
Belasan hari setelah pertemuan berakhir, Arthur dan kedua rekannya sampai ke ibukota Kerajaan Anggrek Bulan.
Melihat bangunan dua lantai yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar, mereka bertiga merasa nyaman.
Selain menjadi salah satu kota paling aman karena banyaknya kultivator yang berada di sini, kota ini juga terkenal akan padatnya penduduk. Alasan kenapa Arthur dan kedua rekannya ada di sini jelas untuk membaur, menghilang dalam kerumunan untuk menikmati hidup yang biasa-biasa saja.
Di pagi yang begitu cerah, Arthur membuka restoran dengan ekspresi malas di wajahnya. Tempatnya cukup besar, rapi, dan bersih. Bangunan ada di gang cukup sunyi, lantai pertama digunakan sebagai restoran dan lantai dua digunakan sebagai tempat tinggal.
Kaligrafi indah bertuliskan ‘Mirror Flower Restaurant’ terpajang di atas pintu depan.
Tentu saja, setiap nama memiliki maknanya sendiri. Daripada memasang namanya, Arthur lebih memilih nama lain. Bunga cermin itu sendiri sebenarnya potongan dari idiom yang pemuda itu ketahui di kehidupan sebelumnya.
Bunga cermin, bulan air.
Bunga terlihat di cermin, bulan terlihat di permukaan air. Itu adalah kalimat yang memiliki arti sesuatu yang bisa dilihat tetapi tidak bisa disentuh. Alasan kenapa Arthur memberi nama restorannya seperti itu adalah teknik memasaknya.
Pemuda itu telah mempelajari banyak teknik memasak di dunia sebelumnya. Sesuatu yang tidak bisa dipelajari di dunia ini yang bisa dibilang cara memasaknya masih sangat kuno dan sederhana.
Dia ingin menyajikan berbagai masakan dari bahan unik dan cara memasak yang orang-orang tidak ketahui. Entah itu memasak daging binatang buas sampai demonic beast yang dicampur banyak bumbu.
Sesuatu yang tidak terbayangkan oleh orang-orang di dunia ini yang sibuk berlatih dan memperkuat diri agar bisa bertahan menghadapi berbagai rintangan kehidupan.
Tentu saja, meski memilih membuka rumah makan, Arthur hanya melakukannya sebagai sambilan. Sekarang dia telah terikat dengan Garden of Death. Jadi pemuda itu harus bekerja untuk menyelesaikan misi dengan jumlah tertentu setiap tahun.
Arthur ingin menggunakan sisa waktunya untuk bersantai dan berjualan, itu saja.
Melihat ke arah jalan yang cukup sepi di depan restoran, Arthur tidak terlalu peduli. Lagipula, uang yang dia dapatkan dari misi di tahun sebelumnya sudah sangat banyak.
Karena tidak memerlukan banyak hal seperti obat-obatan yang dibutuhkan para kultivator dan juga tidak hidup bermewah-mewahan, Arthur merasa kalau tabungannya sudah banyak. Belum lagi, dia juga bisa mengambil hasil penjualan bijih dari tambang yang dimilikinya.
Bisa dibilang, Arthur masih lebih kaya dibandingkan sekte-sekte kecil. Sama sekali tidak memiliki masalah untuk melatih dan membiayai kebutuhan kultivasi Jotaro dan Lily.
Di belakang meja kasir, Arthur duduk di kursinya sambil membaca buku dengan ekspresi malas di wajahnya. Benar-benar mengabaikan hal lain di sekitarnya.
“Arthur, Arthur ... lihat ini!”
__ADS_1
Lily berjalan mendekat sambil membawa selembar kertas dengan gambar bunga yang agak berantakan.
Melihat itu, Arthur mengangkat sudut bibirnya. Pemuda itu mengelus kepala Lily sambil bertanya, “Menggambar taman bunga?”
“Ya!” Lily mengangguk. Seolah menyadari sesuatu, dia buru-buru berkata. “A-Aku hanya pemanasan. Setelah ini, aku akan belajar membaca dan menulis.”
“Aku mengerti. Jika ada yang tidak kamu pahami, jangan sungkan bertanya.”
Arthur memasang senyum lembut di wajah malasnya. Sementara Lily pergi ke belakang, menuju ruangan belajar di lantai satu. Tidak terlalu jauh dari dapur.
Sementara itu, Jotaro sendiri pergi untuk melatih tubuhnya. Berharap untuk segera naik level, setidaknya naik ke tingkat gold sehingga bisa lebih diandalkan oleh rekan-rekannya.
