Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Cerita Sebenarnya


__ADS_3

Mata biru dan hijau Arthur langsung berubah menjadi emas ketika dia melesat ke arah gadis terkutuk itu. Dia siap untuk menemukan kelemahan dari gadis yang mengendalikan puluhan, mungkin sebelumnya lebih dari seratus roh jahat.


Sosok Arthur tiba-tiba berhenti ketika pedangnya beberapa centimeter dari leher gadis kecil itu.


Pupil pemuda itu bergetar, tampaknya tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat.


“Bagaimana bisa?” tanya Arthur dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya.


Gadis kecil dengan wajah seperti boneka itu menatap Arthur dengan mata merahnya. Dia membuka mulut kecilnya lalu berkata dengan suara yang hanya bisa mereka berdua dengar.


“Pergilah.”


BLARR!!


Dinding kayu dan jendela di sekitar langsung diledakkan saat belasan roh jahat yang dipimpin sosok ksatria dan wanita berpakaian merah muncul. Mereka semua langsung bergegas ke arah Arthur dengan ekspresi ganas di wajah mereka.


Pada saat mereka semakin dekat, Arthur baru sadar. Dia langsung menangkis serangan, tetapi masih terpental dan berguling-guling di tanah belasan meter jauhan.


Saat itu, sosok Jotaro muncul. Dia langsung bergegas menuju ke arah gadis kecil itu karena menurut cerita, semua disebabkan oleh gadis kecil tersebut. Ketika dia mencapai jarak dua meter dekat dengan gadis itu lalu hendak mengayunkan tinjunya, bayangan hitam muncul dari samping lalu menendang tepat ke wajahnya.


BRUAK!


Setelah berguling-guling beberapa kali, Jotaro langsung bangkit. Dengan cetakan bekas sepatu di wajahnya, dia langsung berteriak marah.


“Apakah kamu gila, Bos? Kenapa kamu melindunginya?”


Saat itu, Jotaro melihat Arthur berdiri di depan gadis kecil itu dengan ekspresi bingung di wajahnya. Dia kemudian berkata.


“Salah. Ini semua salah, Joe.”


“Apa maksudmu, Bos? Katakan lebih jelas!”


“Aku tidak bisa menjelaskan! Yang pasti, ini semua jelas salah!”


Mengatakan itu, Arthur langsung menahan banyak roh jahat yang terus menyerangnya dengan gila. Sesekali, pemuda itu melirik ke arah gadis yang membawa payung merah.


Gadis pendek seperti boneka itu memiliki ekspresi kosong di wajahnya. Tampaknya sama sekali tidak takut kepada Arthur ataupun roh jahat di sekitar. Dia bahkan tidak menunjukkan emosi yang berarti.


“Katakan sesuatu, Gadis Kecil! Aku sama sekali tidak mengerti apa-apa jika kamu hanya diam!”

__ADS_1


Mendengar teriakan Arthur, gadis itu masih berdiri diam di tempatnya. Setelah beberapa saat, dia tiba-tiba membuka mulut dan berkata pelan.


“Mereka tidak akan keluar dari tempat ini. Pergi.”


Mendengar itu, ekspresi penuh kejutan muncul di wajah Arthur dan Jotaro. Saat itu juga, Arthur langsung berkata.


“Apakah kamu mendengar itu, Joe?”


“Aku bukan tunarungu, Bos! Aku mendengarnya!”


“Kalau begitu kamu seharusnya tahu apa yang harus dilakukan.”


“YA!”


Setelah mengatakan itu, Arthur dan Jotaro langsung memasang kuda-kuda. Energi qi langsung menyelimuti tubuh mereka. Melihat banyak roh jahat yang bergegas menuju ke arah mereka, keduanya langsung bertarung dengan ganas.


Menggenggam erat gagang pedangnya, api hitam pada bilah pedang Arthur berkobar semakin ganas. Setelah memurnikan belasan roh jahat tingkat silver, apinya sekali lagi menjadi lebih kuat.


“Meski aku tidak suka mengatakan ini ... TETAPI BERSIAPLAH UNTUK DIMURNIKAN!”


Sosok Arthur langsung melesat menuju ke arah roh wanita berpakaian merah. Dia langsung melompat tinggi. Melakukan beberapa putaran di udaran, pemuda itu langsung menebas.


Pusaran api hitam di sekeliling Arthur langsung membentuk tiga Black Imoogi dengan ukuran sedikit lebih kecil. Bersamaan dengan ayunan pedangnya, ketiga ular itu langsung melesat menuju ke arah roh wanita berpakaian merah.


