
Beni terus berdecak kagum sejak melihat pesawat pribadi Mami Albar yang akan digunakan Albar pulang ke Indonesia.
"Berjanjilah tak lebih dari tiga hari."
Pesan Mami wanti-wanti ketika akhirnya ia memutuskan mengijinkan Albar kembali ke Indonesia dan menggunakan pesawat pribadi mereka.
Albar terlihat mengambil tempat duduk di dekat jendela pesawat, duduk bersandar seraya mendengarkan musik dan menikmati awan sepanjang perjalanan adalah kegemaran Albar.
Beni menyusul Albar masuk ke dalam kabin pesawat dan masih terus sibuk berdecak kagum dengan interior kabin pesawat pribadi Mami Albar.
"Sultan, kenapa pas jadi artis ngga ikutan kayak yang lain foto-foto di pesawat Bar?"
Tanya Beni pada Albar seraya menjatuhkan tubuhnya di atas kursi pesawat yang empuknya lima kali lipat daripada springbed miliknya.
Albar terlihat tersenyum geli mendengar pertanyaan Beni.
"Foto di dalam pesawat? Aku akan foto jika aku jadi pilotnya."
Sahut Albar.
"Jiaaaah, kan keren punya pesawat pribadi."
Kata Beni sambil merentangkan tangannya ke atas sandaran kursi pesawat dan mengangkat kakinya untuk bergaya.
Albar menggelengkan kepalanya.
"Apa bagusnya memperlihatkan sesuatu yang para fans ku saat itu tak bisa nikmati. Lebih baik aku menunjukkan aku menyanyi dengan baik dan mereka menikmatinya."
Ujar Albar.
Beni yang mendengar kata-kata Albar terdiam. Tak disangka, Albar akan menjawab pertanyaannya dengan cara demikian.
Beni kemudian berpindah duduk di kursi yang bersebrangan dengan Albar, ia terlihat mulai serius.
"Kau tak ingin kembali jadi idol Bar? Aku lihat followers mu di media sosial masih cukup banyak, aku yakin mereka masih menunggumu kembali."
Kata Beni.
Albar menghela nafas.
Entahlah, kadang aku ingin menyanyi lagi untuk mereka, kadang aku juga rindu berakting di depan kamera, tapi untuk benar-benar melakukannya aku belum sanggup."
"Why?"
Tanya Beni.
Albar memilih hanya tersenyum datar.
Ia tak ingin membahas lebih jauh, ini tentang hatinya, dan ini biar Albar simpan sendiri.
**-------------**
"Etiiiiiii, cepetaaaan, iiiikh lamaaa deh."
__ADS_1
Po teriak kenceng dari luar rumah kontrakan mereka, saat kemudian Eti lari-lari keluar.
"Iikh orang lagi nyari kacamata juga."
Ujar Eti.
"Lha iya kayak minus aja pake takut ketinggalan kacamata."
Po geleng kepala.
"Biarin weeeek..."
Eti melet sambil melenggang menuju mobil di mana Balqis dan Dinda sudah di dalam mobil menunggu Eti.
Bang Zul yang sedang merokok di luar gerbang dekat mobil akhirnya mematikan rokoknya begitu melihat Eti akhirnya sudah masuk ke mobil dan Po adiknya menutup pintu rumah serta menguncinya.
"Pagar sekalian Po."
Kata Bang Zul sambil masuk ke dalam mobilnya.
Po mengangguk lalu menutup pintu pagar besi rumah yang akan mereka tinggali itu untuk kemudian ia gembok.
Setelah memastikan semua beres, barulah po berlari menyusul yang lain ke dalam mobil.
"Yuk ah cus, jadi anak gaoool Jakarta."
Kata Po di dekat Bang Zul yang menyalakan mesin mobilnya.
Saat akhirnya Bang Zul membawa mereka berkeliling dekat stasiun TV swasta yang masyhur tentu saja anak-anak itu langsung heboh.
"Bang turun sebentar yuk, kali aja ada Rafi Akhmad."
Ujar Po.
"Hahaha... mimpilaaaah."
Sahut Eti.
