
Setelah melalui musyawarah yang sebetulnya lebih tepatnya mendengarkan semua keputusan Mami secara sepihak karena tak bisa diganggu gugat mengingat pasal-pasal di mana orangtua adalah yang lebih tahu, mengerti, memahami dan segala halnya, maka dari itu Albar dan Balqis pun menuju Kampung Rambutan dengan Mami.
"Apa Mami tidak capek hari ini langsung pergi ke beberapa tempat?"
Tanya Albar heran sendiri.
Karena rencananya setelah dari rumah perwakilan keluarga orangtua Balqis di Kampung Rambutan dan ke makam orangtua Balqis, Mami akan ke tempat Nyonya Mien yang akan mengurus acara pernikahan Albar dan Balqis juga sekaligus ke butik untuk memilih beberapa baju untuk acara dan sekaligus pergi ke Tasik besok.
"Mami kan pulang sekaligus ngurus bisnis, jadi ini ngurus acara kalian Mami sengaja jadwalkan. Sudah kamu jangan banyak protes, nanti kalau protes terus Mami belikan spanduk sekalian."
Kata Mami.
"Lah gimana, malah beli spanduk."
Albar geleng kepala.
"Ya yang protes kan suka bawa spanduk."
"Fans Albar juga pada bawa spanduk."
Kata Albar.
Bersamaan dengan itu hp Albar ada panggilan masuk.
Mami ikut melongok saat Albar melihat layar hp nya.
"Flo, dasar anak itu, sama sekali tidak datang, awas nanti makan malam kita ke cafe dia saja."
Ujar Mami.
Albar tentu saja setuju, biar jangan dia terus yang kena omel.
"Ya Flo, apa?"
Albar mengangkat panggilan Flo.
Mami di sebelah Albar ikut mendengarkan, begitu juga dengan Balqis yang duduk di depan di samping Bang Zul.
"Bar, ada beberapa orang nelfon aku nih nanyain kamu."
Kata Flo.
"Lah, nanyain soal apa?"
Tanya Albar heran.
__ADS_1
"Kamu tuh lho, kemarin tampil di panggung live musik cafe untuk acara hari sabtu, ternyata banyak yang unggah di media sosial, viral tahu!"
Kata Flo.
"Seriusan?"
Albar kaget.
"Ya aku juga baru tahu ini si Eti kasih lihat setelah aku matikan nomor lamaku, trus ada yang ke cafe hari ini, baru aja pulang orangnya."
"Nanyain aku soal apa sih?"
Tanya Albar.
"Ya nanya kamu balik lagi ke dunia hiburan tidak? Masa iya nanyain jumlah gigi kamu sih."
Sahut Flo kesal.
Mendengar kata-kata Flo, Mami di sebelah Albar langsung menggeleng cepat.
"No... No... No, Mami tak restuin kamu balik ke dunia hiburan, kamu sudah janji akan terusin studi dan masuk perusahaan, ingat kamu mau nikahin anak orang dan harus jelas karirnya."
Kata Mami.
"Et dah, ada suara Mami kamu Bar?"
Albar tertawa.
"Biasa saja lo, dosa nyamain Mami kayak geledek."
Kata Albar.
Mami langsung menabok lengan Albar.
"Flo Mam, tabok aja nanti kalau ketemu..."
Kata Albar yang langsung disambut berisik Flo di kejauhan.
Hp Albar diambil Mami,
"Flo, siapkan diri ya, malam nanti kami akan makan sampai puas di cafe kamu, awas kalau tidak enak."
Kata Mami.
Flo langsung tertawa,
__ADS_1
"Siaaaaap..."
"Jangan lupa, pacarmu hadapkan juga, biar Bu Dhe nilai dari segala sisi, sudut dan pritilan-pritilannya apakah sudah layak diberi restu atau tidak."
"Aduuuuh, sinyal jelek nih, halo... halo..."
Tuuuut...
Flo melarikan diri.
Mami menatap hp Albar,
"Eh lah, keponakan tidak ada akhlak."
Kata Mami.
Albar terpingkal melihat Mami mengomeli hp nya.
**-------------**
Area pemakaman terlihat sepi seperti biasanya, Mami dan Balqis serta Albar terlihat bersimpuh di dekat pusara kedua orangtua Balqis.
Balqis menitikkan air mata, begitupun dengan Mami dan Albar yang tak kuasa menahan sedih sekaligus haru karena akhirnya bisa bersama Balqis berkumpul di pusara korban kecelakaan Papinya Albar yang sekaligus juga tak secara langsung adalah kesalahan Albar.
"Kami berjanji akan menyayangi Balqis untuk menggantikan kalian, istirahatlah yang tenang Tuan dan Nyonya Nurdin, saya khususnya selaku wakil kalian menjadi orangtua Balqis mulai sekarang memastikan dia akan selalu bahagia bersama kami."
Kata Mami setelah mendengarkan Balqis membaca surah pendek untuk hadiah kedua orang tuanya, dan juga memanjatkan doa untuk mereka.
Balqis menangis tersedu-sedu, Albar menyeka air matanya berkali-kali.
Tampak di pinggir area pemakaman, keluarga mendiang kedua orangtua Balqis menatap dari sana.
Mereka juga tak kalah haru.
Kedatangan Mami dan Albar secara tiba-tiba untuk pergi ke makam dan ingin membicarakan soal rencana pernikahan Balqis serta memastikan siapa yang bisa menjadi wali membuat mereka tampaknya cukup terkejut tapi juga senang.
Mami mengambil tisu dari tas nya, lalu membantu Balqis menyeka air matanya.
"Pastikan hari ini terakhir kamu sedih."
Kata Mami yang lantas memeluk Balqis.
"Mami janji, akan menjadi Mami yang baik. Jangan menganggap Mami mertua, anggaplah Mami juga Mami kamu."
Kata Mami pula.
__ADS_1
Balqis makin tersedu dalam pelukan Mami.
**--------------**