
Uhuk uhuk uhuk...
Di saat Albar di rumahnya terdesak, Balqis juga tersedak di rumah Beni.
Setelah menjemur cucian, dan membereskan ruang cuci sebentar, Pizza dan kawan-kawan yang dipesan oleh Beni pun datang.
Balqis langsung diajak makan besar oleh Beni, dan saat makan pizza itulah Balqis tersedak karena Beni tiba-tiba mendengungkan lagu single milik Albar.
Lagu satu-satunya yang Original memang lagu Albar itu adalah lagu yang sempat menjadi lagu paling dicari.
Lagu berjudul Hanya Kamu, yang seharusnya setelah itu Albar akan menggarap mini album nya sendiri namun akhirnya gagal karena mundur menjadi idol.
🎶Cinta Hanya Kamu
Meski Luka Menguji Rasa
Cinta Hanya Kamu
Meski Tangis Datang Merapuhkan Jiwa🎶
Uhuk uhuk uhuk...
Balqis tersedak, Beni segera mengambilkan air putih dari dapur dan memberikannya pada Balqis.
"Pelan-pelan saja Qis makannya, santai... santai... Ngga ada acara mau ke mana-mana kan?"
Tanya Beni.
Balqis meneguk air dari gelas yang diberikan Beni.
Setelah batuknya mereda, Balqis menarik dua lembar tissu dari wadah untuk mengelap mulutnya.
Ah ya, sebetulnya ia ingin pergi ke satu tempat, bukan ingin, tapi sangat ingin, tapi ia masih mencari waktu yang tepat untuk pergi bersama Dinda.
Ya, tentu saja, ke mana lagi jika bukan ke makam kedua orangtuanya.
Kedua orangtuanya yang ternyata telah meninggal sejak Balqis kecil. Meninggal karena kecelakaan yang disebabkan oleh orangtua Albar.
Balqis sudah merencanakan akan pergi ke sana esok atau lusa, saat ia punya waktu hanya dengan Dinda saja, karena memang Eti dan Po tidak tahu menahu soal masalah adopsi Balqis, hanya Dinda yang tahu, jadi itu sebabnya Balqis tidak bisa mengajak Eti dan Po.
Selain itu, Balqis juga belum tahu jalan Jakarta dengan baik, ia harus bertanya dulu pada Bang Zul jika ingin ke alamat yang sesuai KTP lama Orangtua Balqis.
Mungkin Balqis akan pura-pura itu saudara Aki yang Balqis harus ketemu atau bagaimana Balqis juga belum tahu.
"Makan lagi Qis, habisin."
Beni tiba-tiba mendorong burger ke arah Balqis dan menggeser kotak pizza.
Balqis terlihat menggeleng.
"Kenyang banget Bang, buat nanti lagi aja."
Ujar Balqis yang memang sudah menghabiskan kentang goreng dan satu potong pizza lebih dulu.
"Hmm tadinya kalau ini semua habis kan barangkali kamu mau ikut aku ke rumah Paman Qis, daripada di rumah sendirian, palingan temen-temen kamu kan pulangnya sore bahkan bisa jadi malam. Aku tahu lah perempuan kalau sudah di mall suka lupa waktu."
Kata Beni.
Balqis tergelak kecil.
"Yang lupa waktu kan karena uangnya banyak Bang, kalau uangnya pas-pasan terlalu lama di mall kan cuma sakit kepala."
Kata Balqis membuat Beni tertawa.
"Ngga apa Aqis di rumah saja, kasihan nanti pulang pada bingung."
Lanjut Balqis.
"Ya barangkali kamu mau gitu ketemu sama yang pertama kali ngizinin tinggal di sini."
Beni melancarkan aksinya, Balqis jadi serba salah begitu mendengar kata-kata Beni.
"Sebentar saja, ngga lama."
Ujar Beni.
__ADS_1
Balqis tampak diam, seolah mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan.
Ah tapi, jika dipikir-pikir memang tidak sopan Balqis tidak berkunjung ke rumah orang yang mengijinkan mereka tinggal, meskipun semuanya sudah dikuasakan pada Bang Zul, dan sekarang pemiliknya Bang Beni juga sudah Balqis temui, tapi tetap saja harusnya memang Balqis dan teman-temannya datang meski hanya sekedar mengucapkan terimakasih.
"Tapi bener kan Bang, ngga lama?"
Tanya Balqis akhirnya.
Beni mengangguk.
