
"Masalahmu apa sebetulnya Ben?"
Albar menatap tajam Beni yang tampak berdiri malas di depan Albar.
"Apa ini karena urusan Balqis, lalu kamu jadi bikin orang lain kehilangan pekerjaan?"
Tanya Albar lagi.
Beni tampak balas menatap Albar.
"Sebetulnya kamu ngomongin apa Bar? Aku nggak ngerti."
Kata Beni.
Albar mendengus.
"Kakak teman Balqis kehilangan pekerjaannya, itu pasti karena kau kan? Kau mempengaruhi Pamanmu?"
Beni terlihat tertawa sinis.
"Yang benar saja, apa kau punya bukti menuduhku begitu? Kamu pikir keuntunganku apa?"
Beni mengibaskan tangannya.
"Sudahlah, buang waktu ngomongin hal ngga penting, kamu mabuk harusnya nggak perlu ke kampus."
Ujar Beni pada Albar.
Albar yang merasa Beni sengaja memancing emosi jadi kesal, ditariknya kerah kemeja Beni lalu mencengkeramnya.
"Jaga kelakuanmu Ben! Setidaknya agar sesuai dengan pendidikanmu saat ini."
Albar mendorong tubuh Beni seraya melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah kemeja Beni.
"Kampungan tahu kau!!"
Kata Albar seraya berlalu.
Beni tampak membenahi kerah bajunya yang lecek karena ditarik dan dicengkeram Albar barusan.
Matanya menatap sengit Albar yang berlalu menjauhinya.
Ada kesal yang mendalam di sorot matanya, belum pernah selama ini ia dikalahkan dan perlakukan seperti itu sejak dulu.
Albar Harrys...
Beni mengepalkan telapak tangannya. Rasa iri dan dengki dalam hati Beni kini terbakar amarah yang membuat dadanya terasa bergemuruh.
Albar sendiri yang kini menjauh tampak berjalan menuju kelas.
Mulai hari ini, Albar sudah berniat sungguh-sungguh untuk menyelesaikan studinya secepat mungkin.
Tahun depan ia akan bergabung di perusahaan Mami, dan akan menikahi Balqis, Albar membulatkan tekadnya.
"Hai Bar."
Tiba-tiba seorang gadis cantik menghampiri Albar.
Dia adalah putri salah satu teman Maminya Albar di Perth.
"Johana."
Albar tersenyum lebar.
Hubungan keduanya memang cukup baik karena dulu saat sekolah mereka sempat beberapa kali bersama satu kelas.
Johana memeluk Albar dan juga cipika-cipiki, dan tentu saja momen yang tanpa sengaja di lihat Beni itupun langsung dibidik dengan kamera ponsel milik Beni.
Keduanya terlihat berbincang sedikit serius, Beni terus memperhatikan gerak gerik mereka dari posisinya kini melihat keduanya.
Beni mengambil gambar Albar dan gadis cantik itu beberapa kali lagi saat melihat Albar dan gadis itu seolah begitu dekat mengobrol.
Beni tersenyum miring melihat keduanya kini tampak berpelukan dan cipika-cipiki kembali sebelum kemudian akhirnya berpisah.
__ADS_1
Seolah mendapatkan senjata pamungkas, Beni rasanya ingin tertawa jahat dengan sepuas-puasnya.
Ah yeah, tentu saja, kapan lagi ia bisa mengalahkan seseorang sekelas Albar, apalagi ini untuk urusan seorang gadis seistimewa Balqis.
Beni kemudian berjalan menjauh seraya mulai mengetik pesan untuk ia kirimkan pada seseorang.
Dan setelah pesan itu selesai diketiknya, Beni pun mengirimkannya ke nomor gadis yang telah membuatnya jadi segila sekarang.
[Yakin dia setia? Tidak ada yang pernah menjamin seorang idol bisa setia]
Tulis Beni dengan gambar Albar yang berpelukan dengan Johana.
"Bye Al, see u."
Johana melambaikan tangan pada Albar sambil berlalu.
Albar sendiri meneruskan langkahnya menuju kelas.
Johana akan bergabung di perusahaan Mami? Aku baru tahu jika dia memiliki saham cukup besar ternyata di perusahaan Mami. Batin Albar sambil terus melangkah.
**------------**
Balqis dan Dinda berangkat ke kampus diantar oleh Bang Pardi menggunakan mobil yang biasa digunakan Albar.
