
Dua bulan kembali berlalu begitu saja.
Sekarang, sudah sembilan puluh hari sejak kedatangan Arthur dan 11 orang lainnya. Dalam waktu ini, selain berlatih, mereka juga mendapatkan banyak kelas teori. Menjelaskan tentang makhluk-makhluk jahat, obat-obatan, dan sebagainya.
Di lembah tempat dimana istana utama dan kota kecil berada, tampak banyak pohon plum yang berbunga. Berbagai warna indah mulai menggantikan hamparan putih yang sebelumnya menutup dunia.
Di depan sebuah toko tempa peralatan harian, sosok pemuda tampan muncul dengan ekspresi gelap di wajahnya.
"Beri aku penjelasan, Pak Tua!"
Arthur berdiri di depan bos toko dengan ekspresi tegas. Bos toko, seorang pria tua dengan perut gempal dan rambut tipis berkeringat deras. Dia menatap ke arah pemuda di depannya dengan ekspresi agak takut.
"Mohon maafkan saya, Tuan Muda. Tuan Shigekuni datang ke sini dan melakukan protes, jadi ... jadi saya tidak berani membuatnya."
"Kenapa!? Aku yang memesannya. Itu tidak ada hubungannya dengan lelaki tua bau itu!"
"M-MAAF!!!"
Bos toko itu berteriak ngeri. Pria paruh baya itu bahkan merasa teraniaya. Namun dia tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.
'Bukankah itu karena anda menggunakan logam berharga untuk membuat peralatan memasak! Anda benar-benar tidak memiliki hati!'
Pria paruh baya itu merasa ingin menangis. Satu bulan yang lalu, seorang pemuda datang kepadanya dan meminta dirinya untuk membuat beberapa peralatan memasak. Melihat pakaian pemuda itu, dia sama sekali tidak berani menolak.
Hanya saja, siapa sangka pemuda itu membawa logam mahal yang biasanya digunakan untuk membuat pedang atau armor untuk membuat peralatan memasak.
Pada awalnya bos toko berpikir kalau pemuda itu bercanda. Namun siapa sangka, ternyata itu benar. Setelah merasa ragu, dia akhirnya setuju.
Semuanya berjalan lancar dan dia mendapatkan banyak penghasilan. Ya ... setidaknya pada awalnya seperti itu.
Akan tetapi, pemuda itu kembali satu minggu sekali untuk membuat berbagai peralatan dari yang normal sampai bentuknya agak aneh. Saat itu juga, bos toko mengetahui identitas pemuda itu.
Orang yang dipanggil dari dunia lain. Murid inti dari Pilar Naga, Arthur!
Normalnya, setiap 12 orang yang dipanggil akan mendapatkan subsidi. Bukan hanya makanan atau tempat tinggal, tetapi juga mendapatkan pil obat dan benda-benda berharga setiap bulan.
Dari 12 orang, banyak yang meminta obat-obatan untuk mengobati fisik karena latihan keras. Ada juga obat-obatan yang mereka persiapkan untuk perjalanan mereka. Namun, ada satu orang yang sangat melenceng dari jalur.
Dia memilih untuk bertukar dengan benih berbagai tanaman obat, khususnya yang memiliki rasa dan bisa menjadi pengganti rempah. Pemuda itu juga meminta beberapa hal aneh. Dan yang paling sering dia minta adalah ...
Ingot logam tertentu!
Pada awalnya, semua orang merasa itu normal. Shigekuni bahkan menangis terharu karena berpikir muridnya akhirnya sadar betapa berbahayanya dunia luar. Tampaknya bersiap membuat armor dan senjata. Namun ekspresinya langsung menjadi mengerikan ketika mendengar berita satu bulan kemudian.
__ADS_1
Siapa sangka, murid yang dia banggakan bukan hanya tidak berubah ... tetapi menjadi semakin keterlaluan. B-jingan itu benar-benar membuat peralatan memasak dengan logam berharga!
Sementara orang lain berpikir tentang kuatnya logam, betapa tajamnya jika dibuat sebagai senjata, atau hal-hal lainnya, Arthur malah fokus pada hal berbeda.
Bisa menghantarkan panas secara merata, kokoh, dan ringan. Sangat cocok digunakan untuk dibuat wajan atau peralatan memasak lain. Ada juga beberapa logam yang bisa menahan panas, jadi dia ingin membuat oven tradisional dan alat pengasapan. Sebuah kotak yang di dalamnya panas, tetapi di luar tetap dingin.
Idenya cukup menarik, tetapi jelas diarahkan ke tempat yang salah!
"Sepuluh hari, Pak Tua! Kamu harus menyelesaikan alat pengasapan sebelum sepuluh hari karena aku harus pergi.
