Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
59. Kejutan


__ADS_3

Sepeninggal Wa Icih yang akan ke pasar, Balqis masuk ke dalam rumah di mana Fajar di belakang rumah sedang sibuk menata beberapa box telur.


"Itu buat apa Bang Fajar?"


Tanya Balqis.


"Ini dikirim ke warung desa sebelah, biasanya nganter sama Aki, sekarang aku wakilin sekalian jalan ke pasar Qis."


Kata Fajar.


"Minggu depan Aqis mulai pesan daging ayam giling lagi Bang Fajar."


Kata Balqis.


Fajar mengangguk.


"Iya, bawa santai saja Qis."


Kata Fajar sambil membawa box telurnya keluar dari pintu samping.


"Itu biarin sisanya buat besok lagi Qis."


Kata Fajar.


Balqis mengikuti Bang Fajar hingga pintu, tepat saat Teh Inggit kembali ke rumah Aki.


"Mau ke pasar Bang?"


Tanya Teh Inggit.


"Iya, tapi mau mampir anter telur ke langganan Aki dulu, sayang kalau berhenti, kan bisa buat pemasukan Balqis."


Kata Fajar.


"Yuk ah, sudah siang nih."


Pamit Fajar lalu pergi menjauh.


"Kamu kalo masih capek bawa rehat aja Qis, Teteh tadi diminta Emak ngiris kobis buat bikin bakwan buat nanti malam."


"Aqis bantuin Teh."


"Udah kamu rehat saja, bentar lagi ada Anis sama Nurul kok, mereka lagi jalan ke sini."


Kata Inggit.


Balqis yang sebetulnya memang lelah dan mulai mengantuk karena semalam bangun awal dan belum tidur lagi sampai sekarang akhirnya menurut.


Balqis pergi ke kamarnya dan berniat akan tidur sebentar saja asal tidak lagi mengantuk.


Hingga saat Balqis masuk kamar, ia tak melihat kotak dari Albar lagi.


Ah iya, kotak itu. Batin Balqis.


Balqis segera duduk di kursi meja belajarnya menghadap kotak pemberian Albar, meraihnya pelahan lalu mulai membuka kertas pembungkusnya.


Balqis sejenak mengerutkan kening begitu bungkusan kertas sudah berhasil ia buka kini terlihat kotak perhiasan yang dilapisi kain beludru.


Dibukanya kotak itu hati-hati.

__ADS_1


Dan...



Balqis menatap kalung dengan liontin namanya.


Kalung emas cantik itu diraih Balqis, mata Balqis pun kembali berkaca-kaca, terlebih saat kemudian Balqis melihat secarik kertas kecil dengan tulisan ceker ayam.


Sudah jelas itu pasti tulisan Albar.


[Pakai ya, sebagai ganti cincin yang belum bisa aku sematkan karena kamu masih sekolah]


Balqis tiba-tiba meneteskan air mata.


Ia tak menyangka semua yang Albar katakan di dekat kamar mandi, di sumur dan pagi tadi di dapur adalah sungguh-sungguh dari hatinya.


Balqis sesenggukan, ia menyesal tak sempat mengiyakan secara langsung pernyataan Albar, padahal Albar mengulanginya hingga tiga kali.


Balqis membawa kalung itu dan kemudian berdiri di depan lemari pakaiannya menghadap cermin besar yang ada di pintunya.


Balqis memakai kalung itu, liontin berukirkan namanya kini terlihat cantik di lehernya yang putih dan jenjang.


Balqis memandang pantulan dirinya yang kini memakai kalung pemberian Albar itu.


"Baiklah, akan aku pakai sampai nanti aku lulus sekolah, lalu kuliah, wisuda tepat waktu dan jadi Guru sebagaimana cita-citaku."


Kata Balqis seolah Albar ada di sana.


Balqis kemudian tertunduk.


Ah...


Balqis entah kenapa tiba-tiba jadi ingat kata-kata Albar yang akan mencari orangtua kandung Balqis.


**----------**


"Bagilah Baaaar, dikit dikiiit nyiciiiip."


Flo menabok lengan Albar dengan kesal karena ia begitu ngiler dengan nasi oseng mercon buatan Balqis yang ia berikan sebagai bekal Albar ke Jakarta.



"Udah nanti aku ceritain aja rasanya, kamu nanti beli KFC saja, beli yang isi 8 potong juga ngga apa aku yang bayar."


Kata Albar.


"Haiish... Ngilernya lihat oseng mercon, malah disuruh makan yang lain."


Flo kesal.


"Lagian Balqis tega banget, ngasih bekal cuma satu, padahal udah tahu di mobil ada tiga orang."


Flo tepuk-tepuk jidat.


"Emang susah kalo sama orang polos tuh, kayak ada kurang peka-pekanya gitu."


Kata Flo lagi.


"Apa kamu bilang apa, kamu ngatain Balqis."

__ADS_1


Albar siap jitak kepala Flo.


Flo jadi tertawa.


"Iya... Iya... Ampun dah ni pasangan buset dah."


Flo minggir ke pintu saja.


Malas juga lihat Albar makan sendirian cuma bikin ngiler dan emosi jiwa.


"Nona Flo, mau mampir makan ngga?"


Tanya Pardi tiba-tiba.


"Ah iyalah harus, kita cari makanan yang mahal, biar Albar yang bayar."


Kata Flo.


"Iya... Iya... Sana beli gih, beli steak yang seporsi dua puluh juta juga aku bayarin sekarang."


Kata Albar yang kini mulai menikmati nasi oseng mercon buatan Balqis.


Flo menjitak kepala Albar.


"Dikira David Beckham apa makan steak dua puluh juta."


Albar tertawa.


"Ngga percaya, seriusan aku, sana kalau di Indonesia ada."


Kata Albar.


"Nanti aja ke Jepang, aku tagih pokoknya buat ganti kesel hari ini."


"Iya... Iya... Ngga masalah."


Kata Albar tanpa ragu sedikitpun.


Pardi kemudian menepikan mobilnya dan masuk restoran seafood.


Flo turun dari mobil, begitu juga dengan Pardi.


"Makan dululah yuk, biarin tuh Albar sendirian, kalo keselek ngga ada yang nolongin."


Ujar Flo sambil berjalan bersama Pardi masuk ke restoran Seafood yang dipilih Pardi.


Albar sendiri tak mau ambil pusing, ia tetap fokus menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya.


Meskipun oseng mercon terdengarnya akan pedas luar biasa, ternyata Balqis memasaknya sesuai selera Albar.


Ah Balqis tampaknya sudah begitu memahami Albar, bahkan tingkat kepedasan yang mampu Albar makan pun dia sepertinya tahu dan memperhatikannya dengan baik.


Albar akhirnya menghabiskan makanannya tanpa sisa.


Dengan bangga ia kemudian meraih hp nya dan mengambil gambar kotak makannya yang kini kosong bersih.


[Aku akan merindukan rasa masakan mu Bal, terimakasih bekal makannya enak luar biasa]


Albar mengirimkan pesan itu pada Balqis yang kemudian langsung diterima Balqis.

__ADS_1


Balqis tersenyum.


**----------**


__ADS_2