Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Kertas Kosong dan Berisi


__ADS_3

“Memang benar, sama seperti anda, tidak banyak orang percaya pada keberadaan Dewa Gunung. Namun, kejadian yang terjadi baru-baru ini membuat beberapa orang mulai mempercayai mitos tersebut.”


Mendengar penjelasan dari Koga, Arthur mengangguk ringan.


Menghilangnya orang-orang yang pergi ke gunung ditambah kejadian dimana sumber daya alam mulai mengering memang bisa dikaitkan dengan keberadaan makhluk semacam itu. Belum lagi, di dunia yang cukup kuno ini, banyak hal yang hanya dia dengar dari dongeng atau cerita rakyat itu nyata.


Demonic beast, iblis, roh, hantu, kultivator ... hal-hal semacam itu nyata di dunia ini.


Jadi, Arthur sendiri tidak akan begitu terkejut jika ada sosok makhluk yang mengaku atau dianggap sebagai Dewa.


“Kalau begitu, berikan informasi tentang keberadaan makhluk itu. Semakin rinci semakin baik. Lagipula, alasanku datang memang untuk menyingkirkannya.”


“Terima kasih! Terima kasih banyak, Tuan Arthur!”


Koga menundukkan kepalanya dengan ekspresi hormat. Meski mengetahui alasan Arthur sebenarnya untuk mendapatkan bayaran, dia masih bersyukur ada orang yang mau menolong kerajaan.


“Kalau begitu, tolong panggil satu saja petugas yang telah melihat keberadaan makhluk itu. Jika bisa, mereka yang telah melakukan patroli di sekitar gunung sehingga aku bisa mendapatkan informasi sarang makhluk tersebut.”


“Soal itu ...” Koga tampak malu.


“Apakah ada masalah?” tanya Arthur.


“Sebenarnya, sebelum kedatangan kalian, selain mencegah informasi bocor, kami juga mencoba menyingkirkan makhluk itu sendiri. Namun, ternyata kami terlalu percaya diri.


Setiap tim, bahkan pasukan yang dikirim untuk menaklukkan makhluk iyu sama sekali tidak kembali. Bukan hanya pasukan, tetapi setiap orang yang pergi ke gunung akhirnya dimakan oleh makhluk itu.”


“...”


Pada saat mendengarkan penjelasan Koga, Arthur mengerutkan kening. Itu berarti, keputusannya datang ke kota salah. Bukan hanya kota tidak diserang, tetapi sama sekali tidak mendapatkan informasi yang berguna.


“Jadi, kamu sama sekali tidak memiliki informasi berguna untuk kami?”


“Uh ... itu ...” Koga menunduk. “Maafkan saya, Tuan Arthur. Kami memang tidak memiliki informasi yang berguna.”


“Lalu kenapa kalian perlu membawa kami ke tempat ini?”


“S-Saya hanya tidak ingin membuat keributan di alun-alun. Jika menjelaskan semuanya di sana, para warga yang mendengarnya pasti menjadi panik. Oleh sebab itu, saya membawa anda dan rekan-rekan anda ke sini.”


Melihat wajah gugup Koga, Arthur mengangguk ringan. Meski merasa tidak begitu puas karena tidak mendapatkan informasi berguna, dia masih cukup puas dengan sikap Koga yang mementingkan rakyatnya.

__ADS_1


Lagipula, pejabat seharusnya ada dari rakyat dan untuk rakyat. ‘Makhluk’ yang membuat undang-undang untuk melindungi kepentingan sendiri dan mencoba menekan rakyat sama sekali tidak cocok dengan jabatan tinggi.


Orang-orang berpikiran buruk, berhati sempit, dan tidak menjalankan tugasnya dengan benar ... mungkin lebih pantas dipanggil ‘kera tanpa ekor’ karena tidak memiliki penampilan manusia. Namun, tidak berperilaku seperti manusia.


Ya ... itulah kenapa kultivator di dunia ini merasa jijik dan merendahkan orang-orang biasa dan tidak memiliki banyak kasih sayang.


Mungkin mereka merasa kalau manusia-manusia semacam itu tidak pantas mereka lindungi.


Tentu saja ada beberapa pengecualian. Meski banyak kultivator menganggap manusia biasa lebih rendah, tetapi ada juga yang berdedikasi untuk melindungi umat manusia.


Di kerajaan-kerajaan, pasti ada pejabat kota dan bangsawan yang baik. Tidak semuanya buruk karena ada penglihatan berbeda dalam setiap pandangan.


Contohnya, ada lima orang yang melihat padang rumput bersamaan. Di antara mereka, ada yang fokus melihat langit biru yang luas, melihat padang rumput hijau sejauh mata memandang, melihat bunga-bunga liar di padang rumput, atau mungkin melihat kuda-kuda yang berlarian di sana.


