Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Memang Monster


__ADS_3

Sekitar jam setengah sembilan pagi, Arthur yang baru saja selesai berganti pakaian akhirnya pergi menuju ke arena pertarungan.


Sampai di lokasi, Arthur langsung melihat tempat mirip dengan Colosseum, tetapi memiliki desain khas timur. Tampak indah dan cukup unik. Pada saat berada di sana, pemuda itu melihat banyak sekali penonton. Bahkan cukup banyak kultivator datang.


Sebagian dari mereka adalah seorang kultivator tanpa latar belakang, dan sebagian besar sisanya adalah beberapa guru dari berbagai sekte yang membawa muridnya agar bisa melihat pertarungan kultivator tingkat tinggi. Biarkan mereka mendapatkan pencerahan ketika melihat pertarungan.


“Tuan Arthur, silahkan pergi ke ruang tunggu.”


Salah satu penjaga yang jelas mengenal Arthur langsung menghampirinya. Di depan tatapan terkejut banyak orang, pemuda tampan itu mengikuti penjaga pergi untuk bersiap.


Arthur, Lily, dan Jotaro duduk di ruang tunggu. Menunggu pembawa acara memulai pembukaan lalu memanggil peserta, Arthur bersandar sambil memejamkan mata dengan santai. Sementara itu, Lily dan Jotaro tampak gugup untuknya.


“Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Bahkan jika aku kalah, aku tidak akan mati.”


“Bukan itu masalahnya, Bos! Jika kamu kalah dengan cara buruk. Reputasimu pasti hancur dan banyak orang yang akan menganggapmu sebelah mata.”


“Bukankah itu yang akan terjadi pada Senior Daiki jika kalah? Kami berdua dalam posisi yang sama, jadi pasti tidak akan ada kejadian berlebihan seperti yang kamu pikirkan.”


“Itu ...”


“Tenang saja. Setiap divisi di Garden of Death dilarang untuk saling membunuh. Semuanya akan baik-baik saja.”


Mengatakan itu, Arthur langsung berdiri. Pemuda itu kemudian berjalan menuju ke arena pertarungan karena namanya telah dipanggil. Namun setelah sampai di arena pertarungan, dia benar-benar tertegun.


Bukan karena takut melawan musuh kuat. Bukan juga karena gugup dilihat ribuan orang. Alasan dia tertegun adalah penampilan Daiki yang begitu mencolok. Pria itu memakai sebuah armor perang berwarna emas dan membawa kapak besar dengan warna emas yang sama. Benar-benar berkilauan dan tampak sangat mencolok!


Apa yang Arthur pakai sendiri tidak begitu mencolok, tetapi sangat cocok untuknya. Dia memakai pakaian yang diberikan oleh Pak Shigekuni dan rekan-rekannya dari Dojo Naga. Pakaian berwarna hitam dengan gaya mirip murid inti Sekte Pilar Surgawi, tetapi gambar di pakaiannya digantikan dengan gambar naga timur dengan warna ungu.


Pemuda itu juga membawa sebuah pedang hitam terbaik yang dia miliki selain Gluttony. Berjalan ke depan dengan santai, penampilannya jelas membuat banyak orang terkejut.


“Bukankah dia terlalu muda?”


“Berapa usianya? Tampaknya tidak memakai teknik untuk mengubah penampilannya, kan?”


“Usianya tampaknya kurang dari 20 tahun. Aku pikir itu bohong. Jika tidak, bagaimana mungkin pemuda di usia seperti itu sudah memiliki kekuatan di tingkat gold bintang 2?”

__ADS_1


“Aku mendapatkan informasi yang cukup menarik. Tampaknya pemuda itu adalah junior dari Tuan Arima, sama-sama murid Tuan Shigekuni yang memilih pergi dari sekte. Mungkin dia akan menjadi Arima yang ke-2.”


“Apakah kamu bercanda? Apakah Garden of Death menerima monster lain? Bagaimana mereka bisa mendapatkan informasi dengan begitu cepat? Benar-benar tidak mengizinkan organisasi lain merespon! Langsung curi bibit yang baik begitu saja!”


“...”


Banyak kultivator laki-laki yang merasa takjub dan ngeri. Meski kekuatannya jauh dari Daiki, mereka sama sekali tidak berani menyepelekan Arthur. Khususnya, pemuda itu memiliki potensi yang sangat mengerikan. Sama sekali bukan jenis yang bisa muncul kapan saja dan dimana saja.


Sementara itu, para kultivator perempuan fokus pada hal lain.


“Wow! Bukankah dia terlalu tampan? Belum lagi mata pemuda itu, tampak unik tetapi indah dan memikat!”


“Kulitnya juga halus dan lembut. Apakah dia baik-baik saja? Tidak akan dipukuli monster otot, Tuan Daiki itu, kan?”


