
"Ja... Jadi Dinda dan semuanya sekarang tinggal di rumah Albar?"
Tanya Bang Fajar yang akhirnya bisa berbicara via telfon dengan Dinda sang pujaan hati.
"Iya Bang Fajar, kami sekarang tinggal menemani Balqis di rumah Albar."
"Waaaah, saya jadi ingin ke sana, boleh kah?"
Tanya Bang Fajar.
Dinda terdiam sejenak. Berpikir. Bagaimana ya. Batinnya.
Lalu...
"Albar bilang sih siapa saja keluarga kami yang mau datang nggak apa-apa."
Kata Dinda akhirnya.
"Tapi..."
Dinda ragu lagi...
"Tapi apa Nda?"
Tanya Bang Fajar jadi kebat-kebit
"Tapi masalahnya Bang Fajar keluarga siapa?"
Deg!
Hati Bang Fajar seolah di ulek di atas cobek. Sakiiiiiit oh sakit.
Bagaimana bisa Dinda tega sekali mengatakannya. Sungguh terlhaluh kata Bang Haji Rhoma.
(Hancur hancur hancur hatiku, lagu Almarhum Olga terdengar, dengan ayam-ayam Aki di belakang Bang Fajar menari hula-hula)
"Ya sudah kalau begitu, salam saja untuk Albar, aku lama ingin bertemu dengannya."
Kata Bang Fajar lemas.
Suaranya seperti belum makan lima hari.
"Besok coba Nda tanyakan pada Albar saja, Bang Fajar ingin ke sini, kalau boleh ya silahkan."
Kata Dinda.
Tapi Bang Fajar nyatanya tak terlalu senang mendengar itu.
Kalimat pertama yang ia dengar dari Dinda sebelumnya sudah terlanjur menusuk hati Bang Fajar.
Ya, meskipun apa yang dikatakan Dinda nyatanya adalah benar jika Bang Fajar bukan termasuk saudara atau keluarga siapapun yang ada di sana, tapi kata-kata itu terasa seperti Dinda menganggap Bang Fajar adalah orang lain, orang yang bukan sedang dekat dengannya, orang yang apabila berjodoh akan menjadi suaminya.
Oh... Oh sungguh sangat malang rasanya Bang Fajar.
Sementara Dinda sedang bicara dengan Bang Fajar lewat telfon di kamarnya, Balqis dan Albar tak sengaja keluar dari dalam kamar secara bersamaan.
Posisi kamar mereka yang tepat bersebelahan membuat suasana di antara mereka jadi canggung.
"Ngg... A... Aku mau ke toilet "
Kata Albar gugup setengah mati.
Rasanya dadanya berdegup kencang jadinya melihat Balqis kini ada di rumahnya.
Balqis sendiri terlihat buru-buru masuk ke dalam kamar, ia menutup pintu lalu berdiri bersandar pada pintu seraya memegangi dadanya yang serasa jantungnya akan melompat.
Padahal ini bukan kali pertama mereka tinggal satu atap, tapi karena sudah lama sekali tidak bertemu dan sebetulnya sama-sama saling rindu luar biasa, maka tinggal satu atap lagi membuat mereka ekstra kerja keras menahan diri dari semua hal yang tidak boleh dilakukan.
Dan hal itu membuat keduanya sangat gugup dan jadi serba salah.
__ADS_1
Albar yang semula sebetulnya akan ke studio musiknya untuk mengambil gitar jadi tertawa sendiri mengingat ia menyebut akan ke toilet.
Kenapa toilet yang langsung melintas di kepalanya? Padahal sudah jelas toilet dan kamar mandi ada di dalam kamar.
Albar mengetok kepalanya.
Gara-gara sibuk memikirkan rencana besok, Albar memang jadi kesulitan tidur, ia ingin main gitar sebentar agar bisa lebih tenang dan fokusnya terpecah.
Tapi...
Haiish, otaknya sebagai laki-laki semakin kacau balau gara-gara keluar kamar malah bersamaan dengan Balqis.
Albar pun turun ke lantai satu sambil mencari Pardi akhirnya.
Pardi sedang merokok di depan rumah bersama penjaga rumah sambil menikmati langit malam yang cerah.
"Bang Pardi."
Panggil Albar.
"Eh ya Den."
Pardi segera berdiri dan membungkuk begitu Albar keluar dari rumah dan menghampirinya.
"Ke warkop depan yuk Bang, nyari angin sekalian."
Ajak Albar.
"Oh... Iya Tuan, baik, siap."
Kata Bang Pardi yang langsung bergegas menuju mobil.
"Eh Bang, jangan pakai mobil, pakai motor saja itu."
