
Albar dan Fajar sedang pesta makan lauk opor ayam dan ayam goreng sambil duduk lesehan di teras dekat loteng.
Cimot juga ikut serta mengalap berkah dengan makan dua paha ayam goreng.
Balqis sendiri memilih di kamar untuk belajar sambil mencoba laptop barunya.
Laptop warna merah yang sama persis dengan milik Dinda itu nyatanya memang sudah lama sekali menjadi impian Balqis.
Balqis menghela nafas.
Rasanya entah ini namanya berkah atau apa, kedatangan Albar ke rumah Aki lalu membuat semua hal yang Balqis inginkan tiba-tiba saja ada.
Yah...
Mesin cuci di mana Balqis kadang kalau lagi capek atau lagi kurang enak badan, rasanya ingin beli mesin cuci tapi tidak tega minta pada Aki.
Sepeda yang sudah bolak balik rantainya copot dan setangnya sedikit bengkok.
Laptop Balqis yang rusak dan ingin ganti tapi juga belum bisa terbeli.
Juga beli hp baru karena hp lama Balqis yang sudah mulai lemot.
Dan semua itu, akhirnya sekarang sudah dibelikan Albar.
Balqis menatap nanar laptopnya.
Tapi...
Saat hati Balqis merasa senang dengan semua yang ia dapatkan, dalam waktu bersamaan Balqis juga merasa takut.
Takut ia akan mulai manja dan ingin lebih banyak tanpa usaha. Balqis juga takut jadi kebiasaan mengandalkan Albar dan merasa semua akan bisa ia capai dengan mudah selama ada Albar.
Balqis menghela nafasnya lagi.
Dan...
"Qis... Qis..."
Tiba-tiba suara Aki dari luar kamar mengejutkan Balqis.
Ia pun segera beranjak dari meja belajarnya dan kemudian membuka pintu kamar untuk kemudian keluar menemui Aki.
"Yah Ki."
Aki yang baru pulang dari mushola tampak memberikan wadah bekas sempolan pada Balqis.
"Ya Allah, Aqis lupa belum bikin adonan baru."
Pekik Balqis begitu menerima wadah bekas sempolan yang biasanya ia antar ke warung Teh Diah.
Teh Diah yang masih saudara jauh Aki itu jualan sembako sekaligus juga kebutuhan lain seperti obat-obatan dan juga makanan frozen macam sosis, nuget, kentang, hingga daging yang untuk membuat burger.
Itu sebabnya Balqis juga menitipkan sempolan di sana untuk menambah stok makanan frozenan warung Teh Diah.
"Uangnya katanya besok kamu ambil sendiri pagi-pagi, sekalian Diah mau pesan apa tadi Aki tidak tahu."
Kata Aki.
Balqis mengangguk.
"Iya Aki."
Sahut Balqis.
Aki kemudian berjalan menuju kamarnya untuk salin dan menyimpan sajadahnya.
"Aqis siapkan makan malam buat Aki dulu."
Kata Balqis.
Aki mengangguk lalu masuk kamar.
Balqis keluar dari ruangan dalam menuju dapur melewati Albar dan Fajar yang masih pesta ayam goreng satu tepak besar sambil ngobrol ngalor ngidul.
Balqis masuk dapur, mengambilkan satu mangkuk opor ayam untuk Aki yang sengaja ia pisahkan, dan juga satu piring ayam goreng juga.
Kata ustadzah Nur, makanan untuk orangtua itu harus dipisahkan dari lainnya, karena selain memang begitu adabnya untuk menghindari orangtua makan makanan sisa kita, juga agar kita dapat pahala lebih karena menghormati orangtua.
Balqis kemudian membawa lauk itu ke ruang dalam, lalu meletakkannya di meja. Balqis balik lagi ke dapur untuk mengambilkan piring dan juga membuatkan teh tawar untuk Aki sebentar.
__ADS_1
"Jar, besok tolong dipotongkan lima ayam lalu diantar ke rumah Haji Imam yang rumahnya dekat Pak Lurah ya, katanya mau buat nyambut tamu."
Kata Aki pada Fajar.
"Oh siap Ki, laksanakan!"
Jawab Fajar macam polisi saja.
"Pake fortuner nya saja antar ayamnya, sekalian manasin."
Kata Albar.
"Haiiish... yang benar saja Ra, antar ayam pake fortuner."
Fajar geleng-geleng kepala.
**-----------**
Sekitar pukul delapan malam, Fajar yang sudah kenyang lalu merasa ngantuk akhirnya pamit pada Albar dan Aki.