Menunggu sampai siang, Arthur sama sekali tidak melihat satu pun pelanggan datang. Menyarai kalau sudah waktunya makan siang, pemuda itu pergi ke ruangan tempat Lily belajar.
“Mau makan siang apa siang ini?” tanya Arthur.
“Apa saja,” jawab Lily dengan senyum di wajahnya.
“Kalau begitu kamu istirahat dulu. Aku akan membuat makan siang.”
Setelah mengatakan itu, Arthur pergi ke dapur untuk memasak. Kali ini dia tidak ingin memasak sesuatu yang rumit. Melihat apa yang ada di menu, pemuda itu pun memilih hidangan sederhana.
Pertama-tama, siapkan bumbu. Kemudian, pecahkan dua telur lalu pisahkan kuning dan putihnya. Campur kuning telur dengan semangkuk nasi.
Setelah itu, panaskan minyak, orak-arik putih telurnya di minyak panas. Kemudian masukkan bawang putih, buncis, dan sosis yang telah diiris.
Masukkan nasi yang sudah dicampur kuning telur. Bumbui dengan kecap asin, saus tiram, minyak wijen, kecap ikan, lada yang telah dihaluskan, dan daun bawang yang telah dicincang.
Setelah dimasak beberapa saat, nasi goreng sederhana siap disajikan.
Tentu saja, cara memasak nasi goreng banyak karena jenisnya sendiri banyak. Ada yang diisi ayam, daging, sampai sea food. Namun, kali ini Arthur ingin memasak sesuatu yang sederhana dan mudah dibuat. Bahkan, setiap orang bisa membuatnya jika mau.
“Waktunya makan, Lily.”
Arthur meletakkan semangkuk nasi goreng di atas meja depan Lily. Setelah itu, dia pergi ke dapur untuk memasak nasi goreng untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Bukan karena tidak bisa memasak banyak sekaligus. Hanya saja, Arthur merasa ingin makan sesuatu yang lebih pedas. Meski bisa membat banyak, dibagi, lalu ditambah saus atau potongan cabai, tetapi rasanya berbeda jika dimasak bersama bumbu.
Itulah kenapa Arthur memilih untuk memasak sendiri. Pemuda itu tidak ingin menghemat sedikit waktu untuk mengurangi rasa masakannya. Lagipula, dia tidak sibuk melakukan apapun.
Baru saja menyiapkan bahan untuk memasak, suara bel terdengar ketika pintu masuk terbuka dan enam orang masuk ke dalam restoran.
“Bau harum tadi berasal dari sini, Senior.”
Seorang pemuda kurus berkata pada pemuda tampan yang tampaknya pemimpin kelompok tersebut. Di antara enam orang, ada emapt laki-laki dan dua perempuan.
Satu pemuda tampan, tiga antek, satu gadis gemuk dan satu gadis cantik. Dari penampilannya saja, jelas pemuda itu mencoba untuk menyanjug gadis tersebut.
Saat itu, keenam orang melihat sekeliling. Melihat restoran yang tidak terlalu besar tetapi bersih dan rapi membuat mereka diam-diam mengangguk. Cukup puas karena kebersihannya.
Tatapan keenam orang itu berhenti ke arah gadis kecil yang makan semangkuk nasi goreng dengan lahap.
“Sungguh gadis kecil yang imut!” ucap gadis gemuk dengan ekspresi terpesona.
“...”
Gadis cantik di sebelahnya tampak dingin, tetapi matanya yang berbinar sama sekali tidak bisa membohongi kalau dirinya juga tampaknya senang melihat Lily yang imut.
Baru kemudian tatapan mereka beralih ke arah pemuda tampan yang berdiri di belakang meja kasir. Melihat pemuda itu, mata kedua gadis itu berbinar.
Menyadari kalau makan siangnya tertunda, Arthur hanya bisa menghela napas lalu berkata dengan nada malas.
“Selamat datang. Jika ingin memesan sesuatu, lihat saja ke papan menu.”
Mendengar ucapannya, semua orang melihat ke arah papan menu. Saat itu juga, salah satu bawahan pemuda tampan itu berseru.
“Apa-apaan dengan harganya? Apakah bisa begitu tinggih? Bukankah ini perampokan?”
Arthur sama sekali tidak terkejut dengan reaksi mereka. Dia hanya membalas santai sambil mengangkat bahu.
“Itulah harganya. Jika ingin makan, silahkan pilih. Jika tidak, silahkan pergi.”
__ADS_1
Mendengar jawaban malas dan tidak bersemangat pemuda itu, keenam orang itu pun tertegun. Lagipula, mereka belum melihat pegawai atau pemilik toko yang sama sekali tidak antusias.
>> Bersambung.