
Melihat gua besar itu, semua orang memiliki pemikiran berbeda-beda.
Takut Lily membuat masalah ketika berada di dalam, Arthur memintanya menunggu di luar gua dengan Jotaro yang menemaninya. Jika Frost Wyvern sampai terpaksa keluar, barulah mereka diminta untuk membantu.
Setelah membujuk gadis itu sebentar, Arthur, Daiki, dan anggota Divisi 9 lain akhirnya memasuki gua.
Melangkah memasuki tempat itu, Arthur langsung merasakan udara dingin. Dia kemudian terus berjalan ke depan. Sangat disayangkan, setelah cukup lama, mereka benar-benar belum tiba. Mungkin, lebih tepatnya, karena mereka gugup, waktu singkat menjadi terasa cukup lama.
Beberapa waktu kemudian, mereka akhirnya tiba di tempat yang begitu luas. Saat itu, semua orang melihat ke arah tertentu dengan ekspresi terkejut di wajah mereka. Sama sekali tidak menyangka, makhluk itu lebih dari apa yang mereka bayangkan.
Berbaring di atas batu biru besar, makhluk itu tampak luar biasa.
Tubuhnya berwujud seperti kadal dengan ekor sangat panjang. Kaki depannya digantikan dengan dua pasang sayap seperti kelelawar. Di atas kepala yang mirip seperti kadal, ada dua tanduk. Tubuhnya juga tidak tampak licik seperti ular, tetapi tampak kokoh dengan beberapa ujung sisik yang tajam.
Ukurannya sendiri tidak terlalu besar, tetapi jelas berbahaya. Panjang tubuh dari kepala sampai ekor kira-kira lima meter. Tubuhnya cukup ramping tidak begitu berotot, tetapi penuh dengan sudut dan tampak indah.
Ya ... makhluk itu adalah Frost Wyvern yang mereka cari.
“Makhluk ini ... tampaknya cukup kuat.”
Mendengar salah satu bawahannya berkata dengan nada begitu ceroboh, Daiki langsung berkata dengan nada kesal.
“Cukup untuk mencambukmu menjadi dua dengan ekornya!”
“...”
Melihat dua orang yang begitu berisik, sudut bibir Arthur berkedut. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan rekan tim yang begitu ceroboh seperti ini. Melihat makhluk itu membuka matanya, dia langsung berteriak.
“Bersiap dalam posisi bertahan!”
Mendengar ucapan Arthur, semua orang langsung mundur. Bawahan Daiki langsung mengeluarkan perisai mereka, lalu membentuk posisi bertahan. Saat itu juga, Daiki langsung mundur ke pintu untuk mencegahh Frost Wyvern keluar. Tentu saja, dia sampai menggunakan banyak tabungannya untuk membeli item pertahanan agar tidak ada suatu kecelakaan yang tanpa sengaja menimpanya.
RROOAARR!!
Makhluk itu membuar raungan yang terdengar agak aneh. Mungkin raungan, atau munding mendesis tetapi dengan keras dan suara yang berbeda. Mengabaikan hal kurang penting tersebut, Arthur langsung bergegas maju. Dia langsung menghunus pedang, melapisi bilah dengan api hitam yang dikompres sehinga bilahnya sangat panas.
__ADS_1
Swoosh! BANG!
Sebuah ekor langsung melesat seperti cambuk besar. Mengenai Arthur dan membuatnya terbang menabrak dinding gua dengan keras.
Saat itu, mereka merasakan gua agak berguncang. Mereka juga melihat banyak kerucut es yang menggantung di langit-langit bisa jatuh kapan saja. Ditambah, bisa jadi salju yang berada di atas gunung bisa longsor dan mengubur mereka sampai mati.
Bisa dibilang, meski taktik mereka bagus ... lokasinya kurang cocok untuk menggunakan taktik semacam itu!
Sosok Arthur langsung melompat turun. Melihat makhluk itu, dia akhirnya membuat keputusan.
“Semua orang, keluar. Para prajurit, siapkan jaring di pintu keluar gua. Senior Daiki, kamu juga keluar. Pastikan untuk menahan makhluk ini ketika terbang keluar. Pastikan untuk memukul kepalanya.”
Melihat semua orang terdiam, Arthur menambahkan.
“Sekarang!”
“Ya!”
Semua orang langsung berlari keluar dari gua. Tentu saja, Frost Wyvern yang melihat pemandangan seperti itu tidak akan mengizinkan mereka keluar dengan mudah. Namun, saat dia hendak mengejar, sosok hitam melesat dari samping lalu menebas tepat di lehernya dengan keras.
BANG!
Makhluk itu langsung meraung, bergegas ke arah Arthur lalu mencoba menggigitnya dengan banyak taring setajam pedang. Saat kepala Frost Wyvern semakin mendekat, dia langsung menggunakan Black Imoogi Style gerakan pertama.
