
"Siapa?"
Tanya Balqis sambil bangun begitu Pardi menghampirinya yang berbaring di sofa ruangan TV dan mengulurkan hp miliknya.
"Tuan muda Albar."
Kata Pardi.
Mendengar nama Albar, tampak Balqis langsung tergugu, ia yakin Albar pasti akan langsung mengomel, Balqis lupa turun ke ruang TV tanpa membawa hp nya.
Balqis menerima hp Pardi, lalu membawanya menjauh karena terlalu berisik.
Balqis naik ke lantai dua rumah Albar, lalu memilih duduk di teras balkon.
"Sorry."
Kata Balqis begitu bicara menggantikan Pardi.
"Haiiish, kamu ini, kamu nggak tahu kakiku sudah macam habis dipresto? Lemas sampai rasanya sudah tidak ada tulangnya."
Omel Albar.
Ya tentu saja, Balqis sudah tahu Albar akan mengomel, jadi Balqis tertawa kecil.
"Iya kan sudah bilang sori, kenapa masih dimarahi?"
Kata Balqis.
"Bukan marah Bal, ini karena aku khawatir, kamu kan tadi enggak sehat pas aku mau berangkat."
Kata Albar.
"Cuma kecapean saja, dibawa tidur sebentar juga sudah baikan lagi Albar, jangan khawatir."
Balqis menenangkan Albar.
Terdengar Albar menghela nafas.
"Kamu ini, mana bisa aku nggak khawatir, ninggalin kamu saja itu sudah bikin dadaku sesak."
Ujar Albar.
"Aqis di sini enggak sendirian kan, banyak yang nemenin, Albar jangan terlalu cemas, justeru Albar yang harus benar-benar jaga kesehatan, biar Aqis di sini nggak sedih kalau denger Albar sakit."
"Kalau sakit kamu harus jenguk ke Perth."
Mendengarnya Balqis jadi tertawa kecil.
"Mana bisa, terlalu jauh atuh."
"Bisa dong, kan naik pesawat juga sebentar, bisa ke sini sama Flo."
Ujar Albar.
Balqis menatap birunya langit di atas sana.
Ah Perth, apakah dari sana juga yang ditatap mereka adalah langit yang sama dengan langit yang ada di atas Jakarta? Hihihi...
"Albar sudah sampai rumah?"
Tanya Balqis.
"Sudah sayang, baru saja."
"Hmm alhmdulillah."
Balqis tersenyum.
"Flo katanya di situ?"
Tanya Albar.
"Ooh iya, kata anak-anak sih Kak Flo istirahat di kamar Albar, belum ketemu sih kalo Aqis mah, soalnya tadi Aqis lagi tidur pas Kak Flo ke sini."
__ADS_1
Kata Balqis.
"Ooh ya udah biarin, dia terlalu sibuk ngurusin cafe nya sampe sering lupa istirahat dan nyari pasangan."
Ujar Albar.
"Kak Flo orangnya baik, dia juga supel, nanti juga akan ada saatnya ketemu jodoh."
"Sudah lama dia memutuskan jadi jomblowati, sejak pacaran dengan laki-laki brengsek, dia jadi kayak trauma. Kamu sama Flo kan udah kayak adik kakak, kapan-kapan ajak dia ngobrol soal cowok Bal, jangan sampai dia tenggelam dalam aksi mogok hidup tanpa pasangan."
Kata Albar.
"Iya, nanti Aqis akan jadi teman curhat Kak Flo yang baik. Kan Kak Flo juga selama ini sudah baik banget sama Aqis."
"Dia anggap kamu adiknya sendiri, dia punya beberapa saudara kandung, tapi ngga ada satupun yang deket, dia malah lebih deket sama aku daripada sama kakak-kakaknya."
"Kenapa?".
"Ya pilihan hidup yang berbeda saja, keluarga menganggap Flo hidupnya terlalu berantakan, tak suka sekolah, dia lebih suka hidup bebas, kesannya jadi urakan, padahal aku tahu dia nggak gitu, ah dia kadang memang minum dan dia juga perokok berat, tapi dia enggak konsumsi narkoba, atau hubungan bebas ganti-ganti pasangan. Aku tahu betul Flo selama ini."
Albar panjang lebar.
"Kak Flo minum alkohol? Astaghfirullah."
Balqis mengelus dada, kaget dia mendengarnya. Tak disangka tak diduga
Balqis tahu kalau Flo merokok, tapi untuk minum ini kali pertama Albar cerita dan Balqis jadi tahu.
