
"Assalamualaikuuuuuuum..."
Terdengar suara Dinda, Po dan Eti di luar rumah.
"Waaikumsalaaaaaam..."
Jawab Balqis yang sedang menjemur cucian pagi tadi sehabis subuh.
"Sudah Qis, nanti Aki yang lanjutkan."
Kata Aki.
Bersamaan dengan itu Albar keluar dari kamar mandi, hanya memakai kolor dan tak memakai kaos.
"Heh, porno banget sih!"
Balqis yang tak sengaja melihat jadi teriak-teriak panik, ia langsung lari melompati ember sampai ember yang tak berdosa jatuh berguling.
Haiish, kenapa sih dia? Batin Albar.
Aki jadi terkekeh lagi.
"Porno apaan sih Ki, aku cuma ngga pake kaos."
Kata Albar dengan wajah bingung.
"Sudah sana ganti baju Tuan."
Ujar Aki yang kemudian meneruskan kegiatan Balqis menjemur cucian yang tinggal dua potong baju saja.
Albar menurut bergegas menuju loteng, saat di depan pintu menuju ruang dalam tak sengaja bertabrakan dengan Balqis yang berlari dari dalam dengan gugup.
"Aww!"
Balqis memegangi dahinya yang menabrak tubuh atletis Albar.
"Kamu mah sengaja."
Kesal Balqis.
Albar jadi tergugu.
"Sengaja apaan?"
Tanya Albar.
"Ya pokoknya sengaja lah."
Kesal Balqis apa banget dah.
Albar jadi tertawa.
"Wajahmu merah tuh."
Kata Albar menunjuk muka Balqis yang kini terasa panas.
Balqis mengipasi mukanya dengan kedua tangannya, berjalan ke arah Aki untuk salaman.
"Qiiiiis, udah siang niiiiiih."
Teriak teman-temannya di luar.
"Iyaaaa."
Sahut Balqis.
"Aqis ke sekolah dulu Ki."
Kata Balqis pada Aki.
"Ya, hati-hati Qis."
Ujar Aki.
Balqis mengangguk.
"Masih ngga salim sama aku?"
Tanya Albar yang kini sudah berada di tangga loteng.
"Ogah."
Sahut Balqis cepat.
Albar hanya tergugu saja melihat kelakuan Balqis.
Balqis berjalan masuk ke dapur lalu menuju ruangan di mana sepedanya disimpan.
Balqis mengeluarkan sepedanya dari pintu samping.
Tampak tiga temannya sudah menunggu.
"Lama banget sih Qis, salimnya berapa kali sama Bara?"
Seloroh Eti.
"Huuuu... Apaan, enggak pernah salim juga sama dia."
Kata Balqis menyahut.
__ADS_1
Eti jadi terpingkal.
"Sadis Balqis mah."
Kata Po.
Sementara Dinda yang sudah tahu jika Bara adalah Albar Harrys dan juga tahu Balqis sebetulnya sudah mulai jatuh hati pada artis itu tentu saja hanya mengulum senyum.
Bersamaan dengan itu, muncul mobil Fortuner yang dikendarai Fajar mendekat ke arah mereka.
Fajar kemudian menghentikan mobilnya di depan rumah Aki, lalu turun dari mobil.
"Hai Girls."
Sapa Fajar dengan penampilan keren lengkap dengan kacamata hitamnya.
"Apa ngga salah pagi-pagi pake kacamata hitam Bang Fajar? Malah jadi kayak The Matrix."
Kata Eti.
Semua jadi tertawa.
Fajar melepas kacamata hitamnya.
"Baiklah, aku lepas supaya wajah Lee Min Ho nya aku terpampang nyata."
Kata Fajar, membuat semua makin tertawa.
"Lee Min Ho dari mana? Yang ada Lim Alteco."
Sahut Eti, membuat Dinda menabok lengan Eti.
"Eh Dinda ngga terima, hahaha..."
Eti memancing Balqis dan Po jadi kembali tertawa.
Fajar dan Dinda saling bertatapan sekilas, kemudian saling menunduk malu-malu seperti anak kucing.
"Kalian mau diantar sekalian?
Tiba-tiba suara Albar terdengar dari pintu samping.
Albar berdiri di sana dengan kaos biru dongker, celana jeans hitam dan topi hitam juga.
Ganteng maksimal.
Eti dan Po sampai kembali merasa sedang melihat Albar Harrys.
"Ngga usah, kita naik sepeda saja."
Kata Balqis mewakili teman-temannya menjawab.
"Baiklah cinta, aku menurut saja."
Sahut Albar gombal.
