
"Assalamualaikum."
Laki-laki itu mengucap salam yang kemudian dijawab dari dalam seiring dengan langkah kaki yang mendekat.
"Waalaikumsalam..."
Pintu kayu itupun berderit terbuka pelahan, tampak laki-laki tua berdiri di sana, memandangi tamu-tamunya.
Setelah itu ia terlihat melihat keponakannya.
"Ada apa lagi Ko?"
Tanya Laki-laki tua itu pada sang keponakan yang tampak menyalaminya.
"Maaf ganggu lagi Wak Ramli."
Laki-laki tua bernama Wak Ramli itupun kemudian mempersilahkan para tamunya masuk ke dalam rumah, lalu meminta anaknya membuatkan minuman untuk para tamu.
"Duduklah, maaf di sini tidak ada kursi, saya lebih suka duduk di atas karpet."
Kata Wak Ramli yang di ruang tamu rumahnya yang sederhana itu terlihat hanya digelar karpet saja.
Albar dan Flo mengikuti keponakan Wak Ramli yang mengantar mereka duduk di atas karpet, Wak Ramli juga duduk di sana.
"Masih soal kejadian tujuh belas tahun lalu Wak, kecelakaan yang menimpa Wak Nurdin."
Kata sang keponakan.
"Bukankah kemarin semua dokumen yang Wak simpan sudah Wak titipkan padamu Eko?"
Tanya Wak Ramli.
Eko mengangguk.
"Iya Uwak, saya sudah sampaikan."
Pandangan mata Wak Ramli kemudian mengarah pada Albar dan Flo.
"Lantas ada perlu apa lagi Tuan muda dan Nona datang?"
Albar mengulurkan hp miliknya kepada Wak Ramli, di mana di sana ada foto Papi nya.
"Saya ingin menanyakan apakah Uwak mengenalnya?"
Tanya Albar.
Wak Ramli tangannya gemetar meraih hp Albar karena melihat foto di hp itu.
"Tuan Muda mengenalnya?"
Tanya Wak Ramli.
Albar mengangguk.
"Dia Papi saya."
Jawab Albar tanpa ragu.
Wak Ramli mengangguk mengerti, ia menyerahkan kembali hp Albar.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu anak Wak Ramli yang sedang hamil muncul dari ruang dalam membawa suguhan sederhana.
Hanya teh hangat dan sepiring gorengan dan satu toples kacang kulit.
Saat akan mempersilahkan, anak Wak Ramli sempat melihat Albar dan nyaris terlonjak.
"Al... Albar?"
Anak Wak Ramli seolah tak percaya Albar Harrys menjadi tamu Babeh nya hari ini.
"Lho, kamu kenal Nab?"
Eh si Jenab ternyata langsung mengangguk.
"Albar Harrys, artis Beh, iye pan?"
Jenab pada Albar.
Albar hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Boleh minta foto sama tandatangan ya?"
Tanya si Jenab.
"Iya, tapi nanti ya Mpok, biar ini kami selesaikan masalah dulu."
Kata Flo melakukan perannya sebagai manajer dengan baik.
Si Jenab anak Wak Ramli mengangguk meskipun terlihat sedikit kecewa.
"Jangan bilang ke orang-orang Nab, nanti rame rumah."
"Iye Beh."
Si Jenab mengangguk.
Perempuan yang tengah hamil itupun permisi masuk ke dalam lagi, yang kemudian ia duduk di dekat pintu ruang tengah agar bisa melihat Albar dari sana, dan sesekali mengambil gambar diam-diam.
Flo dan Albar bukannya tidak tahu, tapi memang mereka sengaja membiarkan, bagaimanapun mereka sedang butuh informasi penting dari Wak Ramli.
"Maaf itu anak bungsu saya."
Kata Wak Ramli.
"Hamdan kerja ya Wak?"
Tanya Eko menanyakan suami Jenab, menantu Wak Ramli.
"Iya kerja bangunan di rumah Pak Gunawan."
Jawab Wak Ramli, tampak Eko mengangguk.
Wak Ramli kemudian kembali ke Albar dan Flo lagi, dipersilahkannya para tamunya menikmati suguhan.
Albar dan Flo demi menghormati tuan rumah maka mereka meminum teh hangat mereka.
