Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
155. Selamat Pagi Qis,


__ADS_3

Balqis baru selesai membaca Al-Qur'an setelah sholat subuh, manakala ia mendengar notif pesan masuk di hp nya yang ia sengaja letakkan di atas kasur pada posisi tak jauh dari ia mengaji.


Cepat Balqis menyimpan Al-Qur'an yang baru selesai ia baca itu di atas rak paling atas. Ini adalah sesuai yang Balqis dengar dari apa yang diajarkan Ibu Ustadzah Nur, bahwa salah satu cara memuliakan Al-Qur'an juga dengan cara meletakkannya di tempat yang lebih tinggi dari benda lainnya, termasuk buku-buku lainnya.


Setelah Balqis meletakkan Al-Qur'an miliknya itu, cepat Balqis meraih hp nya, tentu saja harapan Balqis adalah Albar yang mengirim pesan, karena seharian kemarin benar-benar Albar tak ada kabar sama sekali.


Balqis ingin sekali mengirim pesan lebih dulu pada Albar, tapi Balqis takut ternyata Albar sedang sibuk di kuliahnya, atau sedang ada masalah, atau sedang mulai masuk perusahaan Maminya.


Ya, Albar pernah cerita pada Balqis bahwa ia akan masuk perusahaan Maminya, akan mulai fokus belajar bisnis dan menyelesaikan study.


Ah'...


Andai Balqis tak mendengar Kak Flo cerita bahwa Albar akan pulang, pasti Balqis tak perlu segalau sekarang.


Ia pasti akan sangat mengerti Albar dalam posisi yang mungkin tidak sempat memberinya kabar karena kesibukannya dan kegiatannya yang pastinya menuntutnya untuk fokus.


Tapi...


Karena kabar dari Kak Flo soal Albar akan pulang itulah, justeru menjadi tanda tanya dalam diri Balqis.


Kenapa mau pulang tak kasih kabar?


Kenapa tidak bicara pada Balqis?


Kenapa sekarang bahkan tak ada kabar sama sekali?


Kenapa?


Lalu dianggapnya apa Balqis ini?


Tak tahukah Albar jika Balqis khawatir?


Tak tahukah Albar jika Balqis cemas dan juga sedih?


Tak tahukah?


Balqis terduduk lemas di sisi tempat tidur manakala pesan yang masuk ternyata dari Teh Inggit di kampung yang mengabarkan Cimot sakit dan akan di bawa ke klinik hewan di kota.


Balqis dengan lemas membalas pesan Teh Inggit.


[Nanti Balqis transfer ya Teh untuk Cimot selama perawatan]


Pesan terkirim.


Meski Balqis tahu Teh Inggit mengabarinya soal sakitnya Cimot bukan untuk minta uang, tapi Balqis tentu harus tahu diri jika Cimot sudah dijaga dan dirawat Teh Inggit yang pasti itu cukup merepotkannya.


[Tak usah Qis, kamu juga banyak kebutuhan di sana. Kuliah saja yang fokus, jaga kesehatan juga]


Balas Teh Inggit cepat.

__ADS_1


Balqis menghela nafas.


Ya...


Mereka yang katanya bukan saudara asli Balqis, nyatanya tetap sebaik itu.


Balqis juga tetap merasa bahwa ikatan hati Balqis dengan mereka tetap sama saja, baik sebelum dan sesudah tahu jika ia ternyata bukan anak Mang Kus.


Tok...


Tok...


Tok...


Balqis sedang membalas pesan Teh Inggit lagi, ketika terdengar di luar pintu suara ketukan yang khas, yang Balqis hafal betul itu Dinda.


Dinda selalu mengetuk pintu kamar Balqis dengan sedikit ada jeda di setiap ketukannya, itu membuat Balqis bisa membedakan ketukan Dinda dengan yang lain.


"Masuk Nda..."


Kata Balqis.


Dinda yang mendengar sahutan Balqis dari dalam kamar membuka pintu kamar Balqis dan tampak melongok sebelum akhirnya masuk kamar.


"Hari ini jadwal Aqis masak sarapan, mau aku gantikan?"


Balqis tampak terkesiap manakala mendengar jadwal masak pagi hari ini ternyata jatuh padanya.


"Ya Allah, aku sampai lupa Nda."


Kata Balqis yang setelah membalas pesan Teh Inggit lekas berdiri dan melepas mukenahnya, melipatnya dan meletakkannya di rak.


"Kalau kamu lagi tidak enak badan, aku gantiin aja Qis."


Ujar Dinda pengertian.


Balqis menoleh pada Dinda.


Sahabat yang sudah macam saudara baginya itu memang sangat tulus menyayanginya.


Balqis tampak tersenyum sambil menggeleng.


"Aku sehat kok Nda, tidak apa-apa, aku yang masak."


Kata Balqis sambil kemudian beranjak menghampiri Dinda.


"Kalau begitu aku bantuin saja ya."


Kata Dinda seraya meraih lengan Balqis.

__ADS_1


"Ah yah, boleh."


Balqis setuju.


Merekapun keluar dari kamar Balqis, sementara hp Balqis dibiarkan tergeletak saja di atas kasur.


"Hari ini kita diundang makan siang Kak Flo di cafenya."


Ujar Dinda pada Balqis begitu Balqis menutup pintu kamar.


"Oh yah? Kok aku tidak tahu?"


Tanya Balqis kaget lagi.


Dinda mantuk-mantuk.


"Kak Flo titip pesan ke Eti pas nanya jadwal kerjanya."


Kata Dinda.


"Ooh gitu."


Balqis mantuk-mantuk.


Balqis dan Dinda berjalan menuju anak tangga untuk turun ke lantai bawah.


"Datang kan Qis? Tidak enak kalau tidak datang, Kak Flo kan Bai sekali ke kita."


Ujar Dinda.


Balqis tersenyum.


"Ya, kenapa tidak datang? Tidak ada alasan untuk tidak datang bukan?"


Kata Balqis yang membuat Dinda langsung tampak lega.


Mereka menuruni anak tangga sambil bicara soal mau masak apa hari ini.


Sementara di kamar Balqis, hp nya terlihat ada panggilan masuk.


Volume suara dering hp nya yang tak seberapa keras membuat suaranya tak bisa keluar kamar.


Hp terus berdering, dengan layar hp menunjukkan sebuah nama.


Nama yang Balqis seharian kemarin tunggu kabarnya.


"ALBAR"


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2