Pemandangan yang sama, tetapi cara melihat yang berbeda. Itu juga terjadi pada pandangan orang-orang terhadap kehidupan.


“...”


Arthur tidak langsung mengatakan apa-apa, hanya duduk diam di tempatnya sejenak.


Pada saat itu, tampak sosok kecil berlari dari dalam ruangan. Dia langsung berlari ke arah Arthur dan berhenti di depan pemuda itu.


Bocah kecil itu membungkuk sembilan puluh derajat sambil berkata dengan nada tegas, tetapi juga kekanak-kanakan.


“Kotaro!” ucap Koga tegas. Pria itu kemudian menatap ke arah Arthur dengan ekspresi minta maaf. “Maafkan ketidaksopanan putra saya, Tuan Arthur.”


“Sama sekali tidak masalah. Selain itu, aku datang ke sini untuk bekerja. Ada informasi atau tidak, aku akan melakukannya.”


“Eh?” Kotaro tampak terkejut.


Menurut pengalaman pria itu, kebanyakan kultivator memiliki sikap yang bangga. Jika merasa ditipu atau dirugikan, mereka tidak segan-segan berbalik tanpa sepatah kata. Bahkan, ada kultivator ekstrem yang langsung menyerang sebagai balas dendam.


“Omong-omong ... namamu Kotaro?” tanya Arthur.


“Eh?” Kotaro mengangkat wajahnya. “Iya, Tuan Kultivator?”


“Kenapa kamu ingin kami melindungi kota ini? Apakah kamu takut rumahmu dihancurkan atau semacamnya?” tanya Arthur dengan nada setengah bercanda.


“Anu ... S-Saya memiliki banyak terman, Tuan Kultivator. Saya dengar, jika sampai kota diserang, pasti banyak orang tua yang bertarung melawan musuh.

__ADS_1


Jika ... jika sampai mereka tidak kembali, teman-teman saya pasti sedih.”


Kotaro menggaruk kepalanya dengan ekspresi bingung, tampak agak naif.


“Bukankah teman-temanmu dan keluarganya juga bisa melarikan diri dari kota? Apa masalahnya?”


“Sebenarnya, tidak semua teman saya bisa keluar kota dengan mudah. Kehilangan keluarga, itu pasti menyedihkan. Saya sangat sedih ketika nenek meninggal, memikirkan bagaimana jika saya sampai kehilangan ayah dan ibu, itu pasti menyedihkan dan menyakitkan.


Jadi, tolong bantu kota kami, Tuan Kultivator!”


“Teman, kah?” ucap Arthur dengan senyum ramah.


Pemuda itu lebih suka mendengar kata-kata naif anak kecil daripada ucapan lihai para orang dewasa. Menurutnya, anak kecil itu seperti kertas putih. Orang tua, teman, dan lingkungan adalah tintanya.


Anak kecil ingin menyelamatkan atau membantu orang karena dia mengenal mereka dan sayang kepada mereka. Sebuah kasih sayang yang masih tulus dan murni.


Sedangkan orang dewasa, pikirannya sudah penuh dengan coretan tinta karena banyak hal yang telah dialaminya. Entah dari ajaran orang tua, teman, atau tekanan lingkungan kepadanya.


Mereka cenderung memikirkan keuntungan. Disuruh berteman dengan orang miskin atau orang kaya, hampir semua orang pasti memilih dengan orang kaya karena lebih menguntungkan.


Begitulah faktanya. Tidak perlu ditutup-tutupi dengan kemunafikan atau hal-hal semacamnya.


Itu juga perbedaan dari kertas kosong dan kertas yang telah diisi dengan berbagai tulisan atau gambar.


“Kamu tidak perlu khawatir, Kotaro. Kami akan mengalahkan monster jahat itu karena itulah pekerjaan kami. Sama seperti ayahmu yang mengelola kota atau beberapa orang tua temanmu yang menjadi pejabat atau pemetik herbal, kami, para kultivator juga punya pekerjaan sendiri.”


“Benarkah?” tanya Kotaro dengan mata penuh bintang.


“Tentu saja benar.”


Arthur mengangguk ringan. Dia sama sekali tidak menganggap dirinya sebagai pahlawan. Pemuda itu tidak munafik atau mencoba menipu diri sendiri.


Alasan kenapa dia datang karena dibayar. Selain itu, juga untuk hadiah yang akan diberikan Divisi 6. Bukan alasan murni untuk memusnahkan iblis, menjadikan dunia lebih baik, atau semacamnya.


Setelah makan beberapa camilan dan minum teh, Arthur berdiri. Dia mengangguk ke arah Koga dan Kotaro lalu berkata.


“Waktunya bekerja, Teman-teman.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2