Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
38. Insecure Campur-Campur


__ADS_3

Albar mondar-mandir dari ruang dalam lalu keluar rumah. Begitu di luar rumah dia mondar-mandir lagi di teras rumah.


Bolak-balik, bolak-balik, sudah seperti setrika di tempat londri.


Matanya menatap ujung jalan, lalu menatap layar hp, menatap ujung jalan, lalu balik lagi menatap layar hp.


Balqis tak juga pulang, juga tak pula mengiriminya pesan ataupun balik telfon setelah ia meninggalkan tiga panggilan tak terjawab.


Kemana anak itu sebetulnya? Bikin khawatir saja. Sudah hampir Asar masih belum pulang. Albar begitu gelisah.


Ah'...


Albar tiba-tiba menghentikkan langkahnya.


Jangan bilang dia pergi sama si Medit. Pulang sekolah diajak ke mall sama si Medit. Mungkinkah? Batin Albar.


Albar yang mulai berhalu tak enak, akhirnya memutuskan mengganggu Fajar. Ditelfonnya si juragan Ayam yang baru pulang dari pasar dan baru akan duduk santai sambil merokok di depan rumah.


Haiiish... Apa nih si Bara api bergejolak jam segini? Batin Fajar begitu melihat hp nya teriak-teriak karena ada panggilan dari Albar.


"Ya, orang paling ganteng tingkat kelurahan ada di sini. Ada apa gerangan?"


Suara Fajar terdengar dari seberang.


Albar mengurut kening mendengar Fajar yang dari bicaranya menggambarkan rasa pede nya sudah over dosis.


"Ati-ati Jur, terlalu pede juga salah satu ciri orang punya gangguan jiwa."


Kata Albar.


"Sialan, kamu mau ngatain aku gila."


Protes Fajar.


"Bukan, cuma takutnya calon aja."


Sahut Albar.


"Jiaaaah, apa bedanya, itu mah sama-sama menyakitkan hatiku yang selembut sutra."


"Iyalah, terserah kamu mau selembut sutra kek, selembut kapas kek, selembut lelembut juga terserah saja, yang penting cariin Balqis Jur."


Kata Albar.


"Hah? Emang ke mana Balqis nya?"


Fajar jadi bingung. Tinggal satu rumah malah dicari.


"Dia udah jam segini belum pulang, Aki juga hari ini kayaknya bakal pulang sore lagi, Aki ngga punya hp, dibeliin ngga mau make katanya kalo HT mau."


"Jiaaaah... Yang harus ada Rojer, rojer..."


"Iya itu, ngga tau kali sekarang Rojer udah punya anak, dipanggilin bae mau di tabok Cut Meriska kali."


Ujar Albar.


"Ya... Ya, musti cari di mana Balqis nya?"


Tanya Fajar akhirnya.


"Lha, orang aku minta tolong kamu nyariin karena aku ngga tahu dia di mana, kan kamu orang sini asli, kali aja kamu tahu tempat mampir anak-anak sekolah, atau dia main ke rumah temennya, atau malah ke mall."

__ADS_1


Yang terakhir Albar menyebutkan dengan nada suara yang benar-benar tidak ikhlas karena bayangannya Balqis pergi dengan si Medit.


"Ah kalau mall enggak kayaknya, setahuku Balqis bukan cewek yang hobi main ke mall, dia mah dari dulu anak rumahan Ra."


Kata Fajar yang kini beranjak menuju motornya.


Rasanya pakai mobil sayang karena dia belum mandi dan masih bau amis Ayam.


"Aku ke rumah Eti dulu, kan rumah Eti deket kalo dari rumahku."


Kata Fajar.


"Ya sana cepetan."


Albar tak sabar.


"Jiaaah sabar lah, kayak mau lahiran aja sih kamu Ra, santuy... Santuy."


Fajar naik ke motor.


"Cari sampe ketemu Jur, kalo ketemu aku beliin pick up."


Kata Albar.


Mendengar Albar akan membelikan pick up cuma untuk nyari Balqis membuat Fajar menggelengkan kepalanya.


Gila banget ini sultan, buang uang kayak buang hajat. Batin Fajar heran.


Ah' padahal kata Albar dia belum apa-apanya dengan sultan lainnya. Jadi mereka yang ada di atas Albar bagaimana ceritanya pas buang uang?


Benar-benar ketidak adilan memang harusnya dihapuskan demi perikemanusiaan dan perikeadilan sosial. Hihihi...


**---------**


"Pokoknya Qis, kamu ngga usah mikir yang aneh-aneh dulu, jalanin aja kayak biasa, aku tahu pasti buat kamu yang ngalamin terasa sulit, kayak sekarang mau jualan sempolan jadi dikatain, mau ini mau itu bakal dikatain juga, tapi gimana lagi, kalo kamu merasa sangat terpengaruh ya udah ikut saran Albar pindah ke Jakarta."


