
Balqis menjamu Fajar, Tio dan pak supir travel dengan hidangan yang cukup komplit, ditambah titipan Ibunya Bang Fajar untuk Balqis yang akhirnya juga ikut dihidangkan.
Saat mereka bersiap makan, gerombolan yang terdiri dari Eti, Po dan Bang Zul pulang dengan dya kantong besar hasil berburu bahan masakan di supermarket.
"Weh Bang Fajar Meeen..."
Bang Zul tampak senang bukan kepalang melihat Bang Fajar akhirnya ada di Jakarta.
Mereka bersalaman dengan erat.
"Makan Bang."
Kata Bang Fajar pada kakak laki-laki Po itu.
"Hayoklah, aku cuci muka dulu, panas sekali di luar."
Kata Bang Zul yang disambut anggukan kepala Bang Fajar.
Bang Zul ngeloyor ke bagian dapur untuk menyusul Eti yang membawa satu kantong belanjaannya, dan Bang Zul juga membawakan satu kantong yang lebih besar pula.
Po sendiri langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya karena perutnya mulas sejak keluar dari supermarket.
"Maaf ya hanya ini yang bisa disuguhkan."
Ujar Balqis, ia sudah begitu menghayati peran sebagai Nyonya besar rumah Albar Harrys.
Ah tentu saja, calon nyonya Albar Harrys haruslah begitu bukan?
Kelak bisa jadi, saat Albar akhirnya masuk perusahaan dan didapuk menjadi petinggi perusahaan tersebut, tentu saja Balqis akan sering menyiapkan diri dan rumahnya untuk menjamu relasi Albar yang datang berkunjung.
Eti sudah selesai serah terima bahan masakan yang baru ia belanjakan untuk mengisi kulkas dan juga persediaan dapur.
Gadis manis yang cerewet itu berjalan menuju ruang makan dan bersiap bergabung dengan yang lain.
"Hai Bang Fajar menyingsing, nyampe jam berapa tadi?"
Tanya Eti basa basi sambil duduk di dekat Dinda yang beseberangan dengan Bang Fajar.
"Setengah tiga an tadi Et."
Kata Bang Fajar.
Eti mantuk-mantuk.
Lalu Eti memindahkan pandangan matanya pada tumis daging yang menggiurkan dan letaknya di depan seorang pemuda tampan yang tak begitu asing.
Eti mengerutkan kening, lalu...
"Lah ini Tio bukan?"
Tanya Eti, yang kemudian membuat semuanya menoleh pada Eti, termasuk Tio yang begitu melihat Eti langsung tersedak.
Uhuk... uhuk... uhuk...
Jiaaah...
"Kenapa dik Tio, kamu lihat muka Eti doang keselek."
Bang Fajar terheran-heran.
Pak supir travel langsung mengulurkan air putih pada Tio agar batuknya reda.
"Kamu kenal Tio, Et?"
Tanya Balqis dan Dinda hampir bersamaan.
"Lah dia kan yang dulu di kasih surat cinta sama Po trus dia balas pake sandi rumput, itu lhi waktu kami ikut acara perkemahan persami antar sekolah pas hari pramuka."
Eti bicara tanpa tedeng aling membuat Tio kembali tersedak dan makin parah lagi begitu Po turun dari lantai dua rumah lalu muncul di ruang makan.
Ya Allah, aku ini macam ular deketin pentungan. Batin Tio nelangsa.
**--------------**
__ADS_1
Flo masih memeriksa bon belanja hari ini di depan mejanya.
Bon belanja pagi tadi untuk bahan-bahan kafenya.
Luni sudah dilepas dari kandang dan sibuk main di bawah kolong sambil sesekali menubruk kaki Flo.
Saat kemudian hp Flo berdering, di mana Albar menelfonnya.
"Apaaa..."
Flo menjawab panggilan saudara sepupunya tersebut.
"Cempreng banget suara, udah kayak kucing."
kata Albar.
"Sialan."
Umpat Flo.
"Eh Flo, aku minggu mau pulang, tadinya mau sekalian bulan depan bareng Mami, bantuin hubungin designer baju buat acara lamaran dan nikahanku la."
Kata Albar.
"Siapa? Anna Avanti?"