Ujar Albar lagi.
Ia ingin otaknya bisa kena angin.
Sebagaimana Albar yang galau gelisah tak jelas, Flo juga begitu, ia duduk sendirian di lantai dua cafe di tempat yang terbuka.
Ia menatap langit sambil merokok dan ditemani satu mug kopi.
Ada yang mengganggu pikirannya saat ini, dan membuat hatinya bertanya-tanya kenapa rasanya begitu berbeda dari biasanya.
Flashback dua jam yang lalu,
Flo tercekat melihat Indra, si pemuda yang menabrak taksinya pagi tadi, yang ia sangka sudah punya anak ternyata anakan kucing itu kini berada di cafenya.
Entah takdir apa yang membawanya ke cafe Flo, atau memang hanya kebetulan saja, tapi rasanya sungguh aneh.
Flo yang kemudian menyadari Indra melihat ke arah Flo juga, buru-buru balik badan dan akan segera ambil langkah menghindar jika saja suara itu tak lebih dulu ia dengar.
Ya, suara panggilan dari Indra.
"Nona Flo."
Flo memejamkan matanya seraya mendesis, lalu segera menoleh ke arah Indra yang tampak berjalan ke arahnya.
"Eh, siapa ya?"
Tanya Flo pura-pura lupa.
Dipasangnya mukanya sedatar mungkin, datar macam papan.
Indra terlihat tersenyum.
Senyumnya manis dan polos seperti anak kucingnya.
"Tak disangka kita ketemu di sini Nona Flo."
__ADS_1
Sapa Indra senang.
"Saya Indra, yang tadi pagi Nona Flo ke rumah antar dompet saya."
Ujar Indra yang sebetulnya yakin Flo pasti belum melupakannya.
Mana ada manusia bisa secepat itu lupa dengan satu kejadian yang terjadi belum lewat satu hari, kembalian beli cilok saja kalau masih satu hari pasti masih ingat kalau belum lewat satu hari.
"Ooh ya ya, Bang Indra."
Flo mantuk-mantuk sambil tersenyum canggung.
"Nona datang sama teman atau..."
Kalimat Indra menggantung seraya mencoba celingak-celinguk seolah mencari siapa diantara para pengunjung cafe yang datang bersama Flo.
Flo jadi nyengir keki ditanya datang dengan siapa. Indra tidak tahu Flo pemilik cafe yang ia datangi.
"Saya sendirian."
Jawab Flo.
Indra membulatkan matanya.
"Wah, ke cafe sendirian? Kalau begitu ayok gabung sama teman-teman saya saja Nona."
Kata Indra menawari Flo untuk bergabung.
"Jangan khawatir, mereka teman-teman saya orang baik kok, kami kumpul selain ditraktir Bang Ragil pendiri komunitas, juga sedang mau membicarakan masalah pendirian rumah singgah untuk kucing jalanan yang korban penganiayaan."
Kata Indra.
Flo mengerutkan kening.
"Ah pacar salah satu anggota kami ada yang bekerja di sini, makanya kami kumpul di sini, beberapa kali di ajak ke sini nggak pernah berani soalnya takut nggak bisa bayar, hihihihi..."
Indra cekikikan.
Flo rasanya jika sedang sambil minum pasti sudah tersedak entah berapa kali mendengar kata-kata Indra yang sama sekali tanpa tedeng aling.
Benar-benar polos dan tanpa rasa jaim.
Bagaimana bisa seorang cowok bisa sepolos itu? Pikir Flo.
"Tapi teman saya yang pacarnya kerja di sini nggak bisa ikut, dia lembur di pabrik, jadi saya datang sekalian wakilin dia ini karena kebetulan kami satu tempat kerja, tapi saya dilarang lembur sama Ibu."
Flo enggan berkomentar dan hanya mantuk-mantuk saja.
Hingga...
"Nona Flo, pasta kita habis, pesanan masih kurang tiga porsi."
Seorang staf restoran mendekati Flo dan melaporkan ketersediaan bahan pesanan yang habis.
Flo tampak sedikit marah.
"Bagaimana bisa, mana Lisa?"
Flo pamit pada Indra untuk kemudian segera pergi mencari staf nya yang bernama Lisa yang mengurus ketersediaan bahan di cafenya.
Di tempatnya berdiri, indra tampak melongo.
Apa itu tadi? Nona Flo, pemilik cafe... ini? Batin Indra terkejut luar biasa.
Flashback berakhir.
Flo menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin, lalu ia menyalakan rokok yang ketiga untuk kemudian dihisapnya lagi.
Indra, kenapa muka kucingnya terus ada di mataku. Batin Flo galau.
__ADS_1
**-------------**