Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
34. Dengarkanlah Pernyataanku


__ADS_3

Balqis pulang membawa lauk sarapan. Hari sudah mulai terang.


Albar sedang duduk di tangga loteng sambil berbalas pesan dengan Flo, saat kemudian Balqis muncul dari pintu dapur lalu melewati teras pembatas dapur dan sumur baru kemudian masuk ke dalam ruang dalam.


Balqis sempat melirik Albar dengan tatapan kesal, karena selama lima belas menit berada di warung Wa Icih pagi ini, Balqis berasa dikerubuti wartawan infotainment.


Albar baru akan menyudahi chat nya dengan Flo, saat kemudian Balqis keluar lagi, lalu menghampirinya dan berdiri di bawah tangga.


"Apa?"


Tanya Albar.


"Kita harus bicara."


Kata Balqis.


"Ya udah bicara aja."


Sahut Albar.


"Serius Albar!"


Kesal Balqis.


Mood nya kini benar-benar jelek.


Albar yang melihat wajah Balqis kini ditekuk akhirnya mengalah turun.


Balqis menarik tangan Albar, turun melewati sumur lalu menjauh ke tempat yang ada di balik kamar mandi, tempat yang merupakan lahan kecil saja untuk Aki menanam tomat, cabe rawit dan juga pohon asem dan Nanas.


"Soal perjodohan hoax itu."


Balqis kemudian berkata setelah mereka kini berdiri berhadapan.


"Kenapa?"


"Aku malu."


Albar mengerutkan kening.


"Kamu tahu ngga, kamu tuh kelihatan banget kayak sultan, apa-apa bisa beli dengan mudah, mereka jadi kepo apapun semua hal tentang kamu, lalu akhirnya jadi kepo juga soal aku. Mereka pada mikirnya kita beneran dijodohkan, mereka mikirnya aku bakal dapat sultan, menikah sama sultan, lalu apapun yang aku lakuin mereka jadi mulai memperhatikan dengan cara yang berbeda dengan dulu, aku beli lauk yang murah mereka komentar, aku bilang baru ambil uang setoran sempolan mereka nyinyir, aku akan susah hidup normal lagi Bar, ngga di desa ini, ngga juga di sekolahan."


Balqis ngomel panjang kali lebar kali tinggi, seperti rumus ngitung volume.


Albar menatap Balqis.


"Nanti setelah kamu pulang, mereka pasti akan lebih parah, mereka akan lebih kepo lagi, kenapa ini itu anu apalah, aku trus harus gimana, hidupku pasti jadi ngga akan setenang dulu."


Albar tetap menatap Balqis yang matanya kini berkaca-kaca.


"Hari ini di sekolah juga pasti akan heboh gara-gara jemputan kemarin, trus aku musti gimana? Padahal aku masih harus sekolah satu setengah tahun lagi sebelum aku lulus, aku jadi susah fokus belajar nantinya, sementara aku harus mulai giat nyari dan ikut tes untuk dapet beasiswa karena ngga mungkin aku kuliah cuma ngandalin tabungan orangtua yang ada di Aki."


Tambah Balqis lagi.


"Lagipula kamu sebetulnya cuma tinggal di sini sebentar saja, kamu bahkan bilang dalam hitungan hari akan balik ke Jakarta, dan jika hari itu tiba, pasti aku akan digeruduk lagi, mereka akan kepo lagi, sementara kamu sendiri pasti akan dengan mudah lupa semua yang ada di desa ini, kamu juga bakal lupa dengan kesemrawutan yang kamu bikin di sini sama aku."


Nafas Balqis sampai tersengal-sengal, tampak sekali emosi kini merajai dirinya.

__ADS_1


"Kamu mungkin merasa semua ini cuma lucu-lucuan, tapi aku? Mungkin kamu bisa menganggap semuanya cuma angin lalu, tapi aku? Kamu mungkin bisa dengan mudah lupain semuanya, tapi..."


"Aku ngga akan lupa."


Kata Albar cepat, memotong kalimat Balqis.


Balqis menatap kedua mata Albar.


"Aku ngga akan lupa semua yang sudah aku dapatkan di sini, aku juga ngga akan lupain kamu. Kalau kamu takut aku lupa, ikut aku ke Jakarta, kamu sekolah saja di sana."


Kata Albar lagi seenaknya.


"Ini bukan masalah aku tinggal di mana."