Tanya Flo.
"Ya boleh buat nikahan kayaknya dia paling oke bikin kebaya."
"Ya nanti ajakin Balqis nya lah."
"Ya atur ajalah kau, bagaimana bagusnya."
Ujar Albar.
"Trus minggu ini kenapa pulang? Ada kepentingan apa cuma karena kangen? Ngabisin bahan bakar pesawat saja."
Ujar Flo sambil tetap sibuk menghitung angka-angka pada bon belanjanya.
Kata Albar.
Flo yang mendengar kata calon langsung mendelik.
"What?"
Flo panik luar dalam.
"Kenapa?"
Albar bingung Flo bereaksi macam koruptor yang akan di periksa jumlah kekayaannya.
"Enggak... Enggak apa."
Flo tepuk-tepuk jidat.
Gimana nih, siapa yang akan Flo kenalkan sebagai calonnya? Aduuh sial, ngapain coba Albar pake sidak segala.
Flo terus tepuk-tepuk jidatnya.
Kalo jidatnya Flo panci pasti sudah penyok.
"Bilangin noh sama calonmu, mau diajak ketemu Albar Harrys yang gantengnya lintas alam."
Kata Albar.
"Iya kamu udah kayak kodok aja, lintas alam, darat dan air."
"Hahaha... Pangeran kodok kali."
(Pangeran Kucing Oyen dong novel baru Othor mah, ihiiir...)
"Nanti sore juga Balqis mau ke kafe, nanti sekalian deh aku tanya dia penginnya pakaian apa."
__ADS_1
"Balqis mau ke kafe acara apa? Aah iya itu kan si Fajar datang dari kampung Flo, makanya aku mau pulang, lama banget nggak ketemu dia."
"Fajar yang juragan ayam itu?"
Tanya Flo.
"Iya, juragan ayam yang aku rusuhin selama tinggal di sana."
"Hahaha emang kamu mah terlahir buat bikin rusuh hidup orang lain."
Sahut Flo kejam.
Albar terbahak.
Flo tiba-tiba merasakan Luni naik di kakinya, bersamaan dengan itu Lisa muncul dari arah tangga memberitahu Flo jika ada Bang Indra.
"Nona Flo, Babang Indra datang dengan teman-teman nya."
Kata Lisa.
Flo mengerutkan kening.
Kenapa Lisa menyebut Indra pake Babang?
Jangan-jangan Lisa paham kalau Flo...
Ah tidak!
Ini sangat memalukan.
Flo geleng-geleng kepala.
Luni sudah naik ke atas pangkuan Flo, lalu merayap naik ke atas meja di mana banyak kertas bon yang sedang diperiksa Flo.
Luni auto bermain dengan riang.
Naluri penghancurnya seketika muncul, diporak porandakan kertas-kertas bon di atas meja membuat Flo by langsung heboh, sementara Albar yang tidak tahu kondisi dan situasi Flo aslinya kenapa terdengar panik.
"Flo, ada apa whooiii... Flooo..."
Albar ikutan heboh.
Flo mengangkat Luni dan memindahkan nya ke sofa, Flo cepat akan kembali ke meja untuk membenahi kertas-kertas bon yang acak adut.
Aduuuh mana yang sudah ia hitung, Flo kacau tak ingat.
Lisa juga sibuk membantu Flo membereskan, Indra tak lama kemudian muncul di sana.
Membuat suasana semakin kacau buat Flo.
Konsennya makin buyar, fokusnya makin kacau dan berantakan.
Apalagi saat Indra terlihat menyapa dengan senyuman manisnya.
"Hai Nona Flo."
Aduuuh ...
Flo melihat Indra sudah macam melihat Duren montong bisa jalan kaki.
"Non... Nona... Nona..."
Lisa menepuk lengan Flo, mengagetkan Flo yang terhipnotis senyuman sang duren.
"Ah apa Lis... Apa?"
Tanya Flo gelagapan.
"Itu kertas bonnya keinjek dua."
Lisa menunjuk kertas bon di bawah kako Flo.
Kertas bon yang dijatuhkan Luni.
__ADS_1
Flo langsung nyengir sambil mengangkat kakinya dari atas kertas bon nya.
**------------------**