Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
41. Gangguan Malam


__ADS_3

Albar duduk di teras rumah menikmati malam di kampung yang lusa akan ia tinggalkan, Balqis dipaksanya menemani dan harus mau, tak peduli meskipun Balqis memasang wajah masam sepanjang duduk bersama Albar.


"Kamu mukanya ngga perlu masam begitu, nanti lama-lama aku mules."


Kata Albar pada Balqis di dekatnya.


Mereka duduk di lantai teras rumah Aki yang belum dikeramik.


Menatap jalanan kampung yang lengang dan tak seberapa terang.


"Biarinlah masam, Mangga masam juga enak dibikin rujak."


Sahut Balqis sambil membaca Novel online tulisan Mamak Cila.


(Ihiiir... Tirulah Balqis)


"Baca apa sih, dari tadi serius amat, pesan dari Bang Medit?"


Tanya Albar sambil berusaha melongok ke arah layar hp Balqis.


Balqis segera menjauhkannya dari Albar.


"Kepo aja."


Kata Balqis.


"Hmm... Kepo kan yang suka dipakai bajak sawah."


Gumam Albar sambil kembali menatap jalanan kampung.


"Itu mah Kebo."


Kata Balqis pada Albar yang jadi tergugu.


"Oh Kebo ya, kirain Kepo."


Sahut Albar asal saja.


Balqis geleng-geleng kepala.


Albar itu seabsurd ini, para fans nya tahu ngga sih? Batin Balqis.


"Bal."


Panggil Albar dengan mata yang kini menerawang jauh ke angkasa.


"Hmm..."


"Kalo aku pulang ke Jakarta lusa, kamu sedih ngga sih?"


Tanya Albar.


"Nggak."


Jawab Balqis cepat.


"Ish... Ngga pake mikir dulu, asal jawab aja."


"Lha emang maunya aku jawab apa?"


Albar menatap Balqis yang kemudian berusaha menyembunyikan wajahnya dengan semakin menunduk dan pura-pura baca novel.


"Kalau aku sih kayaknya sedih ninggalin kampung ini."


Lirih Albar kemudian.


Balqis terdiam.


Ia ingin tanya kenapa, tapi rasanya berat untuk mengatakannya.


Bagaimanapun, Balqis masih kesal pada Albar dengan kejadian sore tadi.


Saat ia pikir Albar akan apa, malah ternyata menertawakannya. Balqis benar-benar merasa sudah dipermainkan.


"Aku pikir pas mau ke sini bakal ngga betah, ternyata sekarang saat mulai kerasan malah harus pulang."

__ADS_1


Tambah Albar pula, lalu tergugu sendiri.


Memaksa Balqis kemudian ganti menoleh ke arah Albar yang telah kembali menatap langit malam ini.


Bintang bertaburan di sana, cahayanya yang berkelip-kelip seperti kunang-kunang yang menghiasi pekatnya malam.


"Kamu sekolah yang fokus, aku tunggu di Jakarta saat nanti kamu masuk kuliah."


Kata Albar.


Balqis terdiam.


Lagi-lagi dadanya berdebar tak jelas, tapi ia terus mengingatkan jika jangan sampai mau dipermainkan Albar lagi.


Ah tidak!


Cowok ini, setampan apapun dia, jika hanya mempermainkan Balqis saja, tentu Balqis harus bersikap tegas untuk menolaknya dan menendangnya jauh-jauh dari kehidupan Balqis.


"Jangan khawatir orang-orang mengolok-olok kamu saat aku pulang ke Jakarta, tenang saja, aku akan melakukan semuanya dengan baik."


Ujar Albar.


Balqis mengerutkan kening.


Apa maksudnya?


Melakukan apa?


Dasar tidak jelas. Batin Balqis.


Albar menggeliatkan tubuhnya, lengannya sengaja mengenai muka Balqis.


Balqis segera menaboknya dengan keras.


"Untung lenganku ngga dari pintu penutup rel kereta, tanganmu bisa sakit keseringan nabok."


"Nggak lah."


"Nanti kalau aku pulang kamu bingung mau nabokin siapa, jangan sampai nabok Aki, kasihan udah tua."


Mendengarnya Balqis jadi tertawa.


"Kamu mah dodol."


Lalu keduanya jadi sama-sama tertawa karena membayangkan Aki yang lengannya ditabok Balqis.


**---------**


"Pokoknya besok kamu jangan jualan lagi Jur."