Saat itu, roh ksatria kembali muncul dengan tombaknya. Dia mengayunkan tombaknya untuk menahan serangan tersebut. Melihat itu, Arthur mengangkat sudut bibirnya.


BLARR!


Sosok ksatria langsung terdorong mundur. Beberapa armornya terkoyak ketika tiga ular hitam melilit lalu meledak dengan kuat di tubuhnya. Ketika hendak bergerak setelah menerima ledakan, Arthur sudah muncul di depannya sambil mengayunkan pedang.


“Sang Ular Menggigit Bulan!”


Saat itu juga, Black Imoogi raksasa muncul, langsung menabraknya dengan mulut terbuka lebar. Langsung mencabik-cabik sosok ksatria tersebut dan juga roh-roh jahat di sekitarnya. Bersama dengan ledakan keras, beberapa rumah langsung dihancurkan.


Menarik napas dalam-dalam, Arthur menoleh ke arah roh wanita berbaju merah.


“Sekarang giliranmu.”


***

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, fajar pun tiba.


Arthur berdiri di tengah desa yang tampak berantakan dengan puing-puing berserakan di mana-mana dengan napas naik turun. Jotaro sendiri berbaring terlentang di tanah dengan wajah pucat, tubuh penuh dengan darah dan keringat.


“Astaga. Tulang punggungku terasa sakit karena sudah lama tidak melakukan gerakan berlebihan.”


Arthur menjatuhkan diri ke tanah. Melihat langit kemerahan ketika cahaya mulai menerangi dunia, pemuda itu tidak bisa tidak mengeluh.


“Sungguh! Orang gila mana yang menyuruh seorang gadis kecil membawa beban agar menahan roh jahat tidak keluar dari desa hampir tiga puluh tahun! Itu benar-benar kejam.”


Jotaro berkata dengan marah.


“Ya. Orang itu benar-benar pantas dipukuli sampai mati.”


Setelah beristirahat sejenak. Arthur segera bangkit lalu berjalan menuju ke rumah kepala desa, satu-satunya bangunan yang masih berdiri meski menerima banyak kerusakan. Sampai di sana, dia langsung berdiri di depan gadis kecil yang membawa payung merah.


“Semuanya sudah berakhir. Kamu tidak perlu lagi menanggung penderitaan seperti ini. Kamu bisa menceritakan semuanya kepada kami.”


Setelah mengatakan itu, Arthur mengulurkan tangan untuk mengelus kepala gadis kecil itu. Namun saat itu juga gadis tersebut mundur. Dia kemudian memberikan payung di tangannya kepada Arthur.


Meski merasa bingung, Arthur menerima payung itu. Saat memegang payung tersebut, banyak kenangan tiba-tiba muncul, dijejalkan ke dalam otaknya. Pemuda itu langsung jatuh berlutut. Tubuhnya dipenuhi keringat ketika menyerap semua kenangan tersebut.


Berhasil menerima semua itu, Arthur menatap ke arah gadis kecil itu dengan ekspresi linglung.


“Kamu benar-benar gadis yang kuat.”


Kata-kata tulus muncul dari mulut Arthur.


Dalam memori yang dijejalkan ke otaknya, Arthur mengetahui apa yang terjadi di desa ini 30 tahun yang lalu.


Apa yang terjadi sebenarnya tidak disebabkan oleh gadis di depannya. Sebaliknya, seorang kultivator jahat dari luar yang mencoba melakukan ritual untuk membuat sebuah senjata jahat dengan mengorbankan lebih seratus orang di desa. Namun rencana tersebut berhasil digagalkan orang tua gadis kecil ini, kepala desa dan istrinya yang ternyata kultivator.


Orang tua gadis ini sebenarnya tidak kuat, hanya berada di level silver dan musuh berada di level gold. Namun mereka bisa menggagalkan rencana pada saat krisis pembuatan senjata di akhir. Meski begitu, kecuali gadis tersebut, semua orang di desa menjadi korban dan berakhir dengan kematian.


Sementara kultivator itu musnah karena kegagalan, semua orang yang mati di desa telah menjadi roh jahat yang ganas. Hanya saja, roh jahat itu terikat dan ditekan oleh senjata yang diciptakan oleh kultivator jahat tersebut. Ya ...


Senjata itu adalah payung merah darah yang selalu dibawa oleh gadis kecil itu!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2