
"Flo..."
Mami Albar memanggil Flo yang setelah makan malam langsung ngeloyor ke kamar karena ingin tidur lebih awal.
Aduh, apa nih, ada aroma kurang enak. Batin Flo.
"Ada apa Dhe?"
Flo menghadap Mami Albar.
"Kemari."
Mami Albar menarik Flo menuju kamar Mami Albar yang seluas cakrawala.
"Duduk Flo."
Kata Mami Albar pada Flo.
Flo kemudian duduk di salah satu sofa di kamar Mami Albar.
Rasanya sudah mengantuk dan lelah sekali sebetulnya, tapi mana bisa Flo protes dan ngeloyor. Pasti nanti Mami Albar akan langsung telfon ke Mami Flo di Netherlands untuk mengeluhkan kelakuan Flo yang dianggap tidak menghormati Mami Albar sebagai orangtua juga.
Flo menghela nafas melihat Mami Albar tampak membawa laptopnya dan kemudian meletakkannya di atas meja depan Flo.
"Ada apa sih Dhe?"
Tanya Flo.
Mami Albar duduk di sebelah Flo.
"Diam dulu, nanti Tante akan tunjukkan sesuatu."
Kata Mami Albar.
Mami Albar membuka komputer lipatnya itu, lalu menyalakannya, dan kemudian masuk ke satu folder.
Flo memicingkan mata.
Klik...
Mami Albar mengklik file yang ada di folder tersebut.
Dan...
"Namanya Angelina Lee, dia masih ada keturunan Korea, Maminya orang Indo, sekarang dia sedang sekolah manajemen Australia, Maminya teman baik Bu Dhe dan Mami kamu."
Kata Mami Albar.
Flo mengerutkan kening.
Maksudnya apa sih? Batin Flo.
"Namanya Matsumoto Michiko, dia putri salah satu pengusaha perhiasan mewah yang masih keturunan Jepang dan saat ini tinggal di Amerika. Beberapa kali Bu Dhe memesan perhiasan di tempat Orangtuanya dan sangat puas. Michiko saat ini sekolah desain perhiasan di Amerika juga."
Ujar Mami Albar lagi.
Flo mengurut kening.
"Yang ini namanya Emma Stone Crusher, dia anak politikus di Australia, dia sangat cerdas, calon dokter spesialis bedah, kau tahu betapa kerennya itu Flo."
Mami Albar begitu antusias.
Flo garuk kepala.
"Nah kalau si cantik ini namanya Amanda Cruise, dia anak seorang advokat kondang di Australia juga, perusahaan Bu Dhe menggaetnya untuk semua urusan hukum, ah dia juga calon seorang advokat seperti Ayahnya."
Lanjut Mami Albar menggebu-gebu.
__ADS_1
Mami Albar akan mengklik file lainnya, saat kemudian Flo menahan tangan Bu Dhe itu.
"Tunggu Bu Dhe, Flo masih bingung, maksud By Dhe nunjukkin semua foto cewek-cewek ini apa sih?"
Tanya Flo akhirnya karena tak tahan melihat masih ada sekitar dua puluh file lagi yang kemungkinan itu adalah sama berisi semua foto cewek yang akan ditunjukkan Mami Albar padanya.
Mami Albar menghela nafas.
"Aduh kamu ini, ya jelas ini Bu Dhe ingin kamu kasih pendapatlah Flo, mana yang paling cocok untuk Albar."
Kata Mami Albar.
Flo terdiam sejenak, lalu menatap Bu Dhenya.
"Maksudnya Bu Dhe mau jodohin Albar dengan mereka?"
Tanya Flo.
"Betul."
Mami Albar menjentikkan dua jarinya.
Flo geleng-geleng kepala.
"Dhe, kayak hidup di jaman purba saja ada jodoh-jodohan begitu, apa banget."
Kata Flo.
"Eeeeeh, kamu ini, jangan salah, Mami kamu juga sudah siapin cowok yang tepat untuk dampingin kamu nantinya."
Ujar Mami Albar.
Flo menggelengkan kepala.
"Aduh enggak deh Bu Dhe, buat Flo hidup cuma sekali, ngga ada hidup diatur orang lain meskipun orangtua."
Kata Flo.
Mami Albar menabok lengan Flo.
Tanya Mami Albar.
Flo tertawa.
"Ngga masalah kalau Flo mah, mau dicoret, mau ditendang, Flo yakin Albar juga akan sama Dhe."
