran.


“Anda?” tanya pemuda itu.


“Sama sepertimu, ketua salah satu divisi Garden of Death.”


Setelah menjawab dengan asal-asalan, lelaki tua itu menuangkan anggur ke wadah kecil lalu menyesapnya perlahan. Menikmati rasa manis, pahit, dan agak panas membuatnya menghela napas dengan ekspresi puas.


Lelaki tua tersebut kemudian melirik ke arah Arthur lalu berkata, “Masuk ke dalam terlebih dahulu, Ketua telah menunggumu di sana.”


“Baik.”


Setelah mengatakan itu, Arthur memberi hormat lalu pergi bersama dengan kedua rekannya. Namun mereka dihentikan ketika hendak masuk ke bangunan utama. Menurut penjelasan penjaga, hanya ketua divisi yang boleh masuk ke dalam.


Jadi, sementara dua rekannya diantar ke bangunan khusus untuk para anggota divisi yang akan tiba, Arthur masuk ke tempat itu sendiri.


Sesampainya di dalam, Arthur langsung melihat pemandangan luar biasa dimana tampak kuno tetapi juga mewah. Kata ‘boros’ adalah yang pertama kali muncul dalam kepalanya ketika melihat pemandangan itu.


Di sana, ada pelayan yang mengenakan pakaian indah. Wanita itu memberi hormat pada Arthur, lalu memberi isyarat untuk mengikutinya.


Masuk semakin dalam, semakin indah juga pemandangannya. Bukan hanya tempatnya luas, tetapi ada juga beberapa tanaman sangat berharga yang digunakan sebagai pajangan. Membuat mata Arthur hijau, benar-benar ingin mengambil lalu melemparkannya ke demi plane miliknya.


Setelah berjalan beberapa saat, Arthur akhirnya sampai di depan pintu besar.


“Masuk.”


Suara lelaki tua terdengar dari dalam. Melihat ke arah pelayan yang mundur, Arthur membuka pintu lalu masuk ke dalam.


Pemuda itu telah mempersiapkan mentalnya. Namun saat masuk ke dalam ruangan, dia benar-benar tercengang. Otaknya bekerja dengan cepat. Melihat sosok yang duduk di kursinya, Arthur merasakan keraguan.


“Anda kan ...”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2