Kamu hanya perlu membuatnya. Hal-hal lain ... biarkan aku yang akan menanggungnya."
"Baik, Tuan Muda!"
Berpikir kalau itu adalah yang terakhir, bos toko merasa sangat bahagia. Dia merasa ingin menangis karena terharu.
"Jika kamu berkata begitu kasar, orang-orang pasti akan berpikir kalau para pahlawan yang dipanggil adalah orang kasar dan suka menindas."
Suara dingin terdengar. Saat itu, semua orang menoleh ke arah yang sama.
Di sana, tampak sosok gadis dengan pakaian murid inti. Dia memiliki paras cantik, rambut merah panjang yang mencolok, dan sepasang mata bagai amber. Gadis itu membawa tombak merah dan tampak indah di punggungnya.
Di sebelah gadis tersebut, tampak seekor singa muda dengan bulu merah. Makhluk itu memiliki sepasang sayap dan satu tanduk di dahinya. Dia menatap ke arah Arthur dengan wajah ganas.
"Siapa?" Arthur memiringkan kepalanya.
"Jika aku kenal, kenapa aku harus bertanya?"
"Salah satu dari 12 orang yang terpilih. Murid inti dari Pilar Harimau ... Amelia Vermillion!" ucap Amelia dengan ekspresi penuh kebanggaan.
Arthur mengelus dagu dengan ekspresi termenung. Setelah beberapa saat, dia kemudian berseru.
"Oh! Si rambut merah yang mencolok!"
"Amelia! Berhenti memanggilku dengan julukan aneh, Arthur!" Amelia menunjuk ke arah Arthur.
"Ya. Terserah. Intinya, aku tidak melakukan tindak penindasan. Sebaliknya, aku membayar banyak uang untuk pria ini. Hanya saja, ada masalah.
Karena oknum tertentu, pesananku tidak dikerjakan. Hal tersebut bukan hanya merugikan aku, tetapi juga merugikan pak tua ini.
Apakah aku salah?"
"..."
__ADS_1
Bos toko terdiam, entah kenapa dia merasa agak kasihan kepada Pilar Naga, Tuan Shigekuni. Lelaki tua itu jelas mencegah muridnya melakukan pemborosan bahan berharga. Namun siapa yang menyangka, muridnya benar-benar menganggapnya sebagai oknum tertentu yang merugikan.
Benar-benar keterlaluan!
"Eh? Tapi kamu—"
"Maaf, Nona. Meski saya benci mengakuinya, tetapi berbisnis dengan Tuan Muda Arthur memang sangat menguntungkan."
Bos toko menghela napas. Di satu sisi, dia mengatakan hal tersebut karena memang nyata. Di sisi lain, dia tidak ingin dua murid inti membuat lebih banyak keributan di tokonya. Lagipula, saat ini sudah banyak orang yang menonton mereka.
"Jadi ini murni kesalahpahaman gadis yang suka bermain sebagai pahlawan?!" Arthur menatap Amelia dengan senyum di wajahnya.
"Hmph! Tetap saja kamu berteriak kasar dan membuat banyak orang curiga kepada kita, orang-orang yang terpilih.
Jadi kamu harus ingat ..."
Amelia berbalik pergi sambil menggoyangkan rambut merahnya sambil berkata.
"Jangan sampai bertemu denganku lain kali atau aku yang akan membereskanmu. Selamat tinggal, Arthur!"
"..."
Melihat gadis yang datang dan pergi dengan gaya, Arthur dan bos toko saling memandang dengan ekspresi aneh. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang gadis itu inginkan. Rasanya cukup membingungkan.
...***...
Siang harinya, di depan istana utama.
Tampak banyak orang berkumpul di sana. Namun yang paling menarik adalah 12 orang dengan pakaian murid inti dengan senjata indah dan hewan peliharaan yang mengikuti mereka.
Dalam barisan tersebut, Arthur melirik ke sosok yang berdiri di sebelah kanannya. Melihat sosok Amelia yang menunduk malu, dia menyeringai.
"Yo! Tampaknya kita bertemu lagi, Nona Vermillion. Aku benar-benar takut dipukuli sampai mati."
Mendengar ucapan Arthur, Amelia yang sebelumnya pergi dengan gaya benar-benar merasa malu. Wajahnya merah sampai ke pangkal lehernya. Dia ingin melarikan diri, bersembunyi dari pemuda menyebalkan yang berdiri di dekatnya itu.
Amelia tidak bisa tidak mengeluh tentang kecerobohannya.
'Sungguh! Kenapa aku bisa melupakan pertemuan penting antara dua belas orang terpilih ini!'
^^^>> Bersambung.^^^
---
__ADS_1
Bantu Author Kei dengan vote, like, dan komentar. Kalian juga bisa memberikan gift agar author lebih semangat.
Terima kasih!