
Setelah membujuk sedemikian rupa, akhirnya Balqis bersedia makan.
Albar mengambil nasi yang sudah disiapkan Wa Icih di meja makan yang dipindahkan di teras belakang di mana menjadi batas antara rumah dengan sumur.
"Kucingnya sudah dikasih makan Navie tadi."
Kata Wa Icih saat Albar mengambil nasi dan segelas teh hangat untuk Balqis.
"Ah iya Wa, saya lupa seharian ini belum kasih makan Cimot."
Albar melihat Cimot di kandang kini sedang tidur.
Tampaknya ia kekenyangan.
Albar menghela nafas.
"Saya bawa makanan Balqis dulu."
Kata Albar pada Wa Icih.
Tampak wanita paruh baya itu mengangguk.
Albar membawa baki berisi piring nasi dan gelas teh hangat ke kamar Balqis.
Balqis kini duduk di tepi tempat tidur, ia begitu pucat dan kuyu.
Albar meletakkan baki di atas meja belajar Balqis, lalu mengambil gelas teh hangat terlebih dulu untuk diberikannya pada Balqis.
"Minum dulu Bal, biar badanmu hangat."
Kata Albar.
Balqis menerimanya, lalu meniupnya sebentar sebelum kemudian meneguknya.
Albar duduk lagi di kursi meja belajar Balqis, menunggu Balqis selesai minum baru akan memberikan piring nasinya.
"Kamu sendiri udah makan?"
Tanya Balqis pada Albar sambil memberikan gelas teh ke Albar lagi.
"Nanti aku mah gampang."
Kata Albar.
Balqis diam, menatap Albar yang meletakan gelas teh nya di atas meja lalu beralih mengambil piring nasi.
Nasi lauk ayam goreng dan sayur bening, sambal dan tahu goreng.
"Makan bareng saja."
Kata Balqis tiba-tiba saat Albar akan memberikan piring nasinya pada Balqis.
Albar mengerutkan kening.
Dia salah dengan atau apa? Batinnya.
"Makan bareng saja, itu sendok buat teh ngga dipake buat aku saja, itu buat kamu."
Kata Balqis.
"Kamu kesambet apa Bal?"
Tanya Albar heran.
Balqis mengerucutkan bibirnya.
"Aku malas makan sendirian."
Kata Balqis lirih.
"Rasanya jadi ingat kedepannya aku bakal sendirian ngga ada siapa-siapa."
Lanjut Balqis pula.
Albar tercekat.
Menelan ludahnya.
Perasaannya tiba-tiba jadi tak menentu.
Lalu...
Balqis berdiri, berjalan pelan mendekati meja lalu mengambil sendok yang harusnya untuk wedang teh nya.
"Taruh sini saja Bar."
Kata Balqis.
__ADS_1
Albar akhirnya meletakkan piringnya.
Balqis sambil meneteskan air mata lagi tampak menyendok nasi dan sayur lalu memakannya.
Albar menatap Balqis dengan iba.
Tak ingin berdebat panjang dan ingin Balqis merasa lebih baik, Albar pun mengikuti Balqis menikmati nasi sayur dalam piring yang sama dengan Balqis.
Sungguh aneh mereka makan satu piring berdua.
"Besok, ikutlah aku ke Jakarta Bal, pindah saja sekolah di sana, hiduplah bersamaku, di rumahku."
Kata Albar.
Balqis menghentikkan tangannya menyendok nasi.
Albar menatap Balqis.
Ia sungguh berharap Balqis mengangguk mengiyakan.
Tapi...
"Aku di sini saja."
Kata Balqis.
"Aku akan cari tahu soal kedua orangtua kandungku."
Lirih Balqis lagi.
"Mereka orang Jakarta, aku akan bantu mencarinya jika kamu mau."
Kata Albar.
Balqis menggeleng.
"Itu kan hanya KTP Bar, yang tahu kebenarannya mereka di mana adalah Abah, tapi Abah sudah meninggal, lalu Aki, tapi Aki juga sudah meninggal sekarang."
Balqis suaranya bergetar. Air matanya bercucuran.
Balqis meletakan sendoknya di atas piring. Nasi masih tersisa separuhnya.
Albar jadi merasa bersalah, tapi ia sungguh-sungguh ingin Balqis ikut saja dengannya, ia tak bisa pulang ke Jakarta dan meninggalkan Balqis.
Sungguh, Albar tidak bisa.
