Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
60. Yang Begitu Berbeda


__ADS_3

Flo dan Pardi akhirnya selesai mengisi perut mereka di resto seafood.


Albar sendiri yang sudah selesai dari tadi tampak selonjor sambil asik main games di hp.


"Lama banget makan, sekalian pelayan sama meja-mejanya di habisin apa gimana sih."


Omel Albar.


"Sialan, Godzilla aja ngga serakus itu dodol."


Flo menabok ujung topi Albar hingga menghalangi mata Albar melihat hp.


"Gas pol ngga nih Nona Flo?"


Tanya Pardi meminta restu.


"Gas pol dong."


Sahut Flo.


"Baiklah."


Pardi menyalakan mesin mobilnya, lalu segera membawa mobil itu kembali melesat di jalanan beraspal menuju Ibu kota.


"Kamu jadi mau nyari orang?"


Tanya Flo yang mulai sambil sibuk mengotak-atik hp nya.


Albar menghela nafas, mengakhiri permainannya, lalu beralih fokus pada Flo.


"Sudah ada yang dimintai tolong?"


Tanya Albar.


"Ada, dia cukup ahli soal nyari orang, sebutannya kancil."


Kata Flo.


Albar terdiam sejenak, lalu ia kembali ke hp nya, masuk ke galeri dan kemudian memberikannya pada Flo.


"Apa ini? Siapa?"


Flo menoleh pada Albar sekilas, lalu menatap layar hp Albar di tangannya lagi.


"Nurdin."


Flo bergumam membaca nama di ktp yang di foto Albar.


"Cari dulu saja, kalau sudah ketemu kasih tahu aku, baru nanti aku akan ceritakan siapa dia."


Ujar Albar.


Flo mengangguk.


"Baiklah."


Sahut Flo.


"Kirimkan fotonya, biar aku yang akan hubungi Kancil."


Albar meraih hp nya lagi, lalu mengirimkan dua foto ktp, Nurdin dan isterinya.


"Berapa hari kamu targetnya?"


Tanya Flo.


Albar terdiam sejenak, lalu...

__ADS_1


"Paling ngga setelah acara di zombie hotel Flo, usahain udah ketemu."


Kata Albar.


Flo mengangguk menyanggupi.


Flo kemudian tampak sibuk mengetik pesan, sementara Albar menatap jalanan dari balik kaca mobil.


Tak terasa, ia sudah cukup jauh meninggalkan Balqis.


Semoga dia baik-baik saja. Harap Albar.


**---------**


Eti dan Po duduk di meja kantin menunggu Dinda yang sedang mengantri kentang goreng, keduanya sibuk dengan hp masing-masing.


"Et, nih zombie hotel keren banget."


Po memperlihatkan gambar dan artikel zombie hotel yang akan segera diresmikan empat hari lagi.


Eti mantuk-mantuk.


"Iya, kapan ya kita bisa nyoba tidur di sana, kayaknya seru."


Ujar Eti.


"Iya, udah laris banget, belum resmi buka semua kamarnya sudah full booking, pas kapan minta dipesenin sama Kak Zul aja udah ngga bisa untuk seminggu ke depan."


Kata Po.


"Seriusan?"


Eti geleng-geleng.


"Lulus SMA daftar kerja di sana aja ya, hahaha males aku tuh kuliah, mendingan kerja punya duit sendiri."


Po tertawa.


"Huuu untung ngga ada Aqis, kalo ada dia langsung ngomel dia kamu bilang malas kuliah."


Eti tertawa mendengar ocehan Po.


"Tapi ngga yakin juga Aqis bakal kayak gitu lagi, soalnya dia pasti udah mulai galau mikirin Albar, hahaha..."


Eti tertawa yang juga disambut tawa Po juga.


Keduanya jadi sibuk membicarakan Balqis dan Albar yang jika dipikir-pikir sebetulnya memang sangat serasi.


Dinda datang dengan dua wadah kentang goreng dan satu wadah piscok keju serta tiga botol teh pucuk dingin.


"Asiiiiik."


Po langsung menyambut kentang goreng yang masih hangat.


Sedangkan Eti lebih memilih piscok keju.


"Ngobrolin apa sih kalian?"


Tanya Dinda yang meneguk teh pucuk botolnya.


"Ini zombie hotel, tempat penginapan yang lagi viral banget, kita pengin nyoba nginep di sana, cuman belum apa-apa udah full kata Kak Zul."


Tutur Po.


"Hotel yang tema hantu-hantu itu?"


Tanya Dinda penasaran.

__ADS_1


Eti dan Po mengangguk.


"Hotel itu kayaknya bakal rame banyak pengunjung karena beda dari yang lain, rasanya bakal buka banyak lowongan nih nantinya.


Kata Po lagi.


"Kalau buka lowongan memangnya kenapa? Kalian mau pada daftar kerja?"


Dinda terkekeh.


Tapi tak disangka Eti malah menganggukkan kepalanya.


"Seriusan kamu mau kerja Et?"


Tanya Dinda.


"Ya aku sekolah juga nilainya jeblok terus, kalau dipaksain nerusin kuliah takutnya aku berhenti di tengah jala karena bosen."


Kata Eti membuat Dinda dan Po tertawa.


Mereka masih saja asik bercanda sambil makan jajanan mereka ketika mereka melihat Bang Adit masuk ke dalam kantin.


Eti, Dinda dan Po yang kali ini duduk tak jauh dari pintu masuk keluar kantin tampak mengangguk canggung pada Pak Guru Adit yang saat melihat ke arah mereka bertiga melempar senyuman meskipun sorot matanya seperti sedikit kecewa karena Balqis tidak ada di sana.


Bang Adit tampak berjalan ke Bibi pemilik kantin, seperti biasa Bang Adit terlihat sibuk pesan untuk dia makan di tempat.


Eti berbisik pada teman-temannya.


"Ada kasihan juga ya sebenernya lihat Bang Adit, kayaknya dia udah nunggu banget Balqis dari dulu, tapi akhirnya kesalip."


Lirih Eti bisik-bisik.


"Salah sendiri juga kelamaan."


Kata Po.


"Hus jangan gitulah, udah sih biarin itu kan urusan mereka."


Dinda mendorong wadah kentang goreng mereka lagi untuk dibuka di atas meja kantin agar segera bisa mereka habiskan.


"Eh aku lupa mau upload fotoku sama Albar."


Kata Eti yang kemudian meraih hp nya dan mencari fotonya dengan Albar di galeri.


Ia akan memasangnya di story media sosial, namun Dinda segera menghalanginya.


"Kenapa sih Nda."


Eti protes.


Dinda menghela nafas.


"Jangan dululah, tunggu sampe Albar selesai jumpa pers."


Ujar Dinda.


"Kan dia sampai rela tinggal di kampung karena ada fitnah dari orang yang merusak nama baiknya, lusa kayaknya dia baru akan jumpa pers kan? Tunggu aja sampai lusa, kita musti tetap jaga nama dia Et."


Kata Dinda menambahkan kalimat panjangnya.


**-----------**


Balqis di kamar tampak membuka matanya pelahan saat terdengar suara ribut-ribut di luar rumah.


Balqis yang merasa kepalanya sedikit pusing terlihat mengambil posisi duduk sebentar di sisi tempat tidur.


Karena suara ribut-ribut di luar rumah Aki tak kunjung selesai, bahkan sepertinya melibatkan suara Wa Icih, akhirnya Balqis pun turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.

__ADS_1


**----------**


__ADS_2