
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar. Manabu menatap ke arah Takeo yang duduk di kursi lalu ke Satoru yang berbaring di ranjang atas sambil melamun. Melihat mereka tidak merespon, dia menghela napas panjang.
“Masuk saja.”
Setelah ucapan Manabu terucap, pintu kamar terbuka. Sosok pemuda dengan rambut coklat dan berkacamata masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi gugup di wajahnya. Dia menatap tiga orang dalam kamar lalu membungkuk sambil memperkenalkan diri.
“Nama saya Ono, mohon bantuannya mulai sekarang.”
Manabu melihat ke arah Ono yang begitu sopan lalu menatap Takeo dengan ekspresi curiga. Sama seperti dirinya, tampaknya temannya juga curiga. Meski tidak begitu mencolok seperti Satoru, tampaknya Ono juga bukan dari pedesaan seperti mereka.
“Yo! Salam kenal, Sobat! Panggil saja aku Takeo.” Takeo mengangkat tangannya sambil menyapa.
“Namaku Manabu. Aku harap kita bisa akrab ke depannya,” ucap Manabu dengan ramah.
Satoru sendiri bangun. Dia duduk di atas ranjang lalu menatap ke arah Ono. Mengangkat tangannya, pemuda itu balas menyapa.
“Namaku Satoru. Senang berkenalan denganmu.”
Melihat ke arah Satoru, Ono tampak terkejut. Dengan ekspresi penuh keheranan, pemuda itu bereaksi secara berlebihan.
“Anda kan-“
Belum sempat menyebutkan namanya, Ono langsung diam ketika Satoru memicingkan matanya. Dia langsung menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah pemuda itu dengan ekspresi penuh pengertian. Sama seperti dirinya, tampaknya ada alasan kenapa Satoru pergi ke sekolah terpencil seperti ini.
“Apakah kalian saling kenal?” tanya Manabu.
“Tidak.” Satoru menggelengkan kepalanya. “Mungkin dia salah lihat.”
“Un!” Ono mengangguk dengan ekspresi gugup. “Maaf, sepertinya saya salah lihat. Lagipula, penampilan Satoru-san agak mirip bintang di tv.”
“Ya! Bahkan kamu juga berpikir seperti itu!” Takeo tampaknya setuju.
“Aku pikir kamu dari Tokyo seperti Satoru-kun.” Manabu tersenyum ramah.
“Saya berasal dari Sapporo.”
Ono menghela napas setelah mengatakan tempat tinggalnya. Melihat penampilan pemuda itu, Satoru, Manabu, dan Takeo saling melirik.
__ADS_1
Berbeda dengan Satoru yang menutupi masalahnya dengan baik, tampaknya Ono memiliki kesulitan dan berakhir ke tempat ini. Tentu saja, karena belum terlalu mengenalnya, mereka bertiga tidak mencoba bertanya-tanya karena bisa membuat Ono tidak nyaman.
“Kamu datang paling akhir, jadi kamu tidak bisa memilih tempat tidur. Itu milikmu.” Takeo menunjuk ke ranjang kosong di bawah milik Satoru.
“Sudah hampir waktunya makan malam. Setelah Ono-kun menyimpan barang-barangnya, bagaimana kalau kita makan malam bersama?” tanya Manabu.
Tiga orang lain sama sekali tidak keberatan. Setelah Ono memindahkan barang bawaannya, mereka pergi ke kantin untuk makan malam.
Makan malam bersama sambil berbincang, hubungan mereka berempat menjadi lebih akrab dari sebelumnya.
Berbeda dengan Satoru dan Ono yang masuk ke jurusan teknik peternakan, Manabu ada di jurusan teknik pertanian, dan Takeo ada di jurusan mekanisasi pertanian.
Meski menjadi sekolah paling luas, Akademi Greenfield hanya memiliki tiga jurusan yaitu teknik peternakan, teknik pertanian, dan mekanisasi pertanian.
Sama seperti nama-namanya, teknik peternakan mengajarkan murid hal-hal yang berkaitan dengan peternakan entah itu cara merawat, membesarkan, breeding, dan semacamnya.
Teknik pertanian mengajarkan murid hal-hal yang berkaitan dengan pertanian seperti menanam sayur, buah, padi, dan juga merawatnya.
Sedangkan mekanisasi pertanian sendiri mengajarkan murid untuk mempelajari mesin-mesin yang berhubungan dengan pertanian. Membuat mereka menjadi mekanik khusus kendaraan atau alat pertanian.
Setelah makan malam bersama, mereka berempat kembali ke asrama. Meski jam tidur belum berlaku karena sekolah belum dimulai, mereka mencoba membiasakan diri terlebih dahulu.