Kata Albar bicara pada Fajar lewat telfon begitu akhirnya Albar bosan duduk di teras dan memutuskan masuk lalu bersiap tidur di kamarnya.


Namun sebelum tidur, Albar tiba-tiba ingat sesuatu, jadi ia menelfon Fajar lebih dulu.


"Aku bolak balik ngga jualan nanti pelanggan pada kabur semua lah Ra, gimana sih."


Fajar galau tingkat dewa di seberang sana.


"Ayolah Jur, mungkin ini permintaanku yang terakhir kali Jur."


Albar memelas.


"Memangnya kamu mau mati Ra?"


Tanya Fajar.


"Sialan, aku kan mau balik ke Jakarta!"


Albar jadi kesal.


Bisa-bisanya Fajar nanya dia mau mati. Belum pernah ngerasain di tonjok kali ni anak.


"Mau ngapain sih Ra? Beli mobil lagi? Buset ni mobil yang kemarin aja mau buat apa itu dianggurin."


"Lagian siapa suruh dianggurin, kan bisa disalakin, dipisangin, diapelin."

__ADS_1


"Jiaaaah, malah jadi nama-nama buah."


Fajar pusing tujuh ratus delapan puluh dua keliling sepak bola.


"Sekali ini lagi Jur, janji deh."


Kata Albar akhirnya serius.


Fajar diam sejenak, sepertinya mempertimbangkan baik buruk jika ia tak jualan besok.


Hingga akhirnya,


"Ya udahlah, demi nih demi, aku ngga apa besok ngga jualan lagi, tapi janji ini yang terakhir Ra, bisa gulung tikar aku kalo keseringan tutup."


Ujar Fajar.


"Tenang... Tenang... Kalo kamu sampai tutup kios ayamnya, aku bukain food court."


"Jiaaaah..."


Fajar benar-benar takjub dengan teman barunya itu.


"Oke deal besok temenin aku pergi ke satu tempat, sebelum lusa aku pulang ke Jakarta."


Albar senang.


"Kamu kenapa pake pulang ke Jakarta segala sih Ra, tinggal aja di sini lah."


"Hmm... Aku sudah dirindukan alam semesta Jur, jadi aku harus pulang."


"Ya apa katamu sajalah Ra."


Kata Fajar akhirnya mengalah.


Nyatanya teman barunya itu kalau ngomong seperti habis mabok dua botol anggur.


Dan setelah musyawarah yang sebetulnya hasilnya sudah jelas ditentukan oleh Albar, maka keduanya bersepakat akan pergi ke satu tempat.


Albar tersenyum lega begitu akhirnya panggilannya dengan Fajar membuahkan hasil yang selalu akan sesuai harapannya.


Kekuatan memaksa Albar kan memang di atas rata-rata.


Albar kemudian merebahkan tubuhnya, setelah sebelumnya mematikan lampu kamar lotengnya lebih dulu, dan menggantinya dengan lampu tidur yang lebih redup.


"Besok adalah malam terakhir, haruskah aku menyanyi lagu Bang Haji?"


Gumam Albar sambil tergugu sendirian.


**---------**


Berbeda dengan Albar yang sudah bersiap tidur, Balqis masih duduk di depan meja belajarnya.


Ia sedang mengerjakan PR, namun tiba-tiba ia ingat pesan Dinda untuk memberitahu Eti dan Po juga soal Albar.


Ya, Albar Harrys, idola Eti.


Balqis tampak menghela nafas.


Rasanya ia masih bingung apakah harus mengatakannya pada Eti atau tidak.


Ia benar-benar takut nantinya Eti akan sangat heboh, lalu akhirnya semua orang juga tahu jika orang yang selama ini mereka sangka benar-benar bernama Bara yang hanya mirip saja dengan Albar adalah nyata Albar Harrys yang sebenarnya.


Ah rasanya Balqis membayangkannya saja sudah payah.


Saat ini gempar ia dijodohkan dengan Bara yang disebut sebagai sultan saja sudah sebegitu kacau, apalagi jika ditambah semuanya tahu jika itu adalah Albar Harrys.


Balqis menatap layar laptopnya.


Maju mundur cantik tangannya untuk membuka ruang chat grup nya dengan ketiga sahabatnya.


Haruskah? Haruskah ia lakukan?


Jika tidak bukankah tak apa-apa dan tak akan merugikan siapa-siapa?


Balqis mencoba mencari pembenaran.

__ADS_1


**----------**


__ADS_2