Semua jadi heboh.
"Jiiiaaaah Cinta, ayok Ta kita berangkat sekolah, babaaaay Ranggaaaaa."
Kata Eti pada Albar.
"Babaaaaay juga Miliiii..."
Sahut Albar.
Balqis geleng-geleng kepala.
Kelakuan anak dua itu memang nyatanya sebelas dua belas.
**----------**
"Aku temuin Aki bentar."
Kata Fajar, begitu Balqis dan teman-temannya sudah menjauh.
Albar mengangguk dan menuju mobilnya.
"Jadi hari ini tidak ke pasar lagi?"
Tanya Aki begitu Fajar menemui Aki di dalam rumah yang sedang menikmati kopi nya dan juga singkong goreng buatan Balqis.
"Iya Ki, Bara minta antar ke suatu tempat. Penting katanya."
Ujar Fajar.
Aki memgangguk.
"Ya sudah, antarlah, besok dia sudah pulang ke Jakarta."
Kata Aki.
Fajar mengangguk.
"Siap Ki."
Fajar kemudian salaman dengan Aki, dan tak lupa mencium tangan Aki.
Setelah itu ia ngeloyor keluar dari ruang dalam.
__ADS_1
Fajar tak sengaja melihat kucing yang sedang tidur di dalam kandang.
Ah apakah Bara akan membawanya juga? Batin Fajar.
Fajar keluar dari rumah Aki lewat pintu samping lagi, lalu menutupnya rapat sebelum kemudian menuju mobilnya.
Albar tampak sudah duduk di dalam mobil, sibuk bicara dengan Flo.
"Jadi jumpa persnya cuma selang dua hari setelah aku dari sini?"
Tanya Albar pada Flo, tepat saat Fajar masuk ke dalam mobil.
Apaan si Bara jumpa pers segala? Batin Fajar.
"Anak pengusaha Jepangnya gimana? Udah dihubungi?"
Tanya Albar lagi.
"Kita sudah dikasih nomor nya, tapi kata Tuan Dimas lebih baik menunggu pihak mereka saja yang menghubungi kita dulu."
Ujar Flo dari seberang sana.
Bersamaan dengan itu Fajar menyalakan mesin mobilnya.
"Ya udah, atur deh, aku maunya sebelum tampil ketemu anak pengusaha itu dulu, siapa namanya Harumi?"
Tanya Albar, yang langsung ditangkap telinga Fajar.
Hmm... Harumi, pacar Bara yang lain nih pasti. Batin Fajar buruk sangka.
"Aku dari Jakarta nanti malam, jadi sampai sana mungkin pagi, kamu mendingan ngomong ke Aki kalau kemungkinan kita langsung balik."
"Lha ngga nunggu Balqis pulang sekolah dulu?"
Protes Albar.
"Lah kesianganlah, kamu jadwal padat mulai besok malam."
Kata Flo.
"Hah kenapa langsung bikin jadwalku padat Flo? Kamu mah ngaco."
Kesal Albar.
"Lho gimana sih, mau dibatalin semuanya aja apa bagaimana?"
Flo tak kalah kesal.
"Ah ya... ya... baiklah."
Albar akhirnya kalah.
"Udah Flo, aku mau pergi dulu, ada penting nih."
Albar mematikan telfonnya.
"Siapa?"
Fajar kepo.
"Manajerku."
Sahut Albar.
"Woow... Kamu juga punya manajer?"
Fajar semakin takjub.
"Kita cari toko emas yang bisa nerima pesanan Jur."
Kata Albar akhirnya sambil menyandarkan tubuhnya.
"Maksudnya pesan apa nih?"
Tanya Fajar dodol.
"Ya pesan perhiasanlah, masa pesan ayam potong mah kamu juga bisa."
Albar jadi ingin nonyor kepala Fajar.
Ah Albar pusing karena Flo membuatkan jadwal tanpa musyawarah dulu dengannya.
Bagaimana bisa besok pulang ke Jakarta tanpa menunggu Balqis pulang dari sekolah?
Nanti dia bagaimana?
Apa dia akan baik-baik saja jika Albar pergi tanpa menunggunya?
Bagaimana cara Albar pamit nantinya?
Ah sialan! Flo kadang memang selalu memutuskan semuanya sendiri.
Fajar melajukan mobilnya dengan santai menyusuri jalanan kampungnya.
Saat kemudian mereka berbelok di pertigaan, sebuah mobil kijang lawas melewati mereka.
Tentu saja, Albar kenal betul siapa pemiliknya.
Ya siapa lagi, kalau bukan Adit.
__ADS_1
**----------**