Melihat pemandangan semacam itu, senyum lembut yang jarang terlihat muncul di wajah Satoru.
◊◊◊
Pagi di hari berikutnya.
Karena masih jam empat pagi, rekan sekamar Satoru belum bangun dari tidur mereka.
Tanpa membangunkan mereka, pemuda itu pergi minum air mineral lalu ke kamar mandi untuk mencuci muka serta menggosok gigi. Merasakan sensasi dingin air yang mengenai kulitnya, dia sedikit menggigil.
Satoru menatap cermin dengan ekspresi serius, terlihat cukup dingin dan tidak seperti biasanya.
‘Aku akan membuktikan pada Pak Tua itu kalau aku bisa bertahan bahkan tanpa dirinya.’
Kembali ke kamarnya, Satoru yang telah berganti pakaian olahraga mengambil sepatu. Dia berniat untuk melakukan lari pagi. Karena sekolahnya terlalu luas, pemuda itu berangkat lebih awal agar tidak ketinggalan sarapan.
Hanya saja pemuda itu tampaknya berubah setelah lima belas menit berlari dari gedung asrama. Dia memberlambat larinya ketika melihat pemandangan di sekitar. Merasakan sensasi tidak nyaman karena hampir tersandung beberapa kali, Satoru tidak bisa tidak mengeluh.
__ADS_1
“Tempat hantu macam apa ini! Lupakan jalan tanah, tidak perlu diaspal, tetapi setidaknya berikan penerangan di pinggir jalan!”
Satoru benar-benar merasa tertekan. Dia merasa salah perhitungan. Pemuda itu pikir bisa berkeliling sekolah dengan nyaman, berolahraga sambil membiasakan diri. Namun semuanya berbeda dari rencananya.
Tiang lampu ternyata hanya ada di sekitar bangunan-bangunan dan jalan utama. Di luar tempat itu benar-benar tanpa lampu. Bahkan dengan bintang-bintang menggantung di langit, tanpa cahaya bulan Satoru masih kesulitan berlari di tempat semacam ini.
“Lain kali aku akan berangkat agak lambat. Setidaknya biarkan mentari muncul sebelum pergi.”
Tentu saja, itu hanya pemikiran Satoru karena tidak tahu jadwalnya berbeda dari sekolah biasa.
Di Akademi Greenfield, ada tugas pagi yang harus dilakukan oleh murid-murid. Jadi mereka memang harus bangun lebih awal.
Setelah joging cukup lama, Satoru melihat mentari pagi akhirnya terbit. Saat itu juga, dia segera pergi melewati rute lain untuk kembali.
Sekitar jam setengah enam, pemuda itu lewat dekat kandang sapi perah berada. Di sana, tampaknya ada beberapa orang yang sedang bertugas. Bukan hanya di tempat itu, pada jam ini orang-orang juga mulai melakukan pekerjaan mereka, entah itu di kandang atau sawah.
Satoru yang melewati tempat di mana pakan disimpan tiba-tiba berhenti. Dia menatap sosok yang tampak familiar.
Orang itu adalah gadis yang membantu Satoru sebelumnya.
Pemuda itu menggosok matanya, memastikan kalau kali ini dia tidak berhalusinasi. Melihat gadis dengan penampilan luar biasa seperti dalam ingatannya, dia merasa aneh sekaligus takjub.
Seolah merasakan tatapan yang diarahkan kepadanya, gadis berambut coklat itu menoleh sambil membawa ember berisi pakan. Melihat Satoru yang memakai pakaian olahraga menatapnya, gadis itu jelas terkejut.
Meski merasa agak malu, Satoru memutuskan untuk mendekat. Dia ingin menyapa gadis itu dan berterima kasih kepadanya.
Menghampiri gadis itu, Satoru membungkuk sambil menyapa.
“Perkenalkan, namaku Satoru, Kelas 1 jurusan teknik peternakan. Terima kasih atas bantuan sebelumnya.”
Mendengar ucapan Satoru, gadis itu segera meletakkan ember dengan ekspresi agak panik di wajahnya.
“Tidak, itu sama sekali tidak masalah. Senang melihatmu baik-baik saja.”
Melihat ke arah wajah tampan Satoru dan pakaiannya yang basah karena keringat, pipinya sedikit merah. Menunduk malu, gadis itu berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Namaku Yui, Kelas 2 jurusan teknik peternakan.”
Mendengar perkenalan gadis itu, Satoru pun tertegun di tempatnya.
__ADS_1
>> Bersambung.