"Yeeee... semua bisa saja terjadilaaah, nyatanya Albar Harrys juga bisa dateng ke kampung ki..."
Ups...
Po yang kali ini malah kelepasan.
Membuat Dinda langsung mengurut kening dan Eti melirik Balqis yang duduk di sebelahnya.
Balqis terlihat seperti tak bereaksi apapun, ia asik melihat foto-foto yang baru saja mereka ambil.
Eti terlihat ke arah Po memanyunkan bibirnya, seolah mengatakan kalau Po harusnya minta maaf.
Tapi, po merasa jika ia minta maaf hanya karena menyebut nama Albar malah akan membuat Balqis merasa tidak nyaman, jadi po lebih baik diam saja.
Untunglah, Bang Zul yang peka dengan kondisi dan situasi yang tak kondusif karena salah omong Po, akhirnya menengahi.
__ADS_1
"Cafe yang hitz itu deket sini, kita langsung ke sana saja ya, kabarnya banyak artis yang juga nongkrong di cafe ini, sapa tahu nanti ada Rafi Akhmad atau artis lain."
Kata Bang Zul.
"Siiip Bang, gas keuuun."
Kata Eti semangat.
Bang Zul pun membawa mobilnya menuju Flora Cafe.
**-----------**
Flora Cafe sore hari terlihat selalu penuh pengunjung, apalagi di hari Sabtu dan Minggu di mana cafe itu menyuguhkan live music yang membawakan lagu-lagu hitz dari tahun 90'an hingga awal-awal 2000'an.
Menu untuk hari Sabtu dan Minggu juga sengaja dibuat berupa paket, hingga pengunjung bisa lebih berhemat, dan uniknya lagi menu yang dibuat paket itupun setiap pekannya diganti-ganti, hingga pengunjung tak perlu merasa bosan jika berkunjung setiap hari Sabtu dan Minggu.
Cafe Flora juga terkenal dengan pelayanannya yang ramah dan cepat, selain itu tempatnya yang cozy, makanan yang masuk menu-menu utama juga sangat beragam dan rasanya enak.
Pokoknya, tak heran jika Flora Cafe akhirnya menjadi salah satu cafe yang menjadi tujuan para kaula muda untuk menghabiskan weekend mereka bersama teman, sahabat, saudara maupun pasangan.
Dan Flo, adalah pemiliknya.
Pemilik cafe yang sedang hitz dan kini membuatnya mulai merangkak menjadi salah satu pengusaha muda.
Flo jelas merasa cukup senang dan bangga atas pencapaiannya setelah semua yang ia lewati bersama Albar.
Tak ia sangka, dari tadinya iseng membeli cafe teman yang gulung tikar, kini Flo justeru bisa membuat cafe itu bukan hanya kembali hidup namun juga tubuh subur.
Flo terlihat duduk menikmati suasana Cafenya yang laris manis di weekend kali ini, ia baru saja mendapat kabar dari Mami Albar jika sepupunya si biang kerok itu sudah terbang meninggalkan Perth menuju Jakarta.
"Titip Albar ya Flo, jangan biarkan dia berhubungan dengan semua masalah yang berkaitan dengan masa lalu itu lagi."
Begitu pesan Mami Albar pada Flo.
Flo menatap band yang kini berada di panggung cafenya.
Mereka tengah menyanyikan lagu Andai dia tahu milik Kahitna.
Flo bukannya tidak mengerti apa yang dikhawatirkan Maminya Albar.
Tapi...
Ah biar saja takdir yang mengatur Albar mau bagaimana, dan harus bagaimana.
Tiba-tiba Albar ingin pulang ke Indonesia setelah sekian lama sembunyi, tentu Albar punya alasannya sendiri, dan Flo tak mau nantinya merusak apapun yang sedang diniatkan Albar.
Flo tampak menikmati lantunan lagu Andai dia tahu yang dibawakan band yang mengisi live music di cafe milik nya sore ini, saat kemudian matanya tak sengaja melihat ke arah pintu masuk cafe dan tampak serombongan gadis berjilbab yang untuk Flo tak asing.
"A... qis."
Gumam Flo terkejut.
**----------**
__ADS_1