Sementara Eti dan Po diantar Bang Zul menggunakan mobil lainnya.
Balqis dan Dinda sedang mengikuti acara mahasiswa baru saat sebuah pesan dari Beni masuk.
"Nanti saja Qis."
Kata Dinda mengingatkan Balqis yang hendak membuka hp nya.
Balqis terlihat tersenyum malu karena ketahuan tak bisa menahan diri setiap kali ada pesan masuk.
Ia berharap itu pesan dari Albar, jadi rasanya tak sabar untuk segera membukanya.
Balqis kembali fokus dengan kegiatannya lagi, memperhatikan apa saja yang kini tengah disampaikan perwakilan pihak kampus untuk para mahasiswa baru.
Dinda bisik-bisik dengan Balqis.
"Kalau di kampung mah banyak, di sini kayaknya harus beli deh Nda."
kata Balqis.
Dinda mengangguk.
"Nanti minta tolong ke Bang Zul saja."
ujar Dinda.
"Ah iya bener."
Sahut Balqis.
Mereka pun kemudian tampak bersama mahasiswa baru lainnya saling berkenalan satu sama lain, mengobrol saling bercerita dari mana asal usul mereka dan lain-lain.
**-------------**
Sementara itu di cafe, Flo terlihat mondar-mandir di lantai dua dengan tangan memegangi hpnya.
Undangan itu, haruskah ia datang?
Jika datang ia harus pakai baju apa?
Ia harus bawa apa?
Flo tak pernah tahu acara semacam itu.
Ah, apakah itu mirip dengan acara pengajian saat Aki meninggal?
Ya semacam itulah.
Flo kemudian melihat Lisa yang naik ke lantai dua.
__ADS_1
"Lis."
Flo langsung memanggil Lisa.
Tampak Lisa terburu mendekati si boss.
"Ya Non."
"Lis, sini."
Flo menarik tangan Lisa untuk bicara serius.
"Ada apa Nona Flo?"
Tanya Lisa bingung.
Flo menghela nafas sejenak, lalu...
"Kalau kita datang ke acara tasyakuran, apa yang harus kita bawa? Kita pakai baju apa?"
Flo terlihat sangat serius.
Lisa membulatkan matanya.
Kenapa ke acara tasyakuran saja Nona nya itu harus tanya-tanya? Apa dia sebelumnya sama sekali tak pernah datang ke acara semacam itu atau bagaimana? Batin Lisa.
Flo tampak masih menunggu Lisa menjawab, saat akhirnya Lisa menatap Flo dan kemudian menjelaskan.
"Nona Flo bisa pakai gamis atau kaftan atau tunik dengan jilbab sederhana. Nona Flo untuk buah tangan boleh membawa sekotak kue atau parcel buah."
Ujar Lisa.
"Cuma itu?"
Tanya Flo.
Lisa mengangguk.
Flo terdiam sambil mantuk-mantuk, lalu...
"Baiklah Lis, thanks ya..."
Flo tersenyum lebar.
Lisa nyengir.
Flo kemudian meraih hp nya, dan segera menuju kamar.
Ia mencari butik yang banyak menyediakan tunik cantik.
Ah sial, Flo sama sekali belum pernah beli pakaian semacam itu.
Flo akhirnya harus mencari informasi sana sini lebih dulu, kira-kira butik yang harus ia kunjungi, dan salon, ah dia tentu harus melakukan ini itu juga di salon.
Flo tiba-tiba jadi harus serepot itu, padahal selama ini ia hidup menjadi perempuan rasanya sangat santai.
Sama sekali tak pernah memikirkan perawatan, memikirkan makeup, memikirkan gaun dan lain sebagainya.
Setelah sekian banyak manajer artis yang Flo hubungi hanya untuk bertanya soal butik yang menyediakan tunik yang bagus-bagus, akhirnya Flo memutuskan mengikuti salah satu saran manajer artis yang cukup dekat dengan Albar.
Artis muda yang berhijab, yang sekarang telah menikah dan juga mulai memutuskan tak lagi menyanyi dan hanya main sinetron religi saja.
Flo sejenak keluar dari kamar, memanggil Lisa lagi yang baru saja menemui pelanggan di lantai dua itu yang kini tampak beberapa tante cantik berkumpul.
"Lis, aku mau cari baju dan ke salon, mungkin aku akan langsung ke tempat acara ya."
Kata Flo.
Lisa mengangguk.
"Iya Nona Flo."
**---------------**
__ADS_1