Seekor ular api hitam muncul dan menabrak mulut Frost Wyvern yang terbuka lebar dengan keras. Pada awalnya, Arthur berpikir kalau bagian dalam mulutnya akan terbakar dan mengalami luka parah. Namun siapa sangka, ternyata serangan itu tidak efektif. Setelah memperhatikannya baik-baik, dia pun akhirnya mengerti alasannya.
Hal itu terjadi karena ... makhluk itu mengeluarkan napas yang sangat dingin dari mulutnya. Sangat berlawan dengan api panas miliknya.
Melihat barisan taring tajam hampir menggigitnya, Arthur langsung melompat mundur sambil menendang dagu naga. Pemuda itu bergumam.
“Ini benar-benar menyebalkan.”
Pada akhirnya, Arthur memilih untuk mengulur waktu sebentar untuk melihat beberapa titik lemah dari makhluk tersebut. Sayap kuat, sisik kokoh, ekor seperti cambuk yang berbahaya, taring seperti pedang. Melihat itu semua, sudut bibir pemuda itu berkedut.
Saat itu juga, sosok Frost Wyvern tiba-tiba membuka mulutnya. Ekspresi Arthur langsung berubah. Meski bukan napas api atau lava, pemuda itu melihat Frost Wyvern mengembuskan uap putih dari mulutnya. Uap tersebut jelas sangat dingin, karena berbagai benda yang dikenainya langsung diselimuti oleh es.
__ADS_1
Arthur langsung berbalik pergi tanpa pikir panjang. Lagipula, sudah dipastikan kalau apinya kurang efektif. Lebih tepatnya, cukup efektif jika dilepaskan sepenuhnya, tetapi gua akan runtuh dan dia kan terkubur di dalamnya. Oleh karena itu, hanya ada satu pilihan.
Pergi keluar dari sarang makhluk ini!
Melihat ke arah Arthur yang juga melarikan diri, Frost Wyvern yang diganggu tidurnya dan dipukul jelas marah. Makhluk itu langsung bergegas mengejar Arthur.
Ketika mendekati pintu keluar, Arthur langsung melompat. Beberapa detik kemudian, sosok Frost Wyvern juga langsung keluar. Pada saat itu, teriakan Arthur terdengar.
“SEKARANG!”
Bersama dengan teriakan Arthur, beberapa tali khusus langsung melilit leher Frost Wyver seperti koboi yang melemparkan tali untuk menghentikan kuda atau banteng. Hanya saja, tali yang mereka lempar berjumlah belasan. Sebenarnya dua puluh, tetapi tidak semua bisa masuk dan mengikat lehernya.
Saat itu juga tiga orang langsung menarik satu tali. Mereka menyebar ke segala arah. Langsung membentuk lingkaran lalu menariknya erat untuk menahan Frost Wyvern.
Sosok Daiki melompat tinggi ke langit lalu membanting kapak raksasa yang diselimuti oleh energi emas tepat ke kepala Frost Wyvern.
BANG!
Kepala Frost Wyvern langsung membentur tanah dengan keras. Beberapa bekas luka muncul di kepalanya. Makhluk itu mengamuk, mencoba meloloskan diri. Lebih dari empat puluh orang terseret. Saat itu juga, sosok Arthur muncul dengan pedang hitam legam, memfokuskan seluruh api pada bilahnya.
Pemuda itu melompat dari samping, lalu langsung menikam Frost Wyvern tepat di kepalanya.
RROOAARR!!
Makhluk itu langsung mengaum. Jelas sangat marah dan benci kepada manusia yang menyerangnya. Dia menggoyangkan kepalanya dengan keras, tetapi Arthur terus menikamnya, berusaha menembus tengkorak lalu membakar otaknya.
Frost Wyvern yang sudah sangat terpojok tampaknya memaksakan energinya. Dia langsung menyemburkan asap dingin, membuat banyak orang mundur karena beberapa orang yang terkena langsung mengalami luka serius.
Ketika orang-orang yang menahannya berkurang, makhluk itu mengepakkan sayapnya. Dia berusaha terbang menjauh dari tempat ini.
Karena tali tidak lagi berguna, Daiki, Lily, Jotaro, dan anggota lainnya langsung menyerang tubuh Frost Wyvern dengan kekuatan penuh mereka. Arthur sendiri terus menggantung di kepala makhluk itu, berusaha untuk menembus bagian belakang mata sehingga pedang bisa mengenai otaknya.
Mendapatkan serangan bertubi-tubi, Forst Wyvern meraung marah. Dia langsung mencambuk segala sesuatu di sekitarnya, termasuk beberapa orang sepert Daiki, Jotaro, dan beberapa pejuang jarak dekat lainnya.
Di mata terkejut semua orang, makhluk itu mulai melayang. Benar-benar terbang menjauh dengan Arthur yang masih mencekik leher dengan kaki sambil mencoba menusuk matanya!
__ADS_1
Keduanya menjauh dari pandangan semua orang.
>> Bersambung.