
Akhirnya, waktu perpisahan yang mengharu biru itupun tiba.
Albar dengan galau berjalan menuju mobil van hitam yang kini terparkir di depan pelataran rumah Aki.
Flo merangkul Balqis sambil berjalan mengikuti Albar yang seolah langkahnya begitu berat.
Wa Icih tampak tergopoh-gopoh bersama Inggit anak perempuannya dan juga suaminya menuju rumah Aki untuk ikut melepas Albar yang akan pulang ke Jakarta.
Albar bersalaman dengan Wa Icih dan suaminya, serta dengan Inggit dan juga Navie.
"Terimakasih sudah menerima saya dengan baik selama tinggal dan merepotkan semuanya di sini."
Kata Albar.
"Duh Nak Albar ini bicara apa, kami semua malah senang bisa kenal langsung dengan nak Albar. Artis terkenal tapi tidak sombong."
Kata Wa Icih.
Anak-anak dan suami Wa Icih mantuk-mantuk setuju.
"Ngga sombong cuma agak pekok Wa."
Seloroh Flo membuat Albar menjitak kepalanya.
Flo tertawa.
Flo kemudian memeluk Balqis dengan erat.
"Baik-baik ya Qis, jangan sungkan telfon Kak Flo kalo ada apa-apa."
Kata Flo.
Balqis mengangguk sambil memaksakan satu senyuman.
Tampak jelas Balqis berusaha untuk menahan tangisnya.
Ia tak mau nantinya Albar jadi semakin berat bebannya meninggalkannya sendirian.
Flo kemudian menyalami Wa Icih dan yang lain juga.
Sedangkan Albar mengusap kepala Balqis.
"Yang sehat yah, jangan telat makan, jangan lupa kunci pintu, jangan pulang telat kalau sekolah, jangan ngeloyor kalo hujan, telfon Fajar saja kalau butuh dijemput pake mobil."
Pesan Albar.
Balqis mengangguk.
"Aku akan sering telfon, kalau ngga sempat aku mungkin akan chat doang, kamu jangan sedih."
Kata Albar.
"Iya."
Balqis mengangguk lagi.
Albar menghela nafas.
Rasanya ia ingin memeluk Balqis lagi, tapi nanti dikira sedang syuting FTV, maka jadilah Albar hanya menepuk-nepuk bahu Balqis saja, lalu cepat masuk ke dalam mobil van nya.
Pardi sudah siap di belakang kemudi.
"Kami jalan dulu ya."
Flo melambai, lalu menyusul Albar masuk ke dalam mobil.
Saat Flo akan menutup pintu mobil, Balqis tiba-tiba memanggil Albar.
Flo membuka pintu mobilnya lebar, Balqis mendekat ke mobil dan kemudian memberikan satu wadah berwarna biru muda.
"Apa ini?"
Tanya Albar.
"Sendok, aku lupa tadi masukin kotak makan."
Kata Balqis.
Jiaaaah kirain apa... Batin Flo.
"Hati-hati ya Bar, hati-hati Kak Flo, nanti kalau oseng merconnya terlalu pedas maaf ya."
Kata Balqis lagi.
Albar mantuk-mantuk.
__ADS_1
Flo nyengir ke arah Balqis.
Benar-benar cewek yang polos.
Mana ada coba jaman sekarang pasangan mau pisahan malah sibuk bahas sendok dan oseng mercon.
Ya sudahlah ya, mungkin memang sudah seharusnya Albar yang absurd jodohnya gadis yang baik dan polos, supaya otaknya yang sedikit konslet bisa bener.
Balqis menjauhi mobil Albar, lalu merelakan Flo menutup pintu mobil itu.
Terlihat Pardi mulai menjalankan mobilnya pelahan-lahan, dan akhirnya melaju menjauh.
Bersamaan dengan itu, tiga teman Balqis muncul dengan sepeda mereka yang dikayuh dengan semangat, begitu juga dengan Fajar yang datang dengan tossanya.
"Albaaaar, Albaaaar..."
Mereka memanggil Albar sambil melambai-lambaikan tangan.
Albar membuka kaca mobil dan melongok ke arah belakang mobil.
"Juuuuuur..."
Albar memanggil Fajar.
"Semuaaaaaa, aku pamiiit..."
Kata Albar tanpa memperhatikan sekitar dengan kepala yang nongol keluar dan begitu mobil belok kepala Albar kena dahan pohon yang terlalu menjorok ke jalan.
"Aduh."
Albar masuk ke dalam mobil lagi.