"Tuan itu, dia orang yang baik, kami tahu beliau pasti tak sengaja menabrak Nurdin dan isterinya."
Wak Ramli kemudian mulai buka suara.
__ADS_1
"Dia juga sempat koma, baru setelah pulih dia datang ke sini beberapa kali untuk meminta maaf dan begitu tahu Nurdin meninggalkan anaknya yang masih kecil, dia berinisiatif mengadopsinya."
Kata Wak Ramli.
"Saya dan Haji Hasyim almarhum yang waktu itu menemuinya setiap kali dia dan supirnya datang. Dari kisah sang supir yang kalau tidak salah namanya Kusnanto, kami jadi tahu hari itu sang Tuan sedang tak enak badan tapi dipaksa bertemu klien di Bogor, karena sebetulnya hari itu hari libur putra beliau memaksa ikut."
"Putra beliau?"
Flo memastikan seraya kemudian menatap Albar yang mematung.
"Ya menurut cerita supirnya, hari itu pulang dari Bogor cuaca sedang hujan, supirnya tangannya terkilir saat di Bogor karena menjaga putra sang Tuan selama pertemuan dengan klien, maka sang Tuan yang mungkin karena lelah dan mengantuk serta kondisi kesehatan yang sedang tak baik jadi hilang kontrol."
Albar yang mendengar cerita itu kepalanya tiba-tiba terasa begitu berat, sakit dan seolah mengingat potongan-potongan memori yang sempat hilang dari ingatan masa kecilnya.
Flashback,
Albar berlari mengejar Papinya keluar rumah, Albar memaksa minta ikut Papinya yang mendadak harus bertemu dengan seorang klien.
"Papi sudah janji akan sama Albar saat libur, Albar bosan di rumah sendirian terus, Mami tidak di rumah, Papi juga."
Kata Albar protes.
Albar yang berusia tujuh tahun dan sudah duduk di bangku Sekolah Dasar itu menatap tajam Papinya.
Ia menuntut Papinya memegang janji dan tak mengingkarinya seenak sendiri.
Papinya tampak menghela nafas.
Seolah tak ada pilihan lain, akhirnya Papi mengajak Albar ikut serta.
"Tapi Albar harus janji pada Papi, jika nanti jangan ganggu pertemuan Papi dan Om Rizal. Kami harus bertemu orang penting, jadi nanti Albar main saja dengan Mang Kus."
Kata Papi.
Albar mengangguk.
Dan akhirnya Albar pun berhasil memaksa ikut Papinya ke Bogor.
Pertemuan yang cukup lama itu berakhir setelah hari telah gelap.
Mang Kus tangannya terkilir karena jatuh melindungi Albar yang hampir terguling saat main di taman bermain.
Papi Albar yang tahu Mang Kus terkilir memutuskan untuk mengemudikan mobilnya sendiri.
Sebetulnya teman sekaligus sahabat Papinya, yang bernama om Rizal itu menawarkan untuk pulang dengan mobilnya saja, namun Papi menolak, ia tetap memaksakan diri menggunakan mobil sendiri.
Dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, Albar yang duduk di belakang Papinya terus mengganggu sang Papi membawa mobil.
Hingga kemudian saat Papi sedikit meleng karena dipanggil Albar, tiba-tiba di depannya ada bus yang berhenti mendadak karena sepertinya mogok, banting setir akibat kaget mobil Papi oleng menabrak mobil Om Rizal yang semula di belakang mobil papi dan tadinya akan menyalip.
Kecepatan yang cukup tinggi membuat mobil Om Rizal terhempas menabrak pembatas jalan, lalu mobil yang dikemudikan Papi sendiri menabrak mobil kecil yang di kendarai Nurdin dan isterinya.
Mobil itu tertabrak dan di hajar dari belakang oleh truck.
Kecelakaan yang melibatkan cukup banyak kendaraan itu mengakibatkan korban berjatuhan.
Korban luka dan korban meninggal.
Albar dan Papi sempat koma, Albar sejak kecelakaan itu mengalami trauma yang cukup besar hingga Mami membawanya ke Perth untuk menjalani terapi hingga ia berangsur lupa dan keadaannya membaik.
__ADS_1
**------------**