"Ya sebentar saja, tadi pagi aku ke sana belum sempat ketemu, jadi ini mau ke sana lagi, katanya tadi takziah ke Kampung Rambutan, temen sekantornya meninggal."
Cerita Beni sambil mencolek kentang goreng miliknya ke dalam saus.
Mendengar Beni menyebut Kampung Rambutan membuat Balqis terkesiap, ia ingat alamat lama Orangtua nya di KTP yang ada di dalam berkas yang Balqis temukan di kamar Aki.
Balqis kemudian menatap Beni.
"Bang."
Panggil Balqis.
"Ya Qis."
Beni balas menatap Balqis dan kembali ia merasa hatinya bergetar halus melihat wajah Balqis yang cantik.
"Bang Beni tahu daerah Kampung Rambutan?"
Tanya Balqis akhirnya.
Beni mengangguk.
"Ya lumayan, kenapa memangnya Qis? Punya teman di sana?"
Tanya Beni menyelidik, ada sedikit cemas Balqis akan menyebutkan nama seorang cowok.
Ah tentu saja, Beni berharap Balqis masih belum memiliki kekasih.
Balqis menggeleng.
"Ya sudah sekalian saja, aku antar yuk."
Beni langsung menyambar kalimat Balqis, seolah tak mau membiarkan kesempatan untuk bisa pergi dengan Balqis terbuang begitu saja.
Balqis terlihat masih agak ragu.
"Mumpung aku belum balik ke Perth, aku kan hanya sebentar Qis."
Kata Beni.
Balqis kembali menimbang.
"Tapi aku pake motor, jadi itu kalau kamu mau sih."
Ujar Beni.
Balqis yang memang aslinya sudah sangat ingin pergi ke makam orangtuanya namun bingung memilih waktu karena hanya bisa bersama Dinda akhirnya kini seperti mendapatkan pilihan lain untuk bisa segera melakukannya.
"Kalau nanti ke makam ngga apa juga Bang?"
Tanya Balqis.
"Ya ngga apa, kamu butuhnya ke mana nanti aku antar, sekalian aku juga sudah lama nggak muter Jakarta, mumpung lagi balik Indonesia."
Ujar Beni.
Balqis pun akhirnya mengangguk.
"Iya deh, Aqis siap-siap dulu."
Kata Balqis
Beni mengangguk.
**------------**
__ADS_1
Albar meneguk air putihnya hingga habis, batuknya sudah reda.
Flo cekikikan melihat Albar yang macam orang salah tingkah mendengar nama Balqis disebut.
"Gila kamu, kalau aku mati tadi gimana?"
Kata Albar geleng-geleng kepala.
"Mana ada orang mati keselek lumpia."
Ujar Flo.
"Lagian cuma nyebut nama Balqis saja langsung keselek, gayanya suruh langsung ngomong saja."
Lanjut Flo lagi sembari mencibir.
Albar menghela nafas, ia sendiri juga tak menyangka reaksi tubuhnya akan seperti itu saat mendengar nama Balqis disebut Flo.
"Kenapa tiba-tiba bahas Balqis?"
Tanya Albar pada Flo.
"Ya kan namanya juga kalau, kan bisa saja tiba-tiba kalian ketemu lagi di Jakarta."
Ujar Flo.
Albar terdiam sejenak, disandarkannya tubuhnya ke sofa.
"Yang jelas aku ingin minta maaf sih, entah dia mau menerima atau tidak, kayaknya sekarang aku sudah lebih siap."
Ujar Albar.
Flo tersenyum.
"Ya memang seharusnya begitu dari dulu Bar."
Kata Flo.
"Aku sempat hubungi dia saat mau terbang, tapi dia ngga angkat telfonku, nomorku kemudian dia blokir juga."
Kata Albar.
Flo mengangguk.
"Ya aku juga ikut salah karena menyampaikan kepergian mu secara tiba-tiba, Balqis pasti sangat syok waktu itu."
Lirih Flo.
Albar menerawang langit-langit ruangan rumahnya itu.
"Apa kabar dia?"
Gumam Albar.
Flo terlihat menyeruput teh nya.
"Ayo temui dia."
Kata Flo.
"Ke Tasik?"
Tanya Albar.
"Ke rumah kontrakannya."
Albar menatap Flo.
"Rumah kontrakan apa?"
Tanya Albar.
"Balqis, dia diterima di UI Bar, dan dia saat ini juga ada di Jakarta."
Kata Flo.
__ADS_1
**-----------**