Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
30. Cuitan Sultan Albar


__ADS_3

Balqis di dapur sedang angetin opor ayam kiriman emaknya Bang Fajar, saat tiba-tiba Albar yang baru selesai mandi terdengar menyanyi.


Begitu melewati dapur, sempat-sempatnya dia masuk ke dapur dulu dengan joget ala Michael Jackson.


🎶Hey pretty baby with the high heels on


You give me fever


Like I've never, ever know


You're just a product of loveliness


I like the groove of your walk


Your talk, your dress


I feel your fever


From miles around


I'll pick you up in my car


And we'll paint the town


Just kiss me baby


And tell me twice


That you're the one for me


The way you make me feel


You really turn me on


You knock me off of my eat


My lonely days are gone🎶


Albar muter-muter kayak kincir angin sambil joget Michael Jackson dan nyanyi lagu Michael Jackson.


Balqis yang melihat kelakuan Albar hanya mengurut kening sambil geleng kepala.


Ni artis belum minum obat kayaknya. Batin Balqis.


"Udah sonooo sholat, malah konser di dapur."


Usir Balqis kesal.


Albar muter-muter sambil tetap nyanyi keluar dapur.


Balqis mah tidak tahu jika hati Albar sekarang sedang berbuah-buah, bukan lagi bunga tapi sudah berbuah.


Ini nih kekuatan sedekah.


Setelah berbuat kebaikan dengan membelanjakan hp baru untuk semua teman Balqis dan juga Fajar, kini Albar langsung dapat pencerahan karirnya.


Albar naik ke loteng masih sambil nyanyi-nyanyi.


Balqis yang melongok dari pintu dapur geleng-geleng kepala lagi.


Aneh banget, heran ada yang ngefans sama dia. Batin Balqis meskipun pada akhirnya ia senyum-senyum sendiri.


Keasikan memikirkan Albar, tak terasa aroma gosong-gosong manja dari panci tercium.


"Ya Allah, oporku sayang oporku malang."


Balqis melompat ke dekat kompor dan langsung mematikan.


Haduh, gara-gara Albar konser tidak jelas, Balqis jadi kehilangan fokus tugas utamanya angetin opor ayam.


Balqis segera mencicipi, untungnya gosongnya baru sedikit karena kuah hampir habis.


Balqis segera mengambil wadah untuk memindahkan opor ayamnya saat tiba-tiba terdengar bunyi klakson di luar rumah.


Tint!


Balqis kaget.


Buru-buru iapun keluar, dan tampak Fajar membawa mobil Fortuner baru milik Albar.


"Qis, si Bara api mana?"


Tanya Fajar pada Balqis yang melihat siapa yang datang dari pintu samping rumah.


"Lagi sholat di kamar."

__ADS_1


Jawab Balqis.


Fajar turun dari mobil.


Wajahnya menyiratkan kelelahan dan keputusasaan.


"Ada apa Bang, kok kayak setres amat."


Balqis heran begitu Fajar sudah makin dekat posisinya dengan Balqis berdiri.


"Qis... Qis, gimana enggak setres, tinggal markir mobil doang aku kena omel emak-emak. Dari emak sendiri sampe emak tetangga."


Fajar garuk-garuk kepala.


"Lha kenapa?"


Balqis loading.


"Itu mobil calon suami kamu kan gede, dia kalo diparkir depan rumahku ngga kelihatan pintunya, kamu tahu kan rumahku tuh pendek kayak bonsai."


Kata Fajar sambil masuk ke dalam begitu Balqis sedikit minggir agar Fajar bisa lewat.


"Parkir sini aja, rumahku udah takdir cocoknya tossa."


Kata Fajar menyedihkan.


"Tapi di depan juga jalan kan buat lalu lalang kendaraan, kalau ada mobil parkir takutnya ngga bisa buat lewat mobil lain."


Ujar Balqis yang kemudian masuk ke dalam untuk kembali ke dapur dan meneruskan kegiatannya.


"Opor dari emak?"


Tanya Fajar.


Balqis mengangguk.


"Iya nih banyak banget, sampe kayak lebaran."


Kata Balqis.


"Ya udah aku makan di sini sajalah, dari tadi sibuk parkir ngga selesai-selesai."


Ujar Fajar.


"Ya udah, nanti sama Bara aja tuh makan, Aki mah pulang nanti habis Isya."


