Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
62. Duh Pelupa


__ADS_3

Albar pergi ke halaman belakang rumah di mana di sana ada kolam renang dan juga gazebo dekat taman.


Albar duduk di sana untuk kemudian menelfon Balqis.


Tak butuh waktu lama untuk Albar menunggu Balqis mengangkat telfon darinya, sampai kemudian Albar mendengar suara Balqis di seberang sana.


Ah ya...


Jika kemarin bahkan pagi tadi mereka masih bisa bicara sambil bertatap muka, bahkan sesekali Balqis menabok lengan Albar, kini jarak yang cukup jauh telah memisahkan keduanya.


"Ada apa Bal? Sori, aku tadi sama Mami."


Kata Albar.


"Oh iya, enggak apa Bar, berarti harusnya aku yang minta maaf karena ganggu."


Balqis terdengar tak enak hati.


"Enggak, bukan gitu, santai saja Bal, ngobrolnya juga enggak ada yang penting, gimana, tadi nelfon sampai beberapa kali, ada yang penting kah?"


Tanya Albar.


"Ngg... Gimana ya ngomongnya."


Balqis seperti ragu.


Albar cengar-cengir, otaknya sudah mikir ke mana-mana.


Hmm... Tentu saja Balqis akhirnya menyadari jika pesonanya sudah mengalihkan seluruh dunia Balqis sekarang.


Tanpa Albar di sisinya, tanpa Albar di rumah itu, pasti sekarang Balqis ingin mengatakan hidupnya bagai nasi sayur asem tanpa sambal dan ikan cue, bagai ketupat opor tanpa ayam, bagai nasi goreng tanpa telor, bagai nasi uduk tanpa bawang goreng.


Pokoknya Albar adalah satu terpenting dari semua hal yang tak seharusnya tidak ada. Begitulah Albar berpikir.


Sayangnya...


"Bar, aku mau ijin pakai uang sumbangan untuk hal lain boleh?"


Tanya Balqis tiba-tiba.


Bzzttt bzzztt bzzzt...


Albar tepuk jidat, perkiraannya meleset jauh, macam dikira mau ke Brebes, ternyata ke Medan.


"Teh Lilis pagi tadi di maki-maki isteri Pak Haji Hasan, katanya hutang uang sampai lima juta Bar, kasihan dia kan janda, anaknya kecil-kecil, suaminya meninggal, setiap hari cuma jualan aneka gorengan dititipkan di warung Wa Icih dan jualan seblak di sekolahan SD."


Kata Balqis.


Albar menghela nafasnya.


"Bal, uang yang ada di kamu itu kan semuanya sudah punya kamu, kenapa mau make ijin aku dulu?"


Tanya Albar.


"Ya kan kamu ngasih buat acara pengajian Aki."


Ujar Balqis.


"Kalau gitu aku transfer lagi apa bagaimana?"


Tanya Albar.


(👩 : ya Bar, pake rekening Othor oke?


👨 : Ngga oke Thor.


👩 : Ah sialan...)


"Bukan Bar... Bukan Albar transfer lagi, maksudnya itu uang kan amanahnya Mami Albar untuk pengajian, kalo digunain buat yang lain nanti aku dosa, kan ngga sesuai amanah."


Kata Balqis.


Albar mendengarnya langsung melongo.


"Begitu ya?"


Tanya Albar malah bingung.


"Iya, makanya aku minta ijin."


Kata Balqis.


"Ya ya... oke sayang, pakai saja, kamu yang atur uangnya buat apa pokoknya Babang mah percaya padamu may lop lop."


Albar malah gombal.


"Ikh serius juga."


Balqis di seberang sana jadi tergelak kecil.


Ah Albar jadi ingin ketemu Balqis lagi.


Andai sebuah kota bisa digeser-geser sesuka hati seperti menggeser furniture di dalam rumah, pasti saat ini juga Albar akan menggeser Tasikmalaya ke sebelah Jakarta.

__ADS_1


Ah, bukan... bukan...


Tapi di sebelah rumah Albar persis, supaya pas keluar langsung bisa masuk Tasik.


"Ya udah barangkali Albar mau lanjutin ngobrol sama Mami."


Kata Balqis.


"Hmm... Kamu ngga ngerasa lupa sesuatu Bal?"


Tanya Albar.


Balqis sejenak terdiam.


"Lupa apa?"


Tanya Balqis.


"Ahh... Ya sudahlah kalau ngga inget, ngga apa, mungkin aku hanyalah daun sawi di dalam mie rebusmu."


Ujar Albar kecewa.


Balqis tergugu.


"Kenapa sampainya daun sawi sih?"