Kata Dinda.


Balqis menghela nafas.


"Engga ah, kalo ngikut Albar ke Jakarta aku kasihan sama Aki."


"Lha nantinya juga kamu bakal kuliah kan tinggalnya jauh juga dari Aki."


Kata Dinda lagi.


"Iya sih, tapi kalo pergi sekarang kan Aki pasti kaget Nda, lagian juga sebentar lagi kenaikan kelas tiga, aku ingin fokus nyari beasiswa. Aku tuh sebenernya cuma pengin biasa lagi aja, bisa jualan kayak biasa, bisa sekolah kayak biasa, beli lauk mau cuma sayur tahu doang juga biasa."


Ujar Balqis.


"Sekarang Albar masih di desa ini saja kalau aku jualan sempolan dan lain-lain udah jadi pertanyaan, apalagi kalau nanti dia pulang ke Jakarta, lalu kemudian dia lupain semuanya begitu saja, kan mudah saja buat cowok punya uang banyak."


Tambah Balqis pula.


Dinda menghela nafas.


"Balqis, kan aku tadi udah bilang, Albar kayaknya ngga ada niat main-main sama kamu Qis, kelihatan dari apa yang dia lakuin selama tinggal di sini. Belum lagi dia bilang kalo kamu ragu ya udah ikut dia tinggal di Jakarta saja, itu berarti memang dia serius Qis."


Balqis diam.


"Kamu tuh sebenernya yang bikin jadi galau karena kamu nya nurutin rasa terlalu ngga percaya diri Qis. Kamu udah terintimidasi lebih dulu dengan posisi Albar Harrys."

__ADS_1


Balqis masih diam mendengarkan Dinda.


"Kalo Albar pulang ke Jakarta lalu lupain semuanya kamu sedih dan pasti kabar kamu bakal sama Albar sudah ganggu hubunganmu dengan Bang Adit juga kan? Sementara ikut dia ke Jakarta takut ternyata dia main-main doang dan kamu nanti di sana juga bingung."


Balqis kali ini mengangguk.


"Ya Nda, makanya aku nanya tadi, cowok kalo serius sama cewek tuh gimana harusnya."


Lirih Balqis.


"Ya yang Albar lakuin, itu udah tanda dia serius kalo menurutku. Sekarang tinggal kamu nya, kalo mau tetap di sini ya harus percaya Albar bakal balik lagi, kalo enggak ya ikut dia pulang ke Jakarta saja."


Demi mendengarnya Balqis menghela nafas.


Susah rasanya hati Balqis memutuskan.


Dalam keadaan gundah gulana, tiba-tiba dari dalam terdengar suara Ibu Dinda memanggil, seiring dengan munculnya sosok Ibu nya Dinda di pintu yang menuju ke halaman belakang rumah Dinda.


"Ada Bang Fajar di depan, nyariin kamu Qis."


Kata Ibu nya Dinda.


Balqis dan Dinda saling berpandangan.


"Aku ngga ada hubungan apa-apa sama Bang Fajar, sungguh Nda."


Kata Balqis tak enak.


Dinda tertawa kecil.


"Kamu tuh Qis, aku nya aja belum ngomong apa-apa, palingan Bang Fajar disuruh Albar cari kamu belum pulang sampe sore. Tuh udah adzan Asar."


Kata Dinda yang memang dari mushola dekat rumah Dinda kini terdengar adzan Asar dikumandangkan.


Balqis akhirnya turun dari bale-bale, untuk kemudian berjalan masuk ke rumah Dinda dan menuju pintu depan rumah.


Sementara itu Dinda mengikuti di belakang Balqis sambil membawa piring dan gelas kotor bekas mereka dan berbelok ke dapur dulu untuk meletakkan perlengkapan makan yang harus ja cuci itu.


"Bang Fajar."


Balqis melihat Fajar yang tampak duduk di teras depan rumah Dinda.


"Nah ini calon isteri Bara."


Fajar tersenyum lebar karena akhirnya misi nya menemukan Balqis berhasil.


Balqis menghampiri Fajar.


"Bara nyari kamu belum pulang, dikira main ke mall, ternyata tadi kata Eti kamu di rumah Dinda, jadi aku susulin."


Kata Fajar.


Balqis tersenyum tipis saja.


Ternyata benar kata Dinda, jika Fajar diutus Albar mencari Balqis.


Ah' benarkah tidak apa-apa gadis biasa seperti Balqis menjalani hubungan dengan seorang artis tajir dan juga cucu mantan majikan Aki?


Balqis sungguh merasa tak percaya diri.


**---------**

__ADS_1


__ADS_2