
Balqis menatap nanar laptopnya, terlihat banyak berita soal Albar yang berkunjung ke pemakaman dan usut punya usut ada kemungkinan berkaitan dengan masa lalu orangtua sang artis.
Nara sumber yang diwawancarai menyebut jika makam yang dikunjungi adalah korban kecelakaan tujuh belas tahun lalu.
Foto makam yang di kunjungi Albar juga jadi viral. Makam dengan nisan bertulis nama pak Nurdin.
Balqis tangannya gemetar, tubuhnya kini serasa lemas.
"Jadi itu Uwak saya dulu meninggal di tabrak sama Orangtua Albar Harrys."
Suara si narasumber terngiang-ngiang.
Balqis dengan gemetar menarik laci meja belajarnya, diraihnya map yang dulu ia temukan di kamar Aki.
Map berisi surat-surat saat Abah Mang Kus mengadopsi dirinya.
Nurdin...
Nurdin...
Bukankah nama itu adalah nama Ayah Balqis? Jadi Ayah Balqis sudah meninggal? Dia sudah meninggal?
Balqis lemas bukan kepalang.
Balqis membuka map itu, dengan tangannya yang gemetar ia meraih berkas tentang proses adopsinya.
Balqis menangis, ketika ia benar melihat nama almarhum Nurdin di sana.
"Kenapa bisa begini? Kenapa?"
Balqis menangis seorang diri seraya memegangi dadanya yang begitu sakit mendapati kenyataan itu.
"Apa Albar mencoba menebus kesalahan orangtuanya datang ke sini?"
"Apa dia memberikan sesuatu?"
"Bagaimana dengan anak korban? Apa korban memiliki anak?"
Pertanyaan wartawan gosip menyerbu si narasumber yang mengaku sebagai keponakan sang korban.
Balqis mematikan laptopnya, menghambur ke tempat tidur dan meneruskan menangisnya di sana.
Balqis menarik kalung dengan liontin namanya dari Albar, membuat kalung itu terlepas, dilemparnya jauh seolah ia sungguh enggan memakainya lagi.
Jadi Albar sengaja melakukan semuanya karena dia sudah tahu tentang kecelakaan itu?
Dia baik padaku karena dia tahu orangtuanya membunuh kedua orangtuaku?
Dia pikir dengan dia berbuat baik lalu semua akan baik-baik saja?
Begitukah?
Balqis merasa telah dijebak cinta Albar.
Andai ia tahu lebih awal jika orangtua Albar lah yang menyebabkan ia berakhir diadopsi oleh supir keluarga Albar, pasti Balqis tak akan pernah mengijinkan Albar masuk sejengkal pun dalam hidupnya.
Balqis pikir ia diadopsi karena orangtuanya tak mampu atau kenapa, Balqis berharap mereka masih hidup dan suatu hari Balqis bisa menemui mereka.
__ADS_1
Balqis hanya ingin menunggu hingga lulus sekolah saja, supaya Balqis juga tetap bisa berterimakasih pada Aki dan Abah.
Balqis memegangi dadanya yang begitu sakit.
Sungguh rasanya hancur lebur hati Balqis mendapati kenyataan ini.
Kenapa harus Albar? Kenapa?
**------------**
Dinda terlihat menatap pintu tempat pengajian Ustadzah Nur dengan cemas, tak biasanya Balqis belum muncul hingga acara pengajian hampir selesai.
"Apa Balqis sakit?"
Tanya Eti berbisik agar tak sampai mengganggu yang lain sedang mendengarkan Bu Nyai yang mengisi jadwal ceramah hari ini.
Isi ceramahnya adalah tentang kewajiban orangtua terhadap anak, dan kewajiban anak terhadap orangtua.
"Kamu ngga bawa hp Nda? Aku tadi hpnya kutinggal, ngedrop jadi aku chas."
Kata Eti lagi.
"Udah aku chat tapi ngga dibaca."
Kata Dinda.
"Ssstttt... kalian ngaji apa mau ngobrol."
Ujar Po pada Eti dan Dinda.
Eti menarik jilbab Po.
Kesal Eti.
Po terlihat mulutnya membentuk huruf O.
"Nanti aku ke rumah Aqis deh."
Putus Dinda akhirnya.
Eti mengangguk setuju.
"Iya Nda, kamu coba lihat Aqis kenapa, soalnya aku kayaknya ngga bisa ke rumah Aqis karena habis maghrib ada tamu dari keluarga cowoknya Teh Silfa."
Ujar Eti.
"Teh Silfa mau nikah?"
Tanya Dinda.
Eti mengangguk.
"Aku juga ngga ikut Nda, perutku mules nih."
Ujar Po.
Dinda menghela nafas.
__ADS_1
"Iya... Iya... ngga apa, nanti aku aja sendirian yang ke rumah Balqis."
Ujar Dinda.
Po dan Eti mengacungkan ibu jarinya.
**------------**
Flo masuk kamar Albar tanpa mengetuk pintu, Albar terlihat sedang sholat maghrib.
Flo menghela nafas, melihat Albar yang sebetulnya sudah banyak berubah lebih baik begitu mengenal Balqis membuat Flo sangat menyayangkan jika Albar dan Balqis kelak tak bisa bersama.
Flo meletakkan pasport dan beberapa berkas tentang pembatalan kontrak serta pernyataan Albar bersedia membayar ganti rugi atas pembatalan kontrak secara sepihak di atas meja.
Tampak gadis itu menyempatkan diri menatap Albar lagi yang begitu khusuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, ada haru menyusup dalam relung hati Flo, haru sekaligus sedih.
Semoga ada jalan terbaik untuk kalian bersatu lagi kelak Bar. Doa Flo dalam hati dengan tulus.
Flo baru akan keluar dari kamar Albar, ketika sepupunya itu memanggil.
Flo menghentikkan sejenak langkahnya, menoleh ke arah Albar yang menatapnya masih dari atas sajadah.
"Kamu ikut ke Perth kan Flo?"
Tanya Albar.
Flo menggeleng.
"Aku tetap di sini, aku betah di Indonesia, aku akan menjalani hidup sebagaimana apa yang aku ingin jalani."
Ujar Flo.
Albar menghela nafas.
"Kau pergilah sendiri, saat sudah tenang kau bisa kembali lagi ke sini, aku nggak akan ke mana-mana."
Kata Flo lagi.
Albar terdiam menatap sepupunya.
"Kau ingat, aku selalu ada di pihakmu, jadi kelak saat butuh dukunganku lagi, pulanglah."
Tambah Flo.
"Besok pihak maskapai akan menjemputmu, aku tak bisa mengantar, hati-hati."
Kata Flo yang kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Albar.
Albar beralih menatap tempat sujudnya.
"Aku hanya ingin tak menyakiti Balqis lagi."
Lirih Albar seraya menitikkan air mata.
"Aku titip dia ya Allah, aku titip dia."
Doa Albar pula.
__ADS_1
**------------**