Ia diantar Albar sampai ke depan rumah.
"Jadi ini serius taruh di lahan kosong tetanggaku saja?"
Tanya Fajar.
Albar mengangguk.
"Iya taruh aja di sana, pake aja semaumu, yang penting kapan saja Aki sama Balqis butuh anterin."
Ujar Albar.
"Iyalah, kamu juga kalau butuh ke mana kan tinggal koling-koling."
Kata Fajar.
Albar duduk di lantai teras.
"Aku mungkin ngga lama lagi pulang ke Jakarta."
"Lha ngapain pulang ke Jakarta Ra? Nanti aku kehilangan dikau."
Kata Fajar.
Albar menendangkan kakinya ke arah Fajar yang menghindar sambil tertawa.
"Udah sono pulang."
Usir Albar pada Fajar.
Fajar akhirnya masuk ke dalam mobil.
"Balik dulu Ra!"
Pamit Fajar dari balik belakang kemudi.
"Ya."
Albar mantuk-mantuk.
Mobil pun pelahan bergerak meninggalkan pelataran rumah Aki.
Albar menatap langit yang hari ini tampaknya mendung karena tak ada bintang dan bulan sama sekali.
Geluduk kecil juga sayup terdengar menandakan hujan akan turun.
Ah mungkin tengah malam nanti akan turun hujan. Batin Albar.
Albar kemudian menatap jalanan desa yang kini lengang dan deretan rumah-rumah sederhana dengan pintu yang sudah tertutup rapat dengan lampu terasnya berpendar samar.
Desa di mana Albar kini tinggal sepertinya sudah beranjak tidur.
Sepi, sunyi, senyap.
Albar menghela nafas.
Sayup angin mendayu membuat rerimbunan daun pepohonan yang ada di sekitar sana meriap-riap.
Albar pelahan berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Ia juga akan pergi tidur saja sekarang. Batinnya.
Albar masuk ke dalam. Menutup lalu mengunci pintu samping.
Saat masuk ke dapur, ia melihat Balqis yang sedang membuat mie rebus instan.
"Bikin apa Bal?"
Tanya Albar.
"Tiba-tiba ingin mie rebus."
Sahut Balqis.
"Ati-ati micin ntar begok."
Kata Albar sambil lalu.
Haiiish... Balqis mendesis.
Albar yang sudah keluar dapur dan berjalan di teras pembatas dapur dan sumur tiba-tiba berhenti lalu balik lagi masuk ke dapur.
Balqis yang melihat Albar tiba-tiba saja muncul lagi jadi kaget.
"Bal."
Panggil Albar.
"Apa?"
"Kamu serius mau jadi Guru?"
Tanya Albar.
Balqis mengerutkan kening.
Kenapa sih dia? Tiba-tiba nanya cita-cita Balqis lagi. Batin Balqis heran.
"Mau kuliah di mana rencananya?"
Tanya Albar.
"Ngg... Penginnya masuk UI, tapi masuk UI ngga bisa sembarangan, ngga tahu sih bakal lolos masuk atau enggak."
Balqis menjawab sambil mematikan kompor karena mie rebusnya sudah matang.
Balqis meraih mangkuk dan menyiapkan bumbunya.
"Kalau misal ngga bisa masuk UI ya paling nyari yang lain. Kalau UGM atau UNDIP deket sih pengin juga nyoba masuk ke sana."
Kata Balqis lagi yang kemudian mulai menuang mie rebusnya ke dalam mangkuk yang sudah ada bumbunya.
Aroma khas mie rebus instan tercium menggugah selera.
"Eh ini kan mie instan yang kamu jadi bintang iklannya."
Ujar Balqis tiba-tiba pada Albar.
'Oh yah."
Albar mendekat.
Aroma mie rebus yang enak semakin tercium begitu Albar berdiri bersisian dengan Balqis.
"Aku malah belum pernah makan, sekalinya itu pas syuting iklan juga yang masak enggak bisa, aromanya nggak kayak ini."
Kata Albar.
Balqis kemudian memberikan sendok pada Albar.
"Coba nyicipin, kali aja langsung begok."
Seloroh Balqis membuat Albar tertawa, dan Balqis juga.
Albar mencicipi satu sendok mie rebus itu dan langsung jatuh cinta pada rasanya.
Hmm... Jatuh cinta pada mie rebus apa sama yang bikin mie rebusnya Bar?
(Sini-sini Bar, curhat sama mak Othor, hihihi)
__ADS_1
**----------**