
Setelah acara penyambutan dari keluarga Wak Icih bahkan juga banyak tetangga baik yang ikut serta membantu kelancaran acara, Balqis malamnya tidur di kamarnya di rumah Aki,
Kamar yang telah ia tempati sejak kecil dulu, hingga ia tumbuh dewasa menyelesaikan sekolah tingkat atas,
Balqis begitu terharu dengan setiap perjalanan hidup yang telah ia lalui sepanjang berada di rumah Aki,
Gadis itu sungguh-sungguh merasa telah merasa nyaman berada di kampung Aki yang sekian lama telah ia tinggali,
Semalaman Balqis pun tak mampu memejamkan matanya, ia sibuk memikirkan semua yang pernah ia lewati selama tumbuh bersama Aki,
Ya Aki, yang sebetulnya hanya kakek angkat Balqis, namun ia sungguh-sungguh menjadi kakek yang begitu baik dan begitu peduli dengan Balqis,
Ia mendampingi Balqis sebagaimana Kakek kandung, membesarkan, mendidik, hingga memberikan banyak sekali ketauladanan, terutama dalam hal ibadah,
"Terimakasih Aki, terimakasih banyak atas semuanya,"
Lirih Balqis,
Dan, kata-kata itulah yang kemudian ia sampaikan di samping pusara Aki keesokan harinya, saat ia akan kembali ke Jakarta bersama Albar dan yang lain,
Pesta pernikahan yang akan digelar sebentar lagi membuat Balqis sebetulnya terus menerus mengingat Aki dan Abah,
Bagi Balqis, tentu saja hari bahagia akan benar-benar menjadi bahagia jika saja mereka masih ada,
__ADS_1
Tapi, bagaimana lagi, takdir memang telah berkata lain,
Semua meninggal Balqis seorang diri, dan hanya Albar serta ketiga sahabatnya lah yang kini ia miliki, termasuk keluarga Wak Icih,
Meskipun keluarga dari orangtua kandungnya telah Balqis temukan, namun nyatanya memang Balqis tak bisa terlalu dekat dengan mereka,
"Sudah Bal, sudah saatnya kita pulang ke Jakarta,"
Kata Albar di samping Balqis yang seolah enggan beranjak dari pusara Aki,
Air mata Balqis masih tampak berlinang, membuat Albar jadi ikut sedih,
Kembali ia jadi ikut terkenang saat dulu ia juga sempat bertemu dengan Aki, betapa baiknya kakek itu,
Albar meraih tangan Balqis,
"Aki, percayalah, aku akan terus dan selalu menyayangi Balqis hingga maut menjemput, kau pasti menyaksikan dari sana bukan? Semoga kau merestui kami Aki,"
Kata Albar, membuat Balqis di sampingnya jadi semakin bercucuran air mata.
Suasana pemakaman desa di mana Aki dimakamkan sudah sunyi senyap meskipun hari masih cukup pagi,
Mami Albar dan Flo yang sempat ikut pula ke sana, kini telah kembali ke mobilnya,
__ADS_1
Ya, mereka memang akan langsung bertolak ke Jakarta pagi ini, setelah tadi sempat melewati drama pamitan yang penuh air mata juga dengan keluarga Wak Icih,
"Kami akan datang demi Akis, jangan khawatir,"
Kata Wak Icih saat Mami Albar mewakili semuanya berpamitan dan wanti-wanti agar keluarga Wak Icih bisa datang di acara resepsi Albar dan Balqis,
"Bagaimanapun kalian adalah keluarga yang Balqis miliki saat ini, jadi sudah seharusnya kalian datang untuk menemani Balqis di hari bahagianya agar anak itu tidak terus menerus sedih,"
Kata Mami pula tadi,
Wak Icih mengangguk,
"Kami nyatanya memang sangat menyayangi Balqis, Nyonya, bagi kami Balqis itu ya sudah jadi bagian dari kami sejak dulu,"
Kata Wak Icih,
Mami pun tersenyum, ia lega karena korban kecelakaan dari kesalahan suaminya hidup penuh cinta dari keluarga angkatnya,
Dan kini, sudah saatnya ia mengambil alih tanggungjawab itu, harus menyayangi dan memberikan cinta untuk Balqis yang telah direnggut darinya sejak kecil,
Cinta dan kasih sayang orangtua, yang meninggal karena kecelakaan yang diakibatkan Papi dan Albar.
...****************...
__ADS_1