Albar berdiri di depan Balqis, menariknya dalam pelukan.
"Ngga apa aku sendirian di sini Bar, aku sudah berhutang banyak pada Aki dan Abah, aku harus merawat rumah ini, aku ngga bisa ninggalin rumah ini Bar."
Balqis menangis tersedu.
Albar mengusap lembut kepala Balqis.
"Sabar Bal, sabar... Sudah, jangan nangis lagi."
Albar mencoba menenangkan Balqis.
"Selama ini, aku pikir aku benar-benar anak Abah, aku tidak tahu jika aku anak pungut."
Lirih Balqis begitu nelangsa, membuat Albar jadi tak kuasa untuk ikut menangis.
**-----------**
Pengajian untuk Aki dihadiri cukup banyak warga, dan sesuai prediksi Albar, teman-teman Aki di Kelompok ternak juga berdatangan, bahkan juga Adit.
Sekitar pukul sembilan malam, acara pengajian selesai.
Para warga dan termasuk juga Adit berpamitan pulang pada Albar yang saat ini akhirnya menjadi Tuan rumah.
Setelah acar usai, barulah Wa Icih keluar untuk membenahi piring-piring kotor yang digunakan untuk wadah suguhan.
Hampir tak ada yang tersisa, dan rasanya sangat melegakan.
"Pengajian seperti ini akan dilangsungkan berapa kali?"
Tanya Albar sambil duduk sila di karpet ruangan yang akan dibiarkan digelar hingga tujuh hari ke depan.
"Sampai tujuh malam Bar."
Kata Fajar menjawab pertanyaan Albar.
"Jadi masih enam kali lagi?"
Tanya Albar.
Fajar mengangguk.
__ADS_1
Albar menatap pintu kamar Balqis yang tertutup.
Tadi Balqis setelah lelah menangis akhirnya memilih tidur.
Terlihat sekali jika ia syok berat dengan semua situasi dan kondisi ini.
"Kau jadi akan pulang ke Jakarta?"
Tanya Fajar yang ikut duduk di sebelah Albar.
Albar diam saja.
Bingung.
Sejatinya ia tak ingin pulang jika saja bisa.
Tapi...
"Balqis akan benar-benar sendirian jika kamu ngga ada."
Kata Fajar lagi.
Albar mengangguk.
"Ya Jur, aku memikirkannya sejak tadi, aku mengajaknya pindah saja ke Jakarta, tapi dia tidak mau."
Ujar Albar.
"Jadi bagaimana?"
Tanya Fajar jadi ikut pusing.
Albar mengurut kening.
"Memang sih di sini saudara Aki banyak, tapi kan rumahnya beda, mereka tinggal di rumah sendiri, sementara Balqis jika sendirian di rumah takutnya nanti ada bahaya atau bagaimana."
Fajar malah menambah parno Albar.
"Kalau mati listrik malam-malam, atau ada maling, atau ada orang berniat tidak baik."
Fajar makin bersemangat mengompori.
Haiiish...
Albar mendesis.
Bukannya ikut memikirkan solusi malah sibuk menambah ketakutan Albar membayangkan Balqis nanti sendirian bakal bagaimana.
"Apalagi..."
"Sudah jur, jangan ngomong lagi, lama-lama aku pakein helm kalo ngomong terus."
Kesal Albar.
"Tapi ini beneran Bar, kamu harus benar-benar memper..."
Albar menyambar satu potong kue yang masih tersisa di piring dan menjejalkannya ke mulut Fajar.
"Udah makan aja, otakku tambah ruwet."
Kata Albar.
Fajar nyengir, lalu mengunyah potongan kue dalam mulutnya.
"Hmm... Ini sih sudah jelas kue buatan camer."
Kata Fajar halu.
Ibu Dinda memang terkenal dengan kue-kue buatannya, bahkan beberapa pelanggannya sampai ada yang dari pegawai Kelurahan dan kecamatan juga.
"Camer... Camer, nembak aja ngga berani ngaku-ngaku camer."
"Ya kan nanti kalo udah beli pick up bakalan aku tembak."
"Tuh fortuner tukerin pick up aja."
Sahut Albar.
"Jiaaaaah, dikira aku sableng yang ada."
Kata Fajar sambil bersiap mencomot potongan kue buatan Ibunya Dinda lagi, tapi piringnya segera di ambil Albar.
"Iisssh..."
Fajar ingin memukul Albar jadinya.
**-----------**
__ADS_1