Flo terpingkal-pingkal.
Albar yang mengusap kepalanya karena sakit kena dahan jadi nabok kepala Pardi untuk balas dendam.
"Kamu jadi supir ngga mikirin keselamatan penumpang."
Kata Albar kesal.
Pardi jadi mengulum senyum.
Flo melihat di bagian dekat Albar duduk ada tas kotak makan siang.
"Balqis?"
"Awas jangan minta, kalian nanti cari makan di KFC atau resto saja."
Ujar Albar.
"Jiaaaah... Dasar pelit."
Flo menabok lengan Albar.
**---------**
Balqis kini berdiri bersama teman-temannya yang menatap mobil Albar yang semakin menjauh.
"Kapan artis itu bakal ke sini lagi ya?"
Gumam Po.
"Yang jelas kalau Aqis lulusan sekolah dong, kan akad nikah di sini."
Kata Eti.
Balqis tampak tersenyum saja mendengarnya.
Hhh... Akad nikah?
Orangtua Balqis saja yang asli entah di mana? Nanti yang jadi wali siapa kalau Balqis mau nikah?
Balqis jadi sedih lagi mengingat statusnya yang belum jelas.
"Eh kita kan mau sekolah, gimana sih malah ngobrol."
Dinda mengingatkan.
"Eh iya."
Eti dan Po tepuk jidat.
Navie juga tampak lari ke rumah untuk mengambil sepeda, sedangkan Teh Inggit yang sudah kuliah santai saja karena dia ada kelas siang.
"Qis, kamu mau mulai berangkat kapan?"
__ADS_1
Tanya Dinda yang kembali naik ke sepeda.
"Besok Nda."
Jawab Balqis.
Dinda mengangguk senang, begitu juga Eti dan Po.
"Dunia belum berakhir Qis, kita harus terus semangat mengejar matahari."
Kata Eti.
"Itu dua judul lagi digabungin jadi satu."
Kata Po.
"Hahaha... jangan bilang-bilang, ketahuan Othornya jadul."
Hahahaha...
(Sialan...)
Dinda, Po dan Eti akhirnya pamit pada Wa Icih untuk pergi ke sekolah.
Begitu juga Navie anak Wa Icih terlihat sudah rapi jali dengan seragam salah satu SMP favorit.
"Aqis, Uwa mau ke pasar dulu beli rokok buat nanti malam, kamu mau dibelikan apa?"
Tanya Wa Icih.
"Oh uangnya Wa nanti Aqis ambilkan."
Balqis tergopoh menuju kamar lalu mengambil dompet di lemari.
Ada uang satu juta dari dompet, uang tabungannya hasil jualan sempolan bulan ini.
Balqis keluar lagi menemui Wa Icih.
"Ini Wa uangnya, nanti Aqis nitip diambilkan uang di ATM saja sama Teh Inggit ya."
Kata Balqis.
"Lho ini buat apa Qis, itu uang yang dari sumbangan saja belum habis."
Ujar Wa Icih.
"Ngga apa Wa, takut kurang, kan nanti ada beli air minum gelasan juga dan sebagainya."
Kata Balqis.
Balqis meraih tangan Wa Icih lalu memberikan uang satu jutanya ke tangan Wa Icih.
Wa Icih pun akhirnya mengangguk mengiyakan saja.
"Aqis mau makan apa nanti Wa masakin."
Kata Wa Icih.
"Aqis tadi pagi sudah masak buat bekal Albar Wa, masih ada sisa oseng mercon kok, nanti Aqis makan itu saja. Paling nanti malam kan pesan nasi buat tiga harian paket ayam bakar, Aqis minta empat kotak aja buat sekalian ngasih Dinda, Eti dan Po."
Kata Balqis.
Wa Icih mengangguk.
"Iya Wa pesannya sengaja dilebihkan sepuluh porsi kok. Nanti untuk tujuh hari sih Wa saja yang masak, jadi tidak terlalu banyak pengeluaran."
Ujar Wa Icih.
Balqis menghela nafas.
"Sebetulnya kalau soal pengeluaran tidak usah khawatir Wa, Maminya Albar kemarin kasih sumbangan dua ratus juta."
Kata Balqis.
"Hah... Sumbangan apa?"
Wa Icih sampai nyaris memantul saking kagetnya.
"Sumbangan buat acara tahlil."
Kata Balqis.
"Dua ratus juta buat sumbangan?"
Wa Icih sungguh tak bisa membayangkan sebanyak apa uangnya.
__ADS_1
**--------**