
Flo memberikan kesempatan Albar dan Balqis bicara dari hati ke hati hari ini, karena bisa jadi mereka entah kapan akan bertemu lagi.
Flo sengaja meminta antar Wa Icih ke rumah Teh Diah untuk membeli sosis, nuget dan macam lainnya untuk nanti tambahan acara pengajian.
Meskipun Wa Icih sebetulnya kurang setuju tapi Flo memaksa saja, toh memang dia tujuannya supaya Albar dan Balqis memiliki waktu untuk bicara sendiri.
Albar baru turun dari loteng saat melihat Balqis sibuk menata dus-dus kue di sudut ruangan di atas karpet.
"Sudah selesai semua?"
Tanya Albar.
Balqis yang mendengar suara Albar tampak menoleh.
"Belum."
Jawab Balqis kemudian.
"Kue potongnya belum sampai, sama nanti sore risoles dan pie."
Kata Balqis.
Albar mantuk-mantuk.
"Oh ya, Mami titip uang untuk pengajian Bal, kamu ada rekening?"
Tanya Albar.
"Ngga usah Bar, sumbangan kemarin sudah lebih dari cukup kok, aku juga ada tabungan, nanti kalau kurang bisa ambil dari situ ngga apa."
Kata Balqis.
"Hmm... Ini amanah dari Mami, kalau ngga aku sampaikan nanti aku salah."
Kata Albar.
Balqis terdiam.
Iya sih, benar juga. Batin Balqis.
"Ya udah, sebentar, aku ambil buku tabungannya dulu, aku enggak hafal nomornya."
Kata Balqis.
"Kamu ada M-banking kan?"
Tanya Albar.
"Ah iya lupa."
Balqis nyengir.
Haish, sepertinya Balqis sejatinya bukan lupa, tapi ia entah kenapa mulai salah tingkah di depan Albar.
Balqis akhirnya memberikan hp nya pada Albar agar Albar melihat sendiri nomor rekening Balqis.
"Kamu serius ngga akan ikut ke Jakarta?"
Tanya Albar yang kemudian memilih duduk sila di atas karpet yang di gelar.
Balqis menghela nafas.
"Mungkin nanti saat aku kuliah saja, semoga bisa kuliah."
Kata Balqis berusaha lebih tegar sekarang.
Albar memandang Balqis sekilas, lalu kembali ke arah layar hp nya lagi untuk melanjutkan transaksi.
"Done."
Kata Albar seraya mengembalikan hp Balqis.
Terdengar bunyi pesan masuk.
Balqis segera melihatnya.
Dan...
__ADS_1
"Bar."
Balqis membelalakan matanya tak percaya.
"Ini kamu salah nekan angka Bar."
Kata Balqis panik.
"Apa?"
Albar malah jadi bingung.
"Ini, kamu salah transfer."
Balqis memberikan hp nya lagi pada Albar.
Albar menatap layar hp Balqis.
"Lho, bener kok dua ratus juta, aku pikir tadi aku transfer dua puluh juta saja."
Kata Albar.
Balqis melongo.
"Ini uang buat apa? Beli rumah ini?"
Tanya Balqis.
"Hah? Beli rumah? Kenapa mikirnya ke situ? Memangnya kamu jual rumah?"
Balqis menabok Albar.
"Aku serius Albar, ini uang apa?"
Tanya Balqis.
"Dibilangin itu titipan Mami karena ngga bisa dateng, itu Mami ingin ikut bantu sedikit buat pengajian Aki."
Ujar Albar yang mengambil air mineral gelas.
"Albar, dua ratus juta buat pengajian dikira mau tabligh akbar atau bagaimana?"
"Lho itu aja Mami takutnya kurang ya nanti bilang aja."
Balqis mengurut keningnya.
"Haduuh Bar, aku balikin aja ini terlalu banyak, kamu mau kasih kambing satu ekor buat tiap orang yang ikut tahlil? Sampai ada budget dua ratus juta?"
Balqis geleng-geleng kepala.
"Aku balikin aja deh, aku ambil dua ratus ribu aja."
Kata Balqis bersiap melakukan transaksi saat Albar segera merebut hp Balqis.
"Albar, balikin."
"Janji dulu ngga balikin uangnya."
"Tapi Bar..."
"Terima uangnya atau ikut aku ke Jakarta."
Kata Albar.
"Lha kok jadi ngga nyambung?"
Balqis protes.
"Ya kalo mau hp nya dibalikin janji dulu."
Kata Albar menyembunyikan hp Balqis di belakangnya.
"Ayolah Bar..."
"Aku ngga mau kalau kamu sampai mengembalikan titipan Mami.
Balqis terdiam menatap Albar.
__ADS_1
"Kalau nanti lebih, kamu bisa pakai untuk acara lainnya, bukannya kata Fajar dan Wa Icih juga begitu. Ada empat puluh hari, seratus hari... Begitu kan?"
Tanya Albar.
Balqis kemudian mengangguk.
"Nah makanya, udah pakai saja."
Kata Albar.
"Jangan sampai kalau butuh apa-apa pakai tabungan kamu Bal, itu kan buat kamu kuliah."
Kata Albar.
Balqis hanya mampu terdiam.
"Bal..."
Albar kemudian mengembalikan hp Balqis.
"Nanti setelah aku di Jakarta, aku akan bantu kamu nemuin Pak Nurdin Bal, aku janji."
Ujar Albar.
Balqis menatap Albar yang terlihat begitu serius dan bersungguh-sungguh.
"Mungkin benar katamu jika mereka sebetulnya sudah tak ada lagi di Jakarta, tapi kita harus nyoba mencari ke alamat itu Bal, siapa tahu ternyata dugaan kita juga meleset."
Kata Albar.
Balqis menghela nafas.
"Entahlah Bar, seandainya aku bertemu merekapun aku harus bagaimana? Jika benar mereka masih hidup, tapi aku diberikan pada Mang Kus untuk diadopsi, itu berarti karena kedua orangtuaku tak mengharapkan aku."
Kata Balqis.
"Kenapa bicara begitu Bal?"
Balqis tersenyum pahit.
"Aku memikirkannya berulang kali, kenapa aku sampai diadopsi orang lain jika kedua orangtuaku masih hidup."
Lirih Balqis.
Albar gantian yang terdiam. Lalu...
"Jika memang aku sengaja dibuang, mungkin ada bagusnya aku tak perlu bertemu mereka lagi."
Kata Balqis.
Albar menatap Balqis lekat-lekat.
Wajah cantik dan manis itu, besok sudah tak akan bisa ia pandangi dari dekat lagi.
"Ah iya Bal."
Albar tiba-tiba berdiri dari duduknya.
Balqis menatapnya heran.
Albar tanpa babibu langsung beranjak menuju kamarnya di loteng.
Mencari sesuatu lalu menemui Balqis lagi.
"Aku harap kamu membukanya nanti saja setelah aku berangkat."
Kata Albar yang kemudian memberikan satu kotak kecil yang dibungkus kertas kado.
"Jangan dibuka sebelum aku pulang, oke."
Kata Albar lagi wanti-wanti pada Balqis.
"Iya, baiklah, aku akan buka setelah kamu pulang."
Ujar Balqis.
Albar tersenyum senang.
__ADS_1
**------------**