
Balqis menyuguhkan secangkir teh untuk Beni yang kini mengompres mukanya yang sempat kena pukul gagang sapu oleh Balqis.
Ia duduk di sofa depan TV sambil sesekali meringis sakit.
Balqis antara kasihan dan juga ingin tertawa melihat Beni yang baru saja jadi korban amukannya.
"Lagian Abang ini ngapain lewat atas dan mengendap-endap seperti maling."
Kata Balqis yang duduk di sofa yang berbeda.
"Lha gerbang digembok, susah kan manjat pagar itu."
Kata Beni.
"Kalau lewat atas, belakang rumah ada pohon, aku bisa naik lewat sana."
Lanjut Beni lagi.
"Kamu mendingan kalo mau gembok depan, itu pintu yang mau buat jemur cucian juga di kunci, orang yang tahu bisa lewat sana. Jangan sampe nanti malam-malam ada yang ketok pintu kamar pakai topeng bawa pisau."
Kata Beni pula.
Haiiish... Balqis mendesis.
"Seremlah."
Balqis menggelengkan kepalanya.
"Jadi kamu tinggal berapa orang?"
Tanya Beni akhirnya.
"Empat Bang, mereka lagi pada beli sepatu dan baju ke mall, sekalian pengin lihat mall di Jakarta."
Kata Balqis.
"Mall di Jakarta banyak, sama ajalah kayak pasar, beda penataan doang aslinya."
Ujar Beni.
"Hehe namanya juga pasar modern."
Balqis tertawa.
Beni melirik Balqis dari sudut matanya.
Cantik.
Siapa tadi namanya?
Balqis.
Ah yah, ratu Balqis, sayang namanya Beni bukan Sulaiman. Batin Beni.
"Kuliah di mana Qis?"
Tanya Beni.
"Di UI Bang."
Beni mendengar nama UI jelas langsung mengacungkan jarinya.
"Keren masuk S1 langsung bisa di universitas top, pasti nilaimu bagus-bagus saat sekolah."
Balqis tersenyum.
"Alhamdulillah, semua karena Allah yang bikin kita mampu, manusia cuma sedikit berusaha saja."
Jawab Balqis bijak, membuat hati Beni tergetar.
Luar biasa, gadis seusia Balqis sudah begitu agamis, orangtuanya pasti mendidiknya dengan sangat baik.
"Teman-temannya juga masuk UI semua?"
Tanya Beni.
Balqis tampak menggeleng.
"Tidak Bang, hanya satu yang sama seperti Balqis masuk UI, yang dua mereka masuk swasta."
"Hmm... Ngga apa, intinya mah nyari ilmu."
Kata Beni.
__ADS_1
Balqis mengangguk.
"Iya Bang, kewajiban manusia cuma nyari ilmu, trus ilmu itu bisa bermanfaat buat sendiri dan juga buat orang lain."
Dan Beni mengacungkan ibu jarinya lagi.
"Cakeep Balqis, kayak kamunya."
Beni menggombal, membuat Balqis jadi tersenyum canggung.
**-------------**
"Wah kita kehilangan jejak Non."
Pak supir taksi ke arah Flo.
"Ke rumahnya saja Pak, ini ada alamatnya di KTP, dia pasti bakal repot kalau tahu dompetnya ilang, semua ada di sini."
Ujar Flo.
Pak supir membaca alamat yang tertera di KTP.
"Oalah ini sih dekat dengan kontrakan saya, ke sana langsung saja Non?"
"Iya Pak."
Flo mengangguk.
"Tadi katanya anaknya sakit, ini uangnya saja di dompet, kalau ke dokter bagaimana dia?"
Gumam Flo.
Taksi meluncur cepat menuju alamat yang dituju, karena alamatnya dekat dengan kontrakan Pak supir, jelas saja Pak supir tak perlu lagi tanya-tanya jalan.
Sekitar lima belas menit, dengan ada acara macet sebentar, akhirnya mereka masuk samping kantor Imigrasi Jakarta Selatan.
Mereka terus masuk hingga dekat turunan baru Pak Supir menghentikan taksinya.
"Saya tanya dulu Non, yang tahu rumah Pak Indra ini."
Kata Pak supir taksi.
Flo pun setuju saja.
Ibu-ibu itu tampaknya mengenal baik pak supir, itu bisa dilihat dari keakraban mereka berbicara.
Flo asik memandangi sekitar sana, saat hp nya berdering menandakan ada panggilan masuk.
"Yah Bar."
Flo langsung mengangkat panggilan yang masuk karena tahu dari Albar.
"Lama amat, tadi katanya udah mau OTW, ada apa?"
Terdengar suara Albar sedikit khawatir.