Flo berdiri dari duduknya.
"Lagian Bu Dhe ini kayaknya jadi aneh begitu dengar soal Balqis, kenapa sih Dhe? Ada yang salah sama Balqis? Padahal Albar deket sama Balqis malah jadi baik, jadi sholeh, jadi nurut, Bu Dhe harusnya terimakasih sama Balqis, bukan malah nyoba nyariin cewek lain buat Albar."
Flo panjang lebar.
Mami Albar menatap Flo yang berdiri dari duduknya dan seolah bersiap pergi.
"Maaf Dhe, Flo ngga mau ikutan, apalagi Flo tahu Albar udah sayang sama Balqis, enggaklah kalau Flo diminta merusak hubungan mereka yang udah baik."
Flo kemudian membungkuk pada Mami Albar dan undur diri dari kamar Bu Dhenya itu.
Mami Albar masih bingung tak tahu harus berkata apa, bahkan saat Flo keluar dari kamar dan menutup pintu kamar itupun Mami Albar masih diam.
Ah ada-ada saja, bahkan Siti Nurbaya saja sekarang sudah kalah pamor sama Siti Nurhaliza, masih saja mau acara jodoh-jodohan. Flo geleng kepala.
**---------**
Albar di kamarnya tampak sedang menyetel kunci gitarnya.
Permintaan khusus dari keluarga besar pemilik Alpha Centauri untuk Albar mengiring jamuan makan malam besok malam membuat Albar merasa harus mempersiapkan beberapa lagu yang akan ia nyanyikan.
Setelah sudah cukup lama ia tak manggung karena mengungsi di rumah Aki, membuat Albar khawatir nanti penampilannya tak maksimal.
Albar masih mencoba memetik gitarnya ketika tiba-tiba dari pintu kamarnya terlihat Flo masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Flo menuju kulkas di sudut ruangan, lalu memilih minuman ringan untuk kemudian meneguknya sambil berjalan ke sofa kamar Albar.
"Tadi katanya ngantuk."
__ADS_1
Kata Albar.
"Iya tadi, sekarang pengennya melek sampe tahun depan."
Sahut Flo lalu meneguk minuman ringannya lagi.
"Eh Flo lagu buat besok malam apaan cocoknya?"
Tanya Albar.
"Lha katanya nanti sesuai request aja, udahlah siapin suara aja kamu, lagian sampe hari gini belum jelas suruh bawain lagu apa, mungkin besok dadakan."
Kata Flo.
"Lha gimana? Kalo nanti lagunya aku ngga tahu malu lah."
Ujar Albar.
"Ya udah sih biarin, bilang aja kamu memang artis yang enggak sempurna."
Sahut Flo santai saja.
"Sialan."
Albar ingin menimpuk Flo sayangnya yang ada di dekatnya hanya gitar nya saja.
Flo kemudian meletakkan kaleng minuman ringannya di atas meja, sebelum kemudian ia merebahkan diri di sofa.
Ia mengerjap sebentar, ditatapnya langit-langit kamar Albar.
"Bar."
Panggil Flo.
"Apaan."
Albar memetik gitarnya pelahan, lalu menyanyikan lagu lama beautiful girl milik Jose Mari Can.
"Kalau suatu hari kamu akan menikah, gadis seperti apa yang akan kamu nikahi?"
Tanya Flo masih tetap dengan menatap langit-langit.
"Balqis."
Jawab Albar cepat.
Tanpa ragu. Tanpa mikir dulu. Tanpa harus menunggu sedetik saja.
"Kalau Mami tidak merestui?"
Tanya Flo lagi, masih dalam posisi yang sama.
"Alasannya apa tidak merestui?"
Sahut Albar masih tetap sambil memetik gitar, ia merasa pertanyaan Flo hanya iseng saja.
"Ya seandainya."
Kata Flo.
Albar menghela nafas.
Dihentikannya sejenak aktifitas jarinya di atas senar gitarnya.
"Kalau mami tidak setuju dan alasannya hanya masalah status sosial, aku sebagai cowok tidak butuh restunya. Aku bisa nentuin pilihanku sendiri, dan aku cukup mampu biayain pernikahanku."
Kata Albar.
"Meski dicoret jadi ahli waris?"
Flo kali ini menoleh pada Albar.
"Ah persetan dengan warisan."
Ujar Albar.
__ADS_1
**---------**