
“Musim ini sama sekali tidak cocok untuk membuka toko.”
Melihat pemandangan dunia yang diselimuti dengan warna putih membuat Arthur bergumam dengan eskpresi penuh dengan penyesalan. Padahal dia sudah begitu antusias untuk membuka toko baru bersama kedua rekannya sampai repot-repot melakukan renovasi di musim dingin.
Mungkin, lebih tepatnya memaksa kedua rekannya untuk membantunya melakukan renovasi padahal masih musim dingin.
Keduanya jelas merasa agak enggan, tetapi mereka akhirnya menggertakkan gigi karena melihat ekspresi penuh harap di wajah Arthur. Khususnya Joe, karena berbeda dengan kedua rekannya yang berada di tingkat gold ...
Tingkat silver sepertinya masih agak kesulitan bertahan dalam cuaca ekstrem semacam itu.
“Itulah kenapa aku bilang kita tidak perlu terburu-buru, Bos.”
Joe muncul dari belakang Arthur sambil mengenakan selimut tebal yang membungkus hampir seluruh tubuhnya.
“Bukankah kalian juga bersemangat? Bahkan bekerja begitu keras dan buru-buru ketika badai salju?”
Mendengar pertanyaan itu, ingatan bagaimana mereka bertiga memperbaiki dinding luar padahal sedang ada badai salju muncul. Saat itu juga, sudut bibir Joe berkedut.
‘Bukankah itu terjadi karena kami ingin menyelesaikannya lalu pergi ke dalam untuk menghangatkan dirr? Siapa yang tahan berada di cuaca seperti itu tanpa rasa tertekan dan mencari kehangatan?’
Melihat ke arah Arthur yang memasang ekspresi polos dan tidak bersalah, Joe langsung mengutuk dalam hati.
__ADS_1
‘JADI KAMU ORANGNYA!’
Pada saat itu juga, Joe merasa pantas adegan semacam itu bisa terjadi. Memperbaiki bangunan di musim dingin padahal bangunan masih tampak bagus hanya dilakukan oleh orang-orang berpikiran unik. Ya ... seperti ketua divisi yang membuatnya selalu merasa lelah.
“Arthur, Arthur ...”
Mendengar panggilan Lily, Arthur menoleh.
“Ada apa?”
Pemuda itu memiringkan kepalanya. Ketika melihat Lily membawa bantal duduk, dia langsung mengerti apa yang gadis itu maksud.
“Tapi aku ingin pergi memancing,” gumam Arthur.
Joe tidak bisa tidak tercengang. Melihat dunia yang diselimuti warna putih dan merasakan embusan angin dingin yang menggigit tulang, dia tidak tahu bagaimana Arthur masih bisa berpikir memancing di saat seperti itu.
Lily tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap Arthur dengan sepasang mata yang penuh dengan kilau, seperti bintang yang membuat mata Arthur silau dan tidak tahan.
“Baik, baik. Berikan padaku.”
Arthur menghela napas panjang sebelum kembali masuk ke dalam rumah. Sampai di ruang santai, pemuda itu duduk di atas bantal duduk lalu melirik ke arah Lily.
__ADS_1
Gadis kecil itu berjalan dengan cepat ke arahnya lalu dengan terampil memukul pahanya beberapa kali sebelum dijadikan bantal pangkuan.
Melihat Lily yang berbaring di pangkuannya dengan ekspresi puas, Arthur menghela napas panjang. Dia merasa tidak bisa memperlakukan gadis kecil itu dengan kasar. Jadi hanya bisa menjaganya sebaik yang dia bisa.
Berbicara soal gadis kecil. Sebenarnya, usia Lily sendiri terbilang ‘tua’ dan tidak sesuai dengan penampilannya. Gadis kecil itu bisa saja dipanggil bibi atau mungkin nenek. Hanya saja, penampilan dan cara berpikirnya terlalu tidak cocok dengan usianya.
Jadi, akhirnya Arthur dan Joe tetap memperlakukannya sebagai gadis kecil.
“Omong-omong, tampaknya levelmu telah meningkat dalam beberapa bulan ini, Joe. Kerja yang sangat bagus.”
Ya. Dalam beberapa bulan yang mereka jalani dengan santai, level Joe telah naik. Namun, pria itu tampaknya tidak senang mendengar pujian dari mulut Arthur.
“Apakah kamu mengejekku, Bos?”
“Tidak. Aku hanya-“
“Tidak perlu membicarakan itu! Aku pergi sekarang!”
“...”
Melihat Joe yang pergi dengan marah, Arthur tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka pertanyaan biasa bisa menyinggung pria itu.
__ADS_1
Akan tetapi, Joe tidak sepenuhnya salah. Jika pertanyaan tadi diucapkan oleh orang lain, kesannya pasti normal. Hanya saja, jika diucapka oleh Arthur, itu agak keterlaluan dan terkesan mengejek karena ...
Pemuda itu benar-benar naik dua level hanya dengan makan dan tidur selama beberapa bulan ini!