"Ya dia minum, cukup sering, aku sudah kasih tahu itu akan bahaya buat dia sebagai perempuan, tapi kayaknya dia udah mulai candu. Kapan-kapan bicaralah dari hati ke hati, agar Flo bisa berubah juga kayak aku Bal, setelah kenal kamu, rasanya hidupku jadi lebih positif."
Balqis tertawa kecil.
"Eh aku serius Bal, aku beneran jadi merasa lebih baik sebagai manusia begitu kenal kamu."
"Albar, kata orang, sebetulnya tak ada laki-laki yang bisa dirubah kecuali atas kemauannya sendiri, jadi mau seperti apapun Aqis ingin merubah Albar jadi baik, kalau Albar ngga ingin juga ngga akan bisa. Kalau Albar saat ini merasa hidupnya bisa lebih baik, itu adalah karena kemauan dan tekat Albar sendiri."
Ujar Balqis.
"Aku sayang banget sama kamu Bal."
Balqis wajahnya pun seketika menjadi merona merah mendengar pernyataan itu.
"Iya Albar, begitu juga dengan Aqis."
Jawab Balqis lembut.
**-------------**
Flo di kamar Albar tampak membuka matanya, ia akhirnya terbangun setelah cukup lama tertidur pulas.
Mungkin ini adalah kali pertama Flo bisa benar-benar tidur total setelah sekian lama.
Flo bangun dari posisi berbaringnya, lalu turun dari tempat tidur Albar dan menuju kamar mandi.
Lepas tidur ia kini ingin mandi, lalu ia akan turun untuk makan, baru setelah itu mungkin ia akan kembali ke cafe.
Flo baru akan masuk kamar mandi, saat hp nya seperti ada panggilan masuk.
Flo akhirnya berbalik ke tempat tidur, diraihnya hp nya yang ia letakkan di atas meja kecil dekat tempat tidur.
"Ya Lis."
Flo menjawab panggilan dari Lisa salah satu staf di cafenya, yang merupakan orang kepercayaannya.
"Nona Flo, ada yang mencari Nona."
Kata Lisa di kejauhan.
"Siapa?"
"Laki-laki."
"Siapa?"
__ADS_1
"Sepertinya yang tempo hari sempat bicara dengan Nona di sini, saya belum tanya namanya."
"Yang bicara sama saya kan banyak Lisa, haduuuh."
Flo tepuk jidat.
Lha dia pikir Flo kucing apa, yang cuma diajak bicara sama Babunya.
"Yang malam-malam, yang cafe sudah mau tutup."
Kata Lisa lagi.
Otak Flo berputar, mencoba mengingat, dan...
Ah... si bapak kucing kah?
"Dia menunggu di lantai dua Non, katanya penting sekali, dia harus bertemu Nona Flo."
"Penting?"
Gumam Flo.
Soal apa?
Bukankah dompetnya dan isinya semua Flo kembalikan utuh?
Flo jadi bingung.
Flo akhirnya menutup telfonnya dengan Lisa, lalu menyambar jaketnya dan segera memakai sepatu.
Tampak gadis itu bergegas keluar dari kamar, dan di luar ia berpapasan dengan Balqis.
"Kak Flo, sudah bangun?"
Sapa Balqis yang juga baru menyudahi obrolannya dengan Albar memakai hp Pardi, dan kini Balqis akan turun kembali untuk mengembalikan hp milik Pardi.
"Sori aku pakai kamar Albar."
Kata Flo sambil merangkul bahu Balqis.
"Kenapa harus minta maaf sih Kak, kan Kakak sekarang tuan rumah nya karena Albar nggak ada."
Flo dan Balqis menuruni tangga bersama.
"Tuan rumahnya sekarang ya kamu dong Qis, calon nyonya rumah ini."
Flo menepuk bahu Balqis.
"Kak Flo harus ke cafe nih Qis, ada tamu."
"Lho, kirain Kak Flo mau makan siang dulu."
Flo tersenyum,
"Tadi sarapan udah banyak, gampang lain kali Kakak mampir lagi."
Kata Flo.
"Bang Pardi, anter aku ke cafe Bang."
Pinta Flo saat sampai di ruang TV.
"Siap."
Pardi segera berdiri, Balqis mengulurkan hp Bang Pardi untuk dikembalikan pada si empunya.
"Makasih Bang."
Kata Balqis.
"Iya Non, sama-sama."
**------------**
__ADS_1