Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
76. Terbukanya Tabir


__ADS_3

Flo memperlihatkan hp nya di mana terlihat Mami Albar menghubungi Flo karena panggilannya pada Albar diabaikan.


Albar menyandarkan tubuhnya.


"Biar saja."


Kata Albar.


"Sore ini Mami kamu balik ke Perth, kamu tak akan menemuinya lebih dulu?"


Tanya Flo.


"Mami pulang hanya untuk Alpha Centauri, bukan buat anaknya, biar sajalah."


Kata Albar lagi mengibaskan tangannya.


Flo menghela nafas.


Sepertinya Albar kesal sejak tahu Flo sampai diminta mencari tahu nomor anak Tuan Takashi karena ingin Maminya jodohkan dengan Albar.


Setelah tak berhasil memaksa Albar masuk manajemen, apa Mami sekarang akan memaksa Albar harus menikah dengan siapa nantinya? Sangat menyebalkan untuk Albar.


Mobil masih meluncur dibawa Pardi menuju alamat yang diberitahu Flo di mana Kancil menunggu mereka.


Yah, setelah jumpa pers berakhir, Albar memang langsung mengajak Flo ke tempat Nurdin yang ia minta carikan lewat Kancil.


Hingga tak selang berapa lama, terlihat sebuah bangunan semacam ruko tua, tampak seorang laki-laki berjaket hitam mengenakan topi hitam dan kacamata menatap kedatangan mobil yang ditumpangi Flo dan Albar.


Pemuda itu berdiri di depan ruko tua yang seperti sudah lama tak ditempati.


Mobil berhenti sejenak, pemuda itu terlihat melangkah cepat menuju mobil setelah memastikan tak ada yang mencurigakan di sekitar mereka.


Pardi membuka kaca mobil, pemuda itu memberikan satu amplop coklat yang ia keluarkan dari balik jaketnya.


Amplop itu diterima Pardi lalu diulurkan pada Albar dan Flo di belakangnya.


"Langsung saja ke alamat Nurdin, semuanya sudah aku beri tanda."


Kata pemuda yang berjulukan Kancil itu.


Flo mengangguk.


Kaca mobil tertutup lagi.


Pemuda itu berlari menjauh, Pardi kembali menyalakan mesin mobilnya.


Albar yang tak sabar ingin melihat apa isi amplop tersebut langsung menyobek amplop yang diberikan kancil itu.


Terlihat berkas-berkas lama yang mirip dengan yang Albar lihat di rumah Aki.


"Apa ini?"


Flo mengerutkan kening.


"Balqis."


Kata Albar sambil memeriksa dokumen yang ia keluarkan dari amplop tersebut.


Flo menatap Albar.


"Balqis? Maksudmu apa?"


Flo bingung.


Albar menghela nafasnya, lalu mengalihkan matanya sejenak ke arah Flo.


"Balqis bukan anak Mang Kus, dia diadopsi Mang Kus saat usianya belum genap satu tahun."

__ADS_1


Kata Albar.


Flo tercekat.


"Ba... Bagaimana bisa? Kamu bercanda??"


Tanya Flo.


"Kamu lihat aku sedang bercanda sekarang?"


Tanya Albar.


Flo melihat sepupunya sangat serius, ia tahu itu, tapi buatnya langsung mempercayai apa yang baru saja ia dengar sungguh terlalu sulit.


"Nurdin, dia orangtua Balqis yang asli, dia korban kecelakaan bersama isterinya sekitar tujuh belas tahun lalu, keduanya meninggal, Balqis yang di rumah selamat lalu diadopsi oleh Mang Kus."


Kata Albar seraya memperlihatkan dokumen yang sama persis dengan yang sudah ia lihat di rumah Aki.


"Mang Kus menabrak mereka?"


Tanya Flo.


Albar menggeleng.


"Bukan Mang Kus, tapi Papi."


Kata Albar lemas.


"Hah? Kau gila!"


Flo membelalakan matanya.


Albar menunjukkan hp nya, di galeri ia menyimpan foto surat bertandatangan Papinya soal semua biaya adopsi dan lain-lain.


"Mami bilang Papi kecelakaan dengan temannya, tapi aku rasa Mami hanya pura-pura, aku yakin Papi yang mengemudi hari itu. Uang mengatasi segalanya."