"Ini tadi ada kecelakaan kecil, orang nyalip pake motor tapi dianya nyenggol taksi yang aku tumpangi, dompetnya jatuh jadi kita cari dulu dianya, kasihan nih ada KTP dan SIM juga."
Kata Flo.
"Oh, ya udah, lanjutin lah, tadinya aku pengin ngajak ke mall sebentar."
Ujar Albar.
"Ngapain ke mall, tumben."
Flo tergelak.
"Ya pengin jalan aja, sekalian pengin tahu masih pada kenal aku apa enggak."
Kata Albar.
"Masihlah, beberapa artis yang makan di tempatku juga masih suka nanyain."
Ujar Flo.
"Ah basa basi itu."
Sahut Albar.
"Enggak, emang masih banyak yang kenal, aku denger Albar Fans Club juga belum membubarkan diri, kamu kurang update."
Kata Flo.
__ADS_1
Mendengar nya Albar hanya tertawa.
Benarkah? Albar malah tidak tahu. Setahun lebih ini ternyata ia benar-benar bersembunyi dengan baik.
"Eh, entar sambung lagi Bar, nih Pak supirnya udah selesai nanya alamat."
Kata Flo begitu melihat pak supir berjalan ke arah taksi lagi dan mengetuk kaca di samping Flo.
Flo yang mematikan hp nya kemudian turun dari taksi.
"Gimana Pak?"
"Itu masuk gang Non, biar saya saja yang ke sana Non."
Kata Pak Supir.
"Eh udah saya ikut sekalian Pak, tadi kayaknya dia luka, saya mau kasih sedikitlah buat berobat."
Ujar Flo.
Pak Supir akhirnya mengangguk, lalu mempersilahkan Flo untuk mengikutinya masuk gang.
Melewati delapan rumah kontrakan, mereka berbelok ke kiri dan kemudian melewati lima rumah lagi, ada belokan ke kiri lagi, melewati tiga petak kamar kos baru akhirnya sampai.
Seorang laki-laki tampak duduk sambil merokok di depan kamar kos yang ada di deretan rumah kecil dengan pagar besi yang mulai berkarat.
"Bang Indra nya ada nggak ya Bang?"
Tanya Pak supir taksi.
"Indra? Tadi mah pulang itu katanya habis kecelakaan."
Kata laki-laki itu menunjuk rumah kecil dengan pagar besi berkarat.
"Oh ya terimakasih Bang."
Pak supir kemudian melanjutkan langkahnya menuju rumah kecil berpagar besi itu, Flo mengikuti dari belakang.
Tampak motor pemuda bernama Indra tadi benar memang ada di depan rumah, Pak supir masuk ke halaman yang hanya dua meteran saja lebarnya, lalu berjalan ke arah pintu rumah.
Pak supir mengetuk pintu rumah pemuda bernama Indra itu, sekitar dua kali mengetuk, baru kemudian terlihat bayangan di dalam rumah dari kaca jendela mendekati pintu.
"Pagi Bu."
Pak Supir taksi membungkuk memberi salam.
"Pagi."
Perempuan paruh baya itu mengangguk dan tersenyum ramah pada pak supir taksi dan juga pada Flo yang langkahnya tertahan di halaman rumah.
"Cari siapa ya?"
Tanya perempuan paruh baya tersebut.
"Maaf Bu, kami mencari Pak Indra, apa beliau ada?"
Tanya Pak supir.
"Ooh Indra, iya ada, silahkan masuk, tadi katanya pulang lembur kecelakaan di jalan, kakinya lecet itu barusan Ibu obati."
Kata si Ibu sambil mempersilahkan dua tamunya duduk di ruang tamu rumahnya yang kecil dan sempit namun bersih dan rapi.
"Dia kalau dikabari salah satu anaknya sakit ya begitu itu, suka tidak sabaran naik motornya."
Kata si Ibu lagi sambil kemudian masuk ke ruang dalam dan memanggil nama Indra.
Hah, salah satu anak? Jadi dia Ayah lebih dari satu anak? Semuda itu? Ah apa jangan-jangan Ibu itu isterinya? Flo jadi kepo.
Tak lama berselang, si Ibu muncul lagi dengan dua cangkir teh.
"Duh kok repot-repot sih Bu..."
Flo jadi tidak enak.
"Ah cuma air teh, itu Indra nya sebentar lagi selesai ngobatin anaknya. Biasalah, kalau lagi musim begini kan kucing suka pada sakit, apalagi yang masih anakan."
Kata si Ibu.
Flo yang mendengar si ibu mengatakan kucing jadi hampir tersedak.
Sialan, kirain dia duda apa menikah dengan janda tua. Batin Flo.
**----------**
__ADS_1