Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Aku Bisa Mencobanya


__ADS_3

Setelah keluar dari kedai minum, Arthur langsung mengikuti Kiba dan penjaganya menuju ke rumah tuan kota.


Sampai di sana, Arthur tidak bisa tidak menggelengkan kepala. Jelas, meski keluarga Kiba adalah bangsawan kecil, tetapi mereka masih sangat boros. Dia benar-benar tidak tahu apakah para bangsawan suka membuat segala sesuatu tampak mewah agar menaikkan tingkat kepercayaan diri atau memang suka menyombongkan diri. Di sana, mereka disambut dengan sangat hormat.


Arthur tidak begitu peduli. Dia malah langsung berkata.


"Daripada berkeliling untuk melihat pemandangan, bagaimana kalau menemui ayahmu agar dia mengizinkan aku untuk memeriksa ibumu?"


"Ah!"


Kiba tampak terkejut. Dia kemudian menatap ke arah Arthur dengan ekspresi minta maaf.


"Maafkan saya, Tuan. Namun, ayahanda sedang melakukan pergi ke luar kota untuk menyelesaikan suatu masalah. Jadi untuk saat ini, saya yang mengurus segala sesuatu di rumah."


"Kalau begitu bawa saja aku menemui ibumu."


"Baik!"


Arthur kemudian mengikuti Kiba menuju ke sebuah bangunan di belakang rumah utama.


Di sana ada rumah yang sedikit lebih kecil, tetapi tampak indah. Di depan rumah, ada sebuah pohon willow besar dan sebuah kolam. Melihat pemandangan tersebut, Arthur tiba-tiba menemukan informasi untuk rumah yang akan dia bangun dalam ruang hidup Yang-Koi.


Berhenti melamun, Arthur terus mengikuti Kiba. Mereka masuk ke dalam rumah tersebut. Kiba berbicara dengan pelayan sebentar.

__ADS_1


Pelayan tersebut segera pergi ke belakang. Setelah beberapa saat, dia kembali lalu mempersilahkan Kiba dan Arthur masuk.


Pada saat masuk ke dalam ruangan. Apa yang menyambut Arthur adalah bau obat-obatan herbal yang sangat kuat. Berbeda pada saat di luar yang tidak begitu kentara, ketika berada di dalam ... baunya benar-benar sangat kuat.


Setelah mengabaikan bau tersebut, Arthur melihat sosok wanita dewasa yang teramat cantik, tetapi tampak kurus, berbaring di ranjang dengan mata terpejam. Mirip seorang putri tidur dalam dongeng.


Sebagai koki, Arthur jelas merasa agak bodoh. Dia memang mengerti soal pengobatan, bahkan mempelajari banyak ramuan pil.


Hanya dalam sekilas, Arthur mengerti kenapa ibu Kiba tidak bisa disembuhkan. Permasalahannya bukan hanya pada penyakit atau racun pada tubuh wanita tersebut. Namun ada sesuatu yang lebih penting yaitu ...


Kutukan! Ya, wanita itu sedang dikutuk!


'Siapa aku dan dimana aku? Bukankah aku koki? Apakah orang-orang ini meminta koki menyembuhkan penyakit wanita ini? Jangankan koki ...


Arthur benar-benar langsung mengeluh dalam hati. Dia kemudian melirik ke arah Kiba yang langsung duduk di sebelah ranjang, memegang tangan ibunya dengan lembut.


"Tenang saja, Ibu. Saya telah membawa pahlawan datang. Anda pasti akan segera sembuh, Ibu."


"..."


Mendengar nada senang dan haru itu, Arthur terdiam. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi merasa tidak tega. Hanya saja, saat ini pemuda tersebut merasa tercekik.


'Sungguh ... bisakah aku pulang saja? Hal semacam ini jelas terlalu berat untuk koki sepele sepertiku!'

__ADS_1


Pada saat Arthur bingung, suara gadis kecil yang familiar terdengar di telinganya.


'Wow! Sungguh kutukan yang kuat. Jika dimurnikan, energinya pasti akan berguna untuk ruang hidup.'


'Kenapa kamu tidak minta tolong kepada Tuan? Dia pasti akan membantumu.'


'Aku tidak ingin membuat Tuan khawatir.'


Percakapan koi putih dan hitam terdengar dalam kepala Arthur. Saat itu, pemuda tersebut menyela dan bertanya.


"Apakah kutukan itu bisa disembuhkan?"


'Eh? Tuan? Tentu saja bisa, Tuan! Itu sangat mudah dilakukan.'


Mendengar suara koi putih, mata Arthur berbinar. Dia tidak menyangka dua anak itu sangat pintar. Mereka juga sangat kuat. Dibandingkan dengan senjata yang kurang berguna, kemampuan si kembar benar-benar bagus.


Jelas tidak seperti sosok yang mengaku senjata pamungkas, tetapi tidak berguna!


Dalam tato segel di tangan Arthur, Gluttony tanpa sadar menggigil. Meski tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh tuannya. Dia sangat yakin kalau tuannya itu mulai memikirkan hal-hal buruk tentang dirinya.


Melihat sosok Kiba yang penuh harap, Arthur mengangguk ringan.


"Aku bisa mencobanya."

__ADS_1


Mendengar itu, ekspresi semua orang dalam ruangan langsung berubah. Benar-benar tidak menyangka kalau tamu yang Kiba undang mengatakan hal semacam itu.


__ADS_2