Ah untung tinjunya tak meleset ke belakang kepala Pardi.


Flo terdiam.


"Aku akan pastikan semuanya benar, jika iya, berarti sudah jelas aku tak akan membiarkan Balqis terluka sedikitpun, meskipun itu oleh Mami. Akan aku tebus kesalahan Papi yang menghancurkan kehidupan orangtua Balqis."


Kata Albar.


**--------------**


Rumah Pak Nurdin terlihat masih bangunan lama khas betawi. Macam bangunan milik keluarga Si Doel, bangunan rumah pak Nurdin begitu tenang dilihat dari luar.


Albar turun dari mobil dan memasuki pelataran rumah tersebut, diikuti oleh Flo, mereka menuju pintu utama rumah dan mengucap salam.


Tak menunggu lama, seorang laki-laki muda berusia sekitar tiga puluh delapan tahunan muncul, semula ia bingung melihat Albar dan Flo, namun saat mengamati dengan seksama lagi, ekspresinya langsung berubah karena sadar jika yang ada di hadapannya adalah Albar Harrys.


Laki-laki muda itu yang semula akan masuk ke dalam memanggil keluarganya dipegangi Flo dulu dan diajak bicara.


"Saya harap anda jangan bicara soal Albar dulu, kami datang untuk menanyakan beberapa hal, bukan sedang syuting reality show."


Kata Flo.


"Ooh... ya... ya... Baiklah, ada apa Nona?"


Tanya laki-laki itu pada Flo tapi sibuk mempersilahkan Albar duduk di ruang tamu yang ada di teras rumah.


Albar duduk di sana, begitu juga akhirnya Flo juga ikut duduk meskipun belum dipersilahkan.


Dan...


"Ooh, Bang Kancil, yang kemarin dua kali datang kemari?"

__ADS_1


Tanya Laki-laki itu setelah mereka berbincang lima menit di mana Flo menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang.


Flo dan Albar mengangguk bersamaan.


"Semua berkas yang masih tersimpan sudah kami berikan pada bang kancil, apakah itu belum cukup?"


Tanya laki-laki muda itu.


Albar kemudian menunjukkan hp nya, di mana kini ia memperlihatkan foto sang Papi.


"Apa Abang pernah melihat orang ini?"


Tanya Albar.


Laki-laki itu jelas saja menggeleng, ia baru pindah beberapa tahun lalu, kalau toh berkas itu bisa ia berikan karena Uwaknya yang menyimpan.


"Kalau Uwak saya mungkin dia tahu, soalnya berkas yang kemarin diberikan pada bang Kancil juga Uwak yang simpan."


"Bisa kami diantar ke rumah Uwak nya?"


Tanya Albar.


"Akan saya bayar berapapun."


Kata Albar pula.


Ia sungguh sudah tak sabar lagi.


Laki-laki itu berdiri dari duduknya.


"Mari saya antar, rumah Uwak dekat pemakaman, jika mau saya akan antar sekalian ke makam Wak Nurdin dan isterinya."


Ujar laki-laki itu.


Albar mengangguk setuju seperti tanpa berpikir lagi.


"Tidak usah memberi saya uang Tuan, saya akan antar dengan suka rela."


Kata laki-laki itu pula sambil kemudian mengajak mereka berjalan.


"Apa tak perlu pakai kendaraan?"


Tanya Flo.


Laki-laki itu menggeleng.


"Tidak usah Non, dekat kok, jalan paling tujuh menit, kita lewat gang depan itu dekat mushola."


Ujar laki-laki itu.


Flo mengangguk.


Albar tampak memakai maskernya, agar tak sampai banyak orang mengenali.


Keduanya mengikuti laki-laki itu yang berjalan di depan mereka.


Di jalan mereka sempat berpapasan dengan orang yang sempat menatap Albar, untungnya Albar tadi sigap memakai masker hingga tak mudah dikenali.


Dan benar sekitar delapan menit berjalan, mereka akhirnya sampai di depan rumah kecil yang hanya selang dua rumah dari area pemakaman.


Laki-laki itu mendekati pintu dan mengetuk pintunya.


"Assalamualaikum..."


Laki-laki itu mengucap salam yang kemudian dijawab dari dalam seiring dengan langkah kaki yang mendekat.


"Waalaikumsalam..."

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2