“Kenapa pemuda semacam itu benar-benar ceroboh. Bagaimana kalau dia sampai terluka? Lebih baik mengabiskan waktu dengan nona ini. Pasti lebih nyaman dan menyenangkan.”


“Bercermin, Bibi!”


“...”


Melihat banyak orang yang melihat ke arah Arthur dan membicarakannya dengan penuh semangat, Daiki sama sekali tidak cemburu. Baginya, semakin populer Arthur, pemuda itu bisa menjadi alat menghasilkan uang baginya. Bisa dibilang, acara ini sudah sangat sukses.


Daiki berkata dengan seringai di wajahnya. Melihat itu, Arthur mengangkat bahu lalu berkata dengan nada santai.


“Sepertinya, daripada memperhatikan penampilanku, kamu lebih memperhatikan berapa banyak yang didapatkan dari acara ini, Senior Daiki.”


“Hahaha~”


Daiki tertawa terbahak-bahak setelah mendengar itu. Saat itu juga, suara pembawa acara terdengar.


“Karena semua peserta sudah bersiap di tempatnya. Tidak perlu ditunda lagi, mari kita mulai pertarungannya dalam hitungan tiga, dua, satu ...”


“MULAI!”


Dengan begitu, pertandingan mereka berdua pun dimulai.

__ADS_1


Daiki memegang kapaknya dengan erat sambil mengamati Arthur. Sementara itu, pemuda itu langsung menarik keluar pedangnya. Memegang pedang di tangan kanannya, tempramen pemuda itu langsung berubah total. Dia melirik ke arah Daiki, lalu bergegas menyerang pria itu dengan kecepatan luar biasa.


Merasakan tatapan dingin Arthur yang mirip tatapan predator mengincar mangsanya, Daiki tersenyum.


“MAJU!”


Swoosh! BANG!


Muncul di depan Daiki, Arthur langsung menebas dengan kekuatan luar biasa. Meski tidak menggunakan teknik khusus, dia sama sekali tidak menahan diri. Pemuda itu tahu kalau Daiki tidak selemah orang-orang tingkat gold yang dia lawan sebelum. Lagipula, Garden of Death jelas hanya menerima jenius dan monster.


Melihat Daiki berdiri kokoh di tempatnya tanpa bergerak seperti gunung batu, mata Arthur menyempit. Dia langsung memutar tubuhnya, lalu menendang leher pria itu dengan keras.


BANG!


Meski dampak ledakan muncul karena kekuatan tendangannya, tetapi Daiki masih tidak bergerak dari tempatnya. Arthur langsung melompat mundur beberapa meter jauhnya.


Daiki memijat lehernya dengan seringai di wajahnya. Tampaknya kekuatan tendakan Arthur masih dalam perkiraannya. Pria itu kemudian berkata.


“Jangan menahan diri, Arthur. Aku sudah memasang penghalang khusus. Kecuali kekuatan serangan mencapai tingkat platinum, kamu bebas melakukan semuanya tanpa takut merusak arena atau melukai penonton!


Jika kamu tidak melakukannya. Kamu yang tidak mengandalkan teknik dan energi qi sama sekali tidak bisa bersaing dengan kekuatan fisikku.”


Mendengar itu, Arthur jelas tidak setuju. Umpan balik dari Gluttony jelas tidak hanya meningkatkan levelnya, tetapi juga memperkuat tubuhnya. Meski tendangannya keras, dia belum mengerahkan seluruh kekuatannya. Lagipula, biasanya tendangan seperti itu sudah cukup untuk melemparkan musuh di tingkat gold.


“Sungguh ... aku akhirnya menggerti kenapa Garden of Death berbeda,” gumam Arthur.


Energi hitam mulai muncul dari dalam tubuh Arthur. Api hitam mulain menyelimuti bilah pedangnya. Saat itu juga, dia mengatur seberapa banyak kekuatan fisik yang harus dia gunakan untuk melawan Daiji. Pemuda itu yakin, dia tidak akan bisa melukai lawan jika tidak bermain serius.


“Bagus! Ini akan menjadi pertandingan yang menarik!”


Energi berwarna emas muncul dari tubuh Daiki. Ekspresi pria itu sama sekali tidak berubah. Dia malah tampak lebih senang. Tekanan yang terpancar dari tubuhnya membuat banyak kultivator muda merasa ketakutan.


Melihat ke arah Arthur yang menatapnya dengan sepasang mata bagai safir dan zamrud yang berkilat dingin, Daiki memasang kuda-kuda dan berteriak.


“Kamu memang monster, Arthur! Begitulah seharusnya orang-orang yang dipilih oleh pemimpin!”

__ADS_1


“MAJULAH!”


>> Bersambung.


__ADS_2