"Ini solusinya, inti semuanya adalah karena kamu terganggu dengan berita perjodohan hoax kita yang sudah kadung didengar banyak orang, kamu malu karena semuanya cuma bohongan, kamu malu kalau orang-orang itu akhirnya tahu dan jadi mencemooh, ya kan?"


Balqis diam.


"Ikut aku ke Jakarta, sekolah di sana, begitu lulus ayo kita nikah beneran biar kamu ngga usah malu. Aku ngga ada masalah jika itu kita lakukan."


Balqis membulatkan matanya.


Albar ini kenapa? Apa dia gila atau bagaimana? Dia paham maksudku atau tidak? Balqis malah jadi bingung sendiri.


"Kamu mau kuliah ngga apa, kuliah aja, sampai S2, S3 juga bila perlu, mau kuliah di Indonesia, di Malaysia, di Jepang, di Australia, di Jerman, di Belanda, di Inggris, pilih saja."


Kata Albar.


"Kamu sedang meledekku lagi?"


Tanya Balqis kesal.


Tandas Albar.


"Kamu pikir menikah itu apa? Kamu pikir menikah itu main-main? Lagipula aku masih terlalu kecil untuk memikirkan hal seperti itu, kamu ini selalu tidak jelas seperti Amuba."


"Makanya aku ajak kamu ke Jakarta lalu setelah lulus sekolah kita nikah. Perkara menikah itu apa aku ngga perlu mikir, pokoknya nikah saja."


Jiaaaaah...


Balqis pusing tujuh keliling.


"Lagipula banyak orang menikah juga aslinya tidak tahu makna pernikahan, mereka cuma tahunya nikah doang."


Kata Albar.


"Trus kita mau ikutan mereka? Nikah tanpa tujuan yang jelas? Tapi biar kata mereka tak tahu makna pernikahan pun, setidaknya mereka punya alasan karena saling mencintai."


Kata Balqis.


"Sementara kita apa? Kalau menikah kita tidak punya keduanya."


Kesal Balqis pula.


"Aku punya."


Kata Albar.

__ADS_1


"Punya apa?"


Tanya Balqis dengan muka masih cemberut.


"Punya alasan untuk ingin nikah beneran sama kamu nantinya."


Sejenak Balqis terdiam.


Mencoba mencerna dengan baik kata-kata Albar.


Maksud dia apa sih?


"Aku suka sama kamu Bal."


Tiba-tiba kalimat itu meluncur dari mulut seorang Albar Harrys.


Balqis membulatkan matanya.


"Aku ngga menganggap semua main-main lagi, aku serius."


Kata Albar.


Balqis masih diam.


Kaget, bingung, dan dadanya jadi berdebar tak karuan.


Balqis baru akan bicara saat kemudian terdengar suara Fajar mengucap salam dari arah ruangan dapur dan kemudian muncul dari pintu ke teras dan tampak memandang ke sumur lalu mendapati Albar dan Balqis yang berdiri di lahan kecil dekat kamar mandi.


"Heh kalian ngapain berduaan di situ? Masih pagi udah aneh-aneh."


Kata Fajar mengganggu.


Haiiish...


Albar kesal bukan main, rasanya ia jadi ingin memasukkan Fajar ke dalam sumur.


Albar mengacungkan kepalan tangannya ke arah Fajar yang nyengir lalu ngeloyor ke arah ruang dalam mencari Aki.


"Sudahlah lanjutin sore aja, aku harus siapin sarapan sama siap-siap sekolah."


Balqis akhirnya berbalik dan akan pergi saat Albar menggapai tangannya dan menariknya agar bisa berhadapan dengan Albar lagi.


"Ingat, aku serius, aku suka sama kamu, mengajakmu ke Jakarta, menikah denganmu, semua serius. Jadi ngga perlu lagi merasa aku main-main dan kamu jadi takut suatu hari cuma akan jadi cemoohan karena semua ngga terjadi."


Kata Albar.


Balqis menghela nafas.


"Semua memang mudah buatmu sebagai sultan, tapi enggak buatku Albar."


"Bukan tugasmu membuat semuanya mudah, tugasku sebagai laki-laki yang membuat apapun untuk perempuannya menjadi mudah."


Kata Albar dengan wajah serius.


Yah Albar, yang biasanya absurd dan sedikit pekok, tak disangka ternyata bisa serius.


Balqis hanya mampu terdiam, lalu melepaskan tangannya dengan pelan lalu berjalan menjauh.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2