Bersamaan dengan itu pintu kamar Albar di loteng terbuka pelahan.


"Hai Jur Bro."


Sapa Albar, kali ini dengan gaya anak rap.


"Dia ganteng tapi aneh banget ya Qis."


Kata Fajar.


"Ya gitu deh."


Sahut Balqis.


Albar turun dari loteng dengan cara melompat, lalu kali ini bergaya pegang gitar.


"Gimana? Udah cocok belum misal naik panggung?"


Tanya Albar pada Fajar yang melongo melihat ke arahnya.


"Ya naik doang."


Kata Fajar lesu.


"Kenapa Jur, kok muka kamu lepek?"


Tanya Albar.


Jiaaah lepek, dikira rambut belum keramas apa bagaimana?


"Mobil kamu tuh Ra, bikin otakku rasanya mau meleleh."


Fajar duduk di teras dekat sumur.


"Jur, kamu besok beli kandang yang benerlah, ini mah kandang ayam dipakein kucing, bolak balik nggelinding kandangnya di tubruk doang."


Kata Albar sambil menyusul duduk di dekat Fajar.


"Ya lagian kamu nyuruh beli kandang kucing mendadak, tadi ngga sekalian nyari."

__ADS_1


"Ah iya lupa."


Albar tepuk jidat.


"Gimana itu mobilnya, pusing aku, mobil ngga muat diparkir depan rumah, nutupin pintu. Orang mau ambil jahitan di Emak bingung lewat mana."


Kata Fajar.


"Ah gitu ya."


Albar mantuk-mantuk.


"Rumahku kecil Ra, halamannya juga sempit, jadi cuma cukup buat parkir tossa."


Kata Fajar.


"Lha emangnya ngga ada lahan nganggur di sekitar situ?"


Tanya Albar.


"Ada, selang lima rumah, tapi kan itu mobil mahal Ra, terlalu jauh dari rumah nanti ada yang iseng gimana?"


"Isengin lagi lah."


Sahut Albar.


"Hadeeeh, maksudnya ada yang nyuri, ilang."


Kata Fajar.


"Ya udah beli lagi aja kalo ilang."


Sahut Albar lagi.


Fajar menatap Albar lalu meletakkan tangannya di jidat Albar.


"Enggak anget tapi kamu tuh kalo ngomong suka kayak lagi nge fly."


"Lha gimana, kalo ilang ya tinggal beli lagi, kan masih banyak dealer jual mobil."


"Ya Allah, kamu tuh punya pohon duit apa punya Bank Indonesia sih Ra."


Fajar geleng-geleng kepala.


"Hmm... Aku mah remahan gorengan, kamu belum lihat orang tajir melintir yang kalau beli tas doang bisa buat beli fortuner enam sih."


Kata Albar.


Mendengarnya Fajar langsung geleng-geleng kepala.


Kayaknya, Wak Jupri yang dulu dikabarkan melihara tuyul saja mentok beli mobil Avanza, ini Albar cerita ada yang beli tas harganya sama seperti fortuner enam, wah wah... kalau begitu orang ngepet saja kalah telak.


"Serius itu tas harga segitu?"


Albar mengangguk.


"Kamu coba lihat crazy rich Surabaya, tuh dia jam tangannya aja bisa buat beli fortuner tiga."


"Hah?"


Fajar melongo.


Kayaknya Fajar harus berapa ratus tahun dulu jualan ayam kalau mau beli jam tangan doang harga milyaran, yang ada duit belum kumpul dia sudah mati. Wkwkwk...


"Ada tuh temenku males pergi-pergi akhirnya minta Bank tempat dia nabung naruh mesin ATM di rumahnya."


"Ha?"


Fajar makin melongo.


"Intinya, aku ini cuma remahan-remahan dari crazy rich itu Jur, belum sekelas mereka."


Albar merangkul Fajar sambil menepuk-nepuk bahunya.


Fajar menghela nafas.


"Bener yah, dunia ini ngga adil, aku kebagian di giles sampe tipis."


Kata Fajar merenungi nasibnya.


"Mau beli pick up biar berani nembak Dinda saja kayaknya ngga nyampe-nyampe."


Gumam Fajar.


Dan Balqis yang mendengar kalimat terakhir Fajar jelas saja langsung mengulum senyum.

__ADS_1


Oh oh... Ternyata ada cinta pada Bang Fajar untuk Dinda.


**----------**


__ADS_2