Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
144. Lomba Jadian


__ADS_3

Sore hari yang agak-agak mendung, tapi tetap maunya cerah. Balqis diantar Bang Zul akhirnya menuju kafe Flo di Jakarta Barat.


Sesuai dengan rencana yang direncanakan daripada yang berencana, Balqis datang ke kafe Flo untuk membantu memandikan kucing baru Flo sekaligus juga entah akan diajak bicara soal apa.


Sampai di kafe Flo, tampak kafe cukup ramai, seorang pelayan yang sudah tahu Balqis adalah saudara majikannya, maka langsung saja mempersilahkan Balqis menuju lantai dua di mana Flo berada.


Bang Zul sendiri memilih menunggu di dalam mobil sambil main game.


Balqis naik ke lantai dua.


Di sana Flo sedang duduk sambil bengong menatap langit sore.


Luni, si kucing kecil berlarian mengejar serangga sambil mengangkat ekornya.


"Kak Flooo... Kak..."


Balqis memanggil Flo.


Flo yang sayup-sayup mendengar suara memanggilnya, akhirnya menoleh dan terlihat Balqis berjalan ke arahnya.


"Kak, sori... Aqis ada Bang Fajar dari kampung."


Ujar Balqis yang langsung salaman dan cipika cipiki dengan Flo.


"Ngga apa Qis."


Sahut Flo.


Balqis meletakkan tas dompetnya di atas kursi di sebrang Flo duduk, lalu tampak Balqis menghampiri Luni yang berguling-guling.


"Mau dimandiin sekarang apa Kak? Tapi..."


Balqis mencium Luni yang sudah wangi.


"Udah mandi apa Kak?"


Tanya Balqis menatap Flo yang malah senyum-senyum tidak jelas.


"Aaah... Jangan-jangan..."


Balqis menghampiri Flo sambil menggendong Luni.


Ia kemudian duduk di kursi yang tadi ada tas dompet miliknya.


Balqis duduk sembari memangku Luni yang terlihat langsung nyaman.


"Siapa yang memandikan Kak? Pacar Kak Flo?"


Tanya Balqis sambil tersenyum pada Flo yang langsung jadi malu-malu koceng.


"Jangan bilang pacar ah, belum juga apa-apa."


Flo cengar-cengir lagi, mirip mesin listrik habis pulsa.


Balqis tersenyum.


"Baguslah, lebih baik dia saja yang rajin datang untuk mandikan, Kak Flo tidak usah repot."


Kata Balqis.


"Ah, aku mau ikut grup cat lover dia."


Tutur Flo akhirnya.


Balqis tertawa kecil.


"Kak Flo yakin?"

__ADS_1


"Yakin dong Qis, masa enggak."


Sahut Flo tanpa ragu.


Balqis mantuk-mantuk, lalu mulai memainkan kucing kecil dalam pangkuannya itu.


"Ah sudah makan belum Qis?"


Tanya Flo.


"Sudah Ka, tadi bareng-bareng sekalian nyambut Bang Fajar."


"Oh iya ada keluargamu datang."


Gumam Flo.


"Kak Flo belum makan? Makan dong Ka, nanti sakit."


Flo menghela nafas.


"Aku ngga lapar Qis, rasanya aku bakal kenyang sampai besok pagi."


"Kenapa? Makan terlalu banyak?"


Tanya Balqis.


"Bukan Qis, aku kenyang disenyumin Indra dan juga mendengat gombalannya."


Mendengar itu Balqis jadi tergelak.


"Kirain Kak Flo tangguh, ternyata runtuh juga kalo jatuh cinta, hahaha..."


"Hahaha... Iya kah? Sejelas itu ya? Gawat sih, mana Albar mau pulang."


Kata Flo.


"Hah?"


"Bayangin Qis, dia itu bolak balik perth Jakarta dikira kayak dari Pasar Minggu ke Blok M kali ya. Mana dia bilang katanya mau memastikan calonku lagi. Pusing nih Kak Flo."


Flo curhat ke Balqis.


Balqis menatap Flo.


"Ya Kak Flo kenalin saja cowok itu ke Albar Kak."


"Lha tapi kan kami belum ada hubungan apa-apa."


"Memangnya kenapa Albar jadi sekepo itu sama Kak Flo dan pacar Kak Flo? Kurang kerjaan deh Albar mah."


Ujar Balqis.


"Salah Kak Flo, Qis, langsung ngaku udah punya calon saat Albar kasih tahu Mami Kak Flo dan Mami Albar sekongkolan mau jodohin Kak Flo dengan anak teman Mami Albar."


Luni tampak melompat dari pangkuan Balqis dan lari-lari lagi. Asik bermain sebagaimana kucing kecil pada umumnya saat telah dalam kondisi kenyang dan nyaman.


"Ah begitu, kalau gitu Balqis bantu ngmg saja ke Kak siapa namanya?"


Tanya Balqis.


"Indra."


Balqis mantuk-mantuk.


"Ya Kak Indra."


Sahut Balqis.

__ADS_1


**-----------------**


Di rumah Albar, terlihat Po ngumpet terus di kamar, tak berani turun ke lantai satu meskipun jelas-jelas Tio tinggal di bagian belakang rumah besama Bang Zul dan Bang Fajar.


Sementara Bik Tuti kamarnya yang juga di bagian belakang letaknya paling dekat dengan pintu.


"Jadi pemilik rumah ini yang si artis bernama Albar Harrys itu? Yang dulu iklan Mie instan dan beberapa produk lain?"


Tanya Tio yang tak menyangka ternyata ia bisa tinggal di rumah Albar Harrys.


"Boleh ambil foto ngga sih Bang?"


Tanya Tio pada Bang Fajar.


"Boleh lah, yang tidak boleh ambil uang orang lain."


Ujar Bang Fajar.


"Yeee itu mah kucing juga tahu."


Tio geleng-geleng kepala, lalu dengan semangat langsung jeprat jepret rumah Albar dari belakang sampai depan pakai kamera hp nya.


Tio ingin mengirimkannya pada Ibunya di kampung, supaya Ibunya tahu jika betapa hebatnya anaknya sekarang, bisa tinggal di rumah artis top.


Tio masih asik foto sana sini, bahkan sampai Penjaga rumah juga difoto, saat Po yang akhirnya keluar kamar menuju balkon lantai dua bergabung dengan Dinda dan Eti yang sedang ngobrol.


Po berdiri di balkon, tepat saat Tio mengambil foto balkon rumah.


"Aduh."


Po langsung jongkok.


"Heh, kebelet di toilet sono."


Ujar Eti.


"Sialan! Bukan pengin itu."


Eti nyengir.


Karena penasaran Eti berdiri dan melongok ke bawah, tampak Tio ada di halaman depan rumah sambil bicara dengan penjaga rumah.


Eti terpingkal.


"Emang dasar jodoh kali Po, bisa-bisanya kalian ketemu di sini."


"Siapa Et?"


Dinda ikut melongok dan melihat Tio.


Tampak Dinda menoleh ke arah Po yang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Ngga apa lagi Po, kayaknya Tio cowok baik."


Ujar Dinda.


"Baik banget sampai ngajarin nulis surat pake sandi rumput."


Po kesal membuat Eti tambah terpingkal.


"Nanti tanyain itu aslinya apa isinya."


Kata Eti.


"Ikh ngga usah, malu-maluin, udah lewat lama."


"Biarin, daripada penasaran."

__ADS_1


Kata Eti yang disambut anggukan setuju oleh Dinda.


**-------------**


__ADS_2