
Ustadzah Nur memeluk Balqis, ia tampak berusaha menguatkan anak muridnya yang sudah sejak kecil ia telah anggap sebagai bagian dari keluarganya pula.
Adit sendiri baru selesai mensholatkan saat kemudian kabar dari penggali kubur sampai ke suami Wa Icih jika penggalian tanah untuk memakamkan Aki telah siap.
Semua pun bergegas mengurus jenazah Aki untuk di naikkan ke keranda.
Albar yang sudah tak punya energi lebih memilih untuk nanti ikut mengiring saja, sedangkan Fajar kini ikut menggotong jenazah Aki.
Suasana duka begitu terasa di rumah Aki bahkan saat jenazah Aki keluar dari dalam rumah dan siap untuk dibawa ke pemakaman.
Langit senja temaram tampak seperti ikut merasakan kesedihan yang dalam saat warga mengusung keranda di mana jenazah Aki terbaring menuju peristirahatan terakhir.
Albar berjalan di belakang usungan keranda tak jauh dari Fajar yang ikut mengusung di bagian belakang.
Sesekali air mata masih menetes dari sudut mata Albar.
Terlalu cepat, bahkan sama sekali tak ada tanda Akan pergi, inilah yang membuat Albar begitu terpukul.
Di area pemakaman tampak sudah ada beberapa orang menunggu ketika akhirnya rombongan yang mengantar jenazah Aki tiba.
Suara para pengantar yang mengucap tahlil terdengar terus mengiringi jenazah Aki yang kini dikeluarkan dari dalam keranda.
Albar berdiri di antara banyak pelayat yang mengiring Aki hari itu.
Hingga seorang yang Albar cukup kenali tiba-tiba berdiri dan merangkul bahu Albar sambil menepuk-nepuk lembut.
"Urusan hutang yang seratus lima puluh juta itu biar jadi tanggungan kami semua di kelompok ternak."
Kata laki-laki yang tak lain adalah Haji Hasan itu.
Albar tersenyum tipis.
"Saya tak pernah menghitungnya sebagai hutang jika pada Aki."
Kata Albar.
Lalu kembali menatap tubuh Aki yang mulai digotong untuk dimasukkan ke dalam liang lahat.
Manusia, hidup nyatanya hanya sekejap saja.
Kadang kemarin masih bisa tertawa-tawa, masih bisa makan enak dan tidur nyenyak, tiba-tiba saja waktunya di dunia habis dan mau tidak mau harus kembali ke sisi sang pencipta.
Albar tertegun menatap Aki yang kini mulai ditimbun tanah setelah Fajar yang ikut turun ke lubang kubur melantunkan adzan terakhir untuk Aki.
Albar menangis tanpa sadar.
Selamat jalan Aki. Terimakasih untuk waktu-waktu terakhirmu yang diberikan untukku juga. Batin Albar.
Kini Aki sudah berada di bawah gundukan tanah merah yang ditaburi bunga dan disiram air.
Banyak pelayat menyempatkan berdoa lagi di dekat makam, sebelum kemudian mereka beranjak pergi satu demi satu karena Adzan maghrib dari mushola-mushola dan masjid telah diperdengarkan.
Adit yang ternyata juga ikut mengubur Aki dengan turun ke lubang kubur nampak baju koko dan celananya kotor oleh tanah liat.
Ia berjalan bersama Fajar yang kemudian berjalan menghampiri Albar.
Haji Hasan sendiri sudah pergi bersama rombongan lainnya.
"Yuk pulang Bar."
Ajar Fajar.
Adit tampak saling berpandangan sekilas lalu, dan kemudian Adit pamit untuk mendahului mereka.
__ADS_1
"Sebentar Jur, aku mau ke makam sebentar."
Kata Albar.
Fajar mengangguk.
"Aku tunggu di depan."
Kata Fajar pula.
Gantian Albar yang mengangguk.
**----------**
"Istirahat dulu saja Qis, nanti kamu sakit."
Kata Ustadzah Nur sambil membantu Balqis berdiri.
Balqis kemudian menurut berdiri dan dituntun ustadzah menuju kamar.
Dinda, Eti dan Po yang dari tadi mengaji setelah jenazah Aki dimakamkan pamit pulang.
"Yang sabar, yang ikhlas, supaya Aki perjalanannya tidak berat."
