Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
39. Si Polos


__ADS_3

Albar duduk di teras depan rumah Aki. Duduk di lantai yang belum dikeramik.


Matanya mengawasi jalanan, terutama ujung jalan, berharap Balqis segera tampak batang hidungnya.


Haiissh... Kemana anak itu sebetulnya? Katanya otw pulang. Albar tak sabaran.


Kebiasaan anak orang tajir, tak bisa menunggu meski hanya sebentar.


Hingga selang beberapa menit setelah acara 'pecucuan' Albar yang sudah mirip Beo kebanyakan pepaya, akhirnya tampaklah Balqis mengayuh sepedanya mendekat ke arah rumah Aki.


Albar langsung berdiri menyambut.


Balqis menghentikkan sepedanya tepat di depan Albar, lalu turun dari sepedanya.


Albar mengulurkan tangannya, mengira Balqis akan bersalaman lalu mencium tangannya macam dengan suami saja.


Tapi...


Tentu saja Balqis hanya menaboknya.


"Ish, calon isteri cap apa lihat tangan calon suami malah ditabok."


Protes Albar.


"Calon calon... Belum juga diiyain."


Kesal Balqis.


Heran memang, saat jauh rasanya galau tingkat dewa, tapi begitu sudah tatap muka maunya ribut saja.


Balqis masuk ke dalam rumah.


"Eh Bal, sepedanya ngga dibawa masuk?"


Tanya Albar.


Balqis menoleh sejenak.


"Kan ada calon suami, masukin lah."


Kata Balqis sambil senyum manis.


Haiiish... Albar mendesis.


Dasar! Memanfaatkan posisiku yang lemah. Batin Albar.


Balqis tampak melepas tas selempangnya, lalu berjalan menuju ruang dalam.


Aki sepertinya belum pulang.


"Aki belum pulang yah Bar?"


Tanya Balqis.


Albar yang sedang sibuk memasukkan sepeda Balqis ke dalam rumah tidak dengar Balqis tanya.


Balqis akhirnya keluar lagi, masuk dapur lalu kembali menuju ruangan yang menuju pintu samping.


"Jiaaaah... Masukin sepeda aja sampe muka jadi merah."


Balqis tergelak.


"Ah sialan kamu Bal, aku seumur-umur ngga pernah diperintah orang bawa beginian."


Balqis tertawa.


"Orang tinggal didorong aja."


"Didorong gimana, di depan aja lantainya naik turun."


Kesal Albar.


"Lain kali mending tek biarin aja di luar."

__ADS_1


"Ikh nanti ilang."


Kata Balqis.


"Ilang tinggal beli lagi, daripada aku ngap."


Kata Albar sambil berjalan melewati Balqis dan menyentil dahi Balqis sekilas.


Balqis mengusap dahinya yang kena sentil, lalu berjalan menyusul Albar.


"Aki ke mana?"


Tanya Balqis.


"Kayaknya masih sibuk ngurusin ternaknya, kan ada kerjasama dengan apa itu dulu yang lewat kelompok ternaknya."


Kata Albar.


"Aaah iya."


Balqis mantuk-mantuk.


"Iya iya, kayak tahu aja."


Seloroh Albar.


"Ikh, iyalah tahu."


Balqis tak mau kalah.


"Udah kamu mah iyanya nikah sama aku aja abis lulusan."


Kata Albar kumat seenaknya, tak sadar tiap dia bicara begitu ada jantung orang lain yang hampir melompat keluar.


"Kamu dari pagi bahas nikah nikah mulu."


Kata Balqis akhirnya.


Albar menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Balqis hingga membuat Balqis nyaris menabraknya.


Balqis seketika mundur beberapa langkah.


Tampak sekali kini ia mulai gugup.


Sejatinya selama ini Balqis memang belum pernah ada cowok berani mengutarakan perasaannya secara langsung, kebanyakan yang suka pada Balqis akan mengutarakan perasaannya melalui Eti atau Po dan juga Dinda.