"Ya, masa daun kelapa di dalam mie rebus, kepanjangan Bal, mangkoknya ngga muat."


Balqis tertawa.


Ah dasar Albar...


Sepi banget Bar rumah ini tanpa kamu. Batin Balqis diam-diam.


**----------**


"Oh oke Tuan Dimas."


"Oke."


"Baik."


"Siap... Siap."


"Siap Tuan Dimas."


"Terimakasih banyak Tuan Dimas."


Flo tampak menjawab telfon sambil mantuk-mantuk dengan serius.


"Siapa Flo?"


Tanya Mami Albar begitu Flo menyelesaikan perbincangannya di telfon, bersamaan dengan itu Albar muncul kembali di ruang di mana Maminya dan Flo sedang duduk-duduk.


"Tuan Dimas dari Alpha Centauri."


Kata Flo.


"Ada apa?"


Tanya Albar yang kini kembali duduk di sofa besar dekat Maminya.


"Besok malam diminta datang ke jamuan makan malam dengan keluarga Tuan Zion dan juga Tuan Jiro Takashi."


Kata Flo.


"Wah kehormatan sekali Al."


Kata Mami bangga.


Mami memang memanggil Albar dengan Al ikut-ikutan Ayah Ahmad Dhani dan Bunda Maia yang memanggil Al Ghazali dengan panggilan Al. Hihihi...


"Sepertinya mereka ingin kamu bawain satu dua lagu Bar, pemanasan nih."


Ujar Flo.


Albar mengangguk santai.


"Siap saja aku sih, mau dua puluh lagu juga aku jabanin."


Kata Albar sombong.


"Hmm... Yang ada kamu radang tenggorokan nyanyi dua puluh lagu."


Kata Mami.


"lipsing dong Mam."


Sahut Albar sambil nyengir tanda dosa.


"Hmm... lipsing mah mending jualan tahu bulat aja apa jualan sari roti."


Kata Mami.

__ADS_1


Flo jadi tertawa.


"Bagus tuh, kamu coba jualan tahu bulat versi musik rock."


🎶TAHUUUUUUUUUUU


BULAAAAAAAAAAAT...


AAAAAAAAAAA...🎶


Albar mempraktekan meniru gaya vokalis Aerosmith.


Flo terpingkal sambil memegangi perutnya.


"Haduuuh Albar pe'a."


Kata Flo di sela tawanya.


**--------**


Balqis setelah ditelfon Albar tampak senyum-senyum terus seperti anak kucing kenyang nyusu.


Balqis kemudian menghampiri Teh Inggit untuk kemudian menariknya menjauh sebentar dari teman-temannya yang sudah hampir selesai membungkus kue untuk acara pengajian.


"Ada apa Qis?"


Tanya Teh Inggit.


"Aqis mau minta tolong Teh."


Kata Balqis.


"Iya, mau minta tolong apa? Ngomong saja Qis, jangan sungkan."


Kata Teh Inggit.


"Bisa diambilkan uang di ATM ngga ya Teh?"


Tanya Balqis.


"Ooh bisa atuh, nanti tapi ya, kayaknya motor masih dipake Bapak."


Kata Teh Inggit.


Balqis mengangguk.


"Mau diambilkan berapa?"


Tanya Teh Inggit.


Balqis memberikan kartu ATM nya pada Teh Inggit.


"Bisa ngga ya Teh ambil tujuh juta?"


Tanya Balqis.


"Ngg kayaknya musti ambil di beberapa Mesin ATM Qis, mau buat apa ambil segitu banyak?"


Tanya Teh Inggit.


Balqis tersenyum.


"Ngga apa Teh, ada penting aja."


Jawab Balqis.


Teh Inggit mantuk-mantuk.


"Iya deh nanti Teteh ambilkan, semoga bisa ambil segitu."


"Kalau ngga bisa ya besok Aqis ambil langsung di teller ngga apa Teh."


Kata Balqis.


Teh Inggit mengangguk.


"Nanti dicoba dulu ya cantik."


Ujar Teh Inggit.


Balqis mengangguk.


Teh Inggit baru akan kembali ke tempat teman-temannya saat kemudian tanpa sengaja melihat kalung dengan liontin nama Balqis yang cantik di leher Balqis yang jenjang.


"Wah cantik banget Qis."


Puji Teh Inggit ke arah kalung Balqis.


Balqis yang sempat lupa dengan kalung yang ia pakai dari Albar itu jadi ingat saat tadi Albar menanyakan apa ada yang dilupakan Balqis.


"Ah iya Teh, Albar... Aku lupa kasih tahu Albar."


Balqis segera masuk kamar nya dan mencari hp nya lagi.

__ADS_1


**----------**


__ADS_2