Kata Ustadzah Nur menasehati Balqis yang kini terbaring lemah di atas tempat tidur.
Balqis mengangguk pelan.
"Saat ini yang dibutuhkan Aki hanyalah doa dari kita semua yang ditinggalkan, dan yang paling utama adalah doa dari Balqis sebagai cucu satu-satunya."
Kata Ustadzah Nur pula.
Balqis kembali mengangguk pelan.
Ustadzah Nur tersenyum.
"Ustadzah harus pulang karena sudah Maghrib, Aqis tidak apa-apa kan ditinggal?".
Tanya Ustadzah.
Balqis menatap Ustadzah Nur.
"Iya."
Jawab Balqis masih agak lemah.
Ustadzah Nur tersenyum.
Tak lama Ustadzah Nur pun keluar dari kamar Balqis, meninggalkan Balqis sendirian di kamarnya.
Balqis ingin sekali berhenti menangis sebetulnya, matanya sudah terasa panas dan juga pedih, namun air mata itu terus saja jatuh dan Balqis tak kuasa menahannya.
"Aki, kenapa Aki pergi sebelum menjelaskan apapun pada Aqis? Kenapa Aki pergi sebelum mengatakan siapa sebetulnya orangtua Aqis?"
Lirih Balqis seorang diri. Hatinya begitu nelangsa mendapati semua kenyataan yang kini harus ia terima.
Dan sekarang...
Apa yang harus Aqis lakukan Ki? Aqis harus bagaimana tanpa Aki? Aki harus ke mana?
Balqis kembali tersedu.
**---------**
__ADS_1
Ustadzah Nur tampak berpamitan pada Wa Icih yang saat ini mewakili keluarga sebagai tuan rumah.
Bagaimanapun ia yang tergolong paling dekat hubungan darahnya dengan Aki.
"Saya nitip untuk nanti malam."
Kata Ustadzah Nur menyerahkan dua amplop yang cukup tebal.
"Aduh repot-repot Bu Ustadzah."
Kata Wa Icih.
"Kalau butuh apa jangan sungkan kabari saya Bi, buat saya Balqis dan Aki sudah keluarga sendiri."
Ujar Ustadzah Nur.
Wa Icih mengangguk terharu.
Wa Icih kemudian mengantar Ustadzah Nur keluar dari rumah Aki.
Tampak di dekat mobil, Adit anak Ustadzah Nur sudah menunggu Ibunya.
"Sepetinya nak Adit ikut menguburkan Aki."
Kata Wa Icih yang melihat penampilan Adit yang celananya penuh tanah digulung hingga nyaris ke lutut dan baju koko putihnya juga penuh noda tanah.
Ustadzah Nur tersenyum.
"Sudah kewajiban kaum laki-laki mengantar saudaranya hingga tempat peristirahatan terakhir, dan yang paling penting meski masih muda juga harus belajar terus untuk selalu ingat mati."
Kata Ustadzah Nur.
Wa Icih mengangguk.
"Kami permisi Bi."
Ustadzah Nur pamit.
Keduanya bersalaman lagi.
Ustadzah Nur masuk ke dalam mobil.
Wa Icih kemudian kembali masuk ke dalam rumah, ia akan menuju ke kamar Balqis untuk menyerahkan semua amplop sumbangan para pelayat, namun kemudian Wa Icih dikagetkan suara orang mengucap salam.
Dinda datang lagi bersama Ibunya membawa satu kantong berisi kue.
"Buat acara nanti."
Kata Ibunya Dinda saat akhirnya Wa Icih menemui Dinda dan Ibunya.
"Balqis ke mana Bi?"
Tanya Ibunya Dinda yang kemudian duduk di tikar ruangan rumah Aki.
Dinda juga duduk di sana, di samping sang Ibu.
"Di kamar, dari tadi belum berhenti nangis. Tadi itu juga karena dibujuk Ustadzah Nur."
Tutur Wa Icih.
Ibunya Dinda mengangguk mengerti.
Jelas ia paham situasinya pasti sangat berat untuk Balqis.
__ADS_1
Dia sebagai yatim piatu selama ini hanya memiliki Aki saja, tapi sekarang Aki juga diambil yang Maha Kuasa, jelas ini akan jauh lebih berat untuk Balqis kedepannya.
**---------**