Balqis yang tergolong pendiam dan susah didekati membuat banyak cowok merasa malu jika harus mengatakannya langsung.


Takut Balqis tak menanggapi, atau bahkan langsung menolak tanpa basa basi.


Yah...


Bahkan, saat Balqis sangat berharap Bang Adit mengatakan perasaannya pada Balqis pun, nyatanya hingga sekarang tak sekalipun Bang Adit mengatakan pada Balqis.


Entah karena Bang Adit juga malu, atau justeru hanya karena menunggu waktu yang tepat.


Ah...


Waktu yang tepat...


Balqis mungkin terlalu mengada-ada dan berhalu ria.


Dan sekarang...


Albar...


Cowok yang entah datang dari planet mana dan baru saja Balqis kenal, tiba-tiba saja dengan percaya diri bukan hanya mengatakan dia menyukai Balqis, tapi mengajak Balqis nikah.


"Jangan main-main kalo ngomongin nikah Bar, ngga boleh."


Kata Balqis akhirnya.


Albar menghela nafas.

__ADS_1


"Aku kan sudah bilang aku ngga main-main."


Ujar Albar.


"Oke mungkin tadi kelihatannya seperti main-main karena aku mengatakannya di dekat kamar mandi, jadi sekarang aku mengatakannya di sini."


Kata Albar akhirnya.


Balqis jadi tergugu sendiri melihat Albar.


"Kamu tuh, bukan masalah tempatnya, tapi waktunya Albar."


Balqis jadi ingin nabok Albar rasanya.


"Ya pokoknya aku pengin kamu percaya kalau aku ngga main-main Bal. Kalo yang kata kamu nanti misal aku pulang ke Jakarta akan lupain semuanya sementara kamu diolok-olok di sini, aku akan pastikan itu ngga akan terjadi."


Ujar Albar.


Balqis menatap Albar, tampak wajah Albar begitu serius.


Benarkah dia sedang tidak bercanda? Batin Balqis.


Albar balas menatap Balqis dengan tatapan menyelidik.


"Kamu bukan bermaksud nolak aku kan Bal? Kamu lagi mau jual mahal atau bagaimana sebetulnya?"


Tanya Albar tiba-tiba, yang benar-benar tanpa basa-basi dan sangat tidak romantis.


Balqis mengerucutkan bibirnya.


"Apaan sih?"


Kata Balqis.


Lalu bersiap ngeloyor pergi menuju kamarnya saat Albar menangkap lengan Balqis dan menariknya.


"Ikh lepasin, nanti ada yang lihat."


Balqis gugup luar biasa.


Albar tambah meledek dengan menariknya semakin dekat dengan tubuhnya, Balqis wajahnya langsung tampak memerah seperti tomat.


"Bar... Sadar Bar, sadar, istighfar."


Kata Balqis seperti Albar sedang kesurupan saja.


Wajahnya yang merah merona tampak begitu panik, bola matanya yang terus menatap Albar antara takut dan malu membuat Albar malah jadi tak tahan untuk tertawa.


Albar melepaskan tangannya dari lengan Balqis.


"Bal cupu."


Kata Albar sambil menjitak kepala Balqis lalu melompat ke arah tangga kayu menuju loteng kamarnya.


Balqis menatap Albar dengan kesal.


Tuh kan dia sengaja main-main doang, sudah jelas, fix, Albar tidak serius dengan kata-katanya.


Balqis rasanya kesal luar biasa.


Mana wajahnya sudah merah karena gugup, malu sekali rasanya, Albar pasti menganggap Balqis gadis polos lugu yang bisa dengan mudah buat main-main saja.


Hiks...


Menyedihkan.


Balqis masuk ke dalam kamar, begitu masuk kamar Balqis langsung melompat ke atas kasur.


Sadar Qis, kenapa kamu jadi baper begini. Batin Balqis seolah bicara pada dirinya sendiri.


Jangan lagi, jangan lagi mau buat becanda Albar Harrys. Jangan lagi! Kata Balqis mengingatkan dirinya.


